NABIRE - Ancaman musibah alam tak menentu, kapan saja bisa menghantam warga. Gempa dan tsunami yang menghancurkan Aceh, Nabire, Biak Utara dan terakhir di Palu merupakan bencana yang alam datang menghantam daratan sehingga membawa duka nestapa dan kehancuran.Selain musibah yang datang tiba-tiba seakan-akan laut mengamuk ke darat sehingga muncul tsunami, ancaman yang satu ini pelan tetapi pasti. Ancaman abrasi pantai, tidak nampak cepat seperti tsunami karena laut mengikis bibir pantai ketika musim ombak. Gelombang laut yang menghantam darat, ketika air kembali ke laut, pasir darat juga ikut serta.Abrasi pantai terasa setelah beberapa tahun kemudian, ketika melihat pohon atau rumah warga yang agak jauh dari pantai beberapa tahun kemudian, rumah sudah berada di depan laut dan beberapa pohon di depannya habis dibawa arus laut setelah dirobohkan oleh pukulan gelombang laut.Kepala Kampung Samabusa, Jefri Raweyai saat dijumpai di kediamannya, pekan lalu menuturkan, tiga tempat ibadah, Gereja Bethel Indonesia (GBI) Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua dan Gereja Katolik yang semula dibangun jauh dari pantai, tetapi sekarang sudah berada dipinggir pantai. Pohon dan kelapa yang dulunya banyak di pinggir pantai, sekarang sudah habis karena abrasi.Pantai sepanjang 800 meter dari Tanjung Ketapang hingga muara Samabusa sudah melengkung jauh ke darat. Dulu, pantai ini tidak seperti sekarang, tetapi akibat pukulan ombak terus, bibir pantai Samabusa sudah melengkung jauh. Raweyai menambahkan akibat abrasi yang sedang terjadi yang terus ke arah darat di pantai Samabusa, tiga tempat ibadah, fasilitas umum seperti kantor perhubungan bersama rumah warga kini mulai dalam posisi ancaman abrasi jika tidak ditangani cepat.Kepala Kampung Samabusa, Jefri Raweyai mengatakan pihaknya bersama Kepala Kampung Air Mandidi Samabusa sudah menyampaikan ancaman abrasi pantai ini kepada pemerintah daerah, namun selama itupula tidak ada tanggapan dari pemerintah. Kepala kampung dan tokoh masyarakat malah jadi bingung, apakah ancaman abrasi pantai yang sedang terjadi di Samabusa dan Air Mandidi ini juga sudah dilihat oleh pemerintah atau tidak.Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Distrik (Musrenbangdis) Distrik Teluk Kimi, beberapa tahun silam aparat kampung, Bamuskam, kepala kampung, tokoh masyarakat dan aparat Distrik Teluk Kimi sudah menyampaikan ancaman abrasi tersebut sebagai usulan masyarakat dari bawah kepada pemerintah melalui staf Bappeda (sekarang BPPRD) yang menggelar Musrenbangdis tersebut. Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda sehingga diduga usulan tersebut ‘jatuh’ di tengah perjalanan dari Samabusa – Nabire. (ans)