Astrajam Bangan
Cerpen : Pace Munib

Cerpen : Pace Munib
Rakyat Indonesia itu unik. Ada kelompok rahasia yang suka tampil penuh aksesoris. Nyaris seperti ODGJ. Tapi sebenarnya tidak gila. Ada yang suka bawa gayung, dan segala betak betuk alat dapur. Pakaiannya penuh tambalan. Yang sering tak terduga mereka sering bicara hal-hal yang melampaui tema orang umum. Kalau di film Cina, kelompok ini sejenis sekte pengemis yang penampilannya aneh dan compang-camping. Kalau di aliran torekot itu masuk kategori Torekot Malamatiah. Yang membungkus diri dalam penyamaran total.
Astrajam Bangan adalah salah-satu dari anggota kelompok ini. Di desaku ia berhasil merekrut Iramsa. Setelah direkrut, Iramsa juga berpenampilan seperti Astrajam Bangan. Bedanya ia lebih condong ke kipas bambu yang sering dibawa. Beda dengan Astrajam yang suka membawa tempayan air dari gerabah yang ukurannya besar.
Fenomena ini berasal dari strategi ketiga dari lima strategi utama selama 16 tahun perang gerilya Pangeran Sambernyowo melawan pasukan VOC di bumi Mataram.
Kelompok Astrajam Bangan dan Iramsa mereka melestarikan tradisi gerakan Ghendengan (gila). Kalau di Papua ada sosok Jenderal Mata Kail. Yang jaket tebalnya penuh lambang tempelan berbagai ukuran kail . Dari kail kecil sampai kail besar, Yang dominan tempelan alat mrmancing. Di daerah lain juga sama. Selalu saja ada muncul sosok aneh menyerupai orang gila tapi tidak gila.
Aku juga pernah bertemu kelompok Dhemitan (hantu). Pasukan ini sama sekali diluar alur orang kebanyakan berpikir. Mereka bisa bersembunyi dari jalan pikiran orang ramai. Seperti kelompok sekte rahasia yang tak pernah terlintas di pikiran orang kebanyakan tapi mereka hidup nyata bersama-sama di tengah masyarakat. Kelompok ini terus ada, menjaga budaya nusantara dalam rapinya penyamaran. Bahkan penyamaran pasukan khusus atau serse mahir sekalipun pun sering ketahuan kesatuannya oleh Dhemitan. Kesempurnaan penyamaran Dhemitan ini memang seperti hantu betul.
Selain Gendengan dan Dhemitan juga ada Welutan. Kelompok ini licin seperti belut. Semenjak didirikan pada abad 18 dulu, pasukan welutan belum pernah tersergap musuh baik VOC maupun pasukan kerajaan sekutu VOC.
Kelompok Welutan bergerak licin seperti belut. Pasukan Marsose Belanda pun tak pernah punya kesempatan menangkap kelompok ini dalam perang yang lamanya 16 tahun. Sering kali telik sandi Londo Ireng melaporkan keberadaan mereka. Tapi ketika hendak dilacak pasukan Welutan sudah tak ada di tempat. Gerakannya cepat dan selalu waspada dari penyergapan. Pasukan Welutan ini seperti ada di mana-mana tapi selalu ada jalan keluar ketika hendak ditangkap Belanda.
Semua kelompok tadi terpatri dalam kekompakan luar biasa disebabkan adanya hukum Tijitibeh. Mati satu (siji) mati semua (kabeh), mukti (berhasil) satu mukti semua (kabeh). Pola gerakan mereka juga khas, yakni strategi makan bubur panas. Dari pinggir dulu, baru ke tengah. Atau desa menjajah kota. Tiba-tiba kota lumpuh sejenak dalam kendali mereka walau hanya dalam waktu tertentu. Ini pernah dipakai dalam serangan 1 Maret di Jogjakarta.
*
Pada momen tertentu Aku menemukan mereka di suatu rumah perkumpulan. Mereka sedang asyik diskusi dengan beberapa teman yang memiliki kesamaan gerakan. Menurut temanku yang rumahnya ditempati untuk berkumpul tiga kelompok itu, mereka setiap 35 hari melakukan pertemuan tertutup yang tempatnya digilir secara rahasia. Kali ini kebetulan bertempat di rumahnya. Letaknya di kampung kaki gunung yang asri. Alamnya masih udara segar dan lestari. Gemericik sungai jernih di bebatuan masih terdengar suaranya.
Saya melihat Astrajam dan Iramsa sedang duduk makan singkong bakar bersama anggota kelompok yang lain. Mereka menanggalkan atribut Ghendengan yang biasa dipakai saat di tempat umum. Mereka bercakap sepeti layaknya orang kebanyakan.
Ketika tatapan matanya bertatapan denganku yang juga sedang melihatnya, Astrajam tampak kaget.
"Orang itu siapa ? Apakah termasuk anggota kita ? " bisik Astrajam kepada temannya.
"Dia tamu kehormatan tuan rumah."
"Sepertinya saya mengenal dia. Kalau tidak salah namanya Ujang Abdul Qodir, Putra Pak Kiai Sobri."
"Kau ketemu dimana Jam."
"Dia pendatang baru di desa kita. Makanya saya kaget melihatnya disini. Takut dia cerita saya di orang desa. Penyamaran saya bisa jadi akan terbongkar. Percuma dong tahapan saya akan kembali ke nol lagi kalau ketahuan orang."
"Tidak akan. Dia bahkan orang puser. Dia lah yang tahu persis jumlah kita semua. Dan masing-masing level kita dia sudah tahu, Jam."
Iramsa hanya melongo saja mendengarkan percakapan Astrajam dan teman seniornya di divisi Welutan. Tak menyangka orang yang dikampung dikenal Kang Ujang itu adalah bagian darinya. Penampilannya hanya rakyat biasa yang tidak pernah tampil di desa. Kadang Ujang Abdul Qodir hanya keluar kalau ikut tazarus Alquran di meajid. Itu pun dia tidak ikut baca. Ia hanya ikut jagongan mimum kopi hitam dan makan jajanan kampung. Sama sekali tak disangka bahwa ia adalah bagian terpenting dari pelestarian tradisi Sambernyowoan ini. Para senior di wilayah mereka pun heran kenapa Tuan Rumah sangat menghormari sekali tamunya kali ini.
*
Memulai acara pertemuan ini tuan rumah membuka dengan bismillah dan sampurasun. Semua serempak menjawab rampes.
"Hari ini kami kedatangan salah satu puser. Tapi saya tak bisa menjelaskan semua tentang puser kita ini. Suatu kehormatan bagi kami semua. Bahkan tiga jenderal dari tiga divisi utama gerilya sudah berada di tengah-tengah kita karena puser inti ada disini. Sehingga pertemuan rutin kali ini menjadi sangat Istimewa. Dan entah sampai berapa dekade kedepan hal ini akan bisa terulang lagi. Antara tiga elemen : puser ,wedalan dan pasukan bisa berkumpul lengkap di tempat ini." ujar temanku dalam sambutannya.
Acara semalam dilanjutkan mengasah masing-masing jurus gemblengan, suatu tradisi kependekaran tua dari Situ Sipatahunan. Disana pasukan khusus tentara kerajaan kuna dilatih. Sebatas itu yang aku tahu. Tapi bahwa keluargaku berada di pusaran tengah gerakan ini, saya juga baru tahu. Hal ini akan saya banyak tanyakan kepada Abahku.
*
Sepulang dari acara Sambernyowoan, aku mencari celah waktu luang Abahku ? Seusai dia membacakan kitab kuning di depan santrinya yang tersisa belasan, aku menghadap.
"Bah aku mau minta waktu. Mau bicara sama abah penting." Aku menemui Abahku usai sembayang isa.
"Ada apa ? " tanya Abah. Aku kemudian menceriterakan semua hal yang terjdi ketika main ke rumah teman.
"Ohh itu. Memang begitu keadaannya. Dan artinya kita harus berkemas untuk pindah dari desa ini. Tadi pagi-pagi usai salat subuh Jenderal Dhemitan sudah menemui Abah di Langgar menginformasikan tempat baru untuk kita pindah kesana." Abahku membenarkan.
"Itu dimana Bah ? " tanyaku.
"Di Papua."
Barangkali ini ada hubungan dengan mimpiku ada Cenderawasih Emas yang terluka dan terbang rendah menujuku. Maka kepindahan keluarga kesana jangan-jangan terkait dengan mimpiku. Lama aku tercenung. Memikirkan serba kebetulan yang membingungkan ini.
"Kenapa Abah merahasiakan ini dari anak-anak Abah ? "
"Abah hanya melaksanakan wasiat dari orang tua Abah."
"Apa isi wasiat itu Bah ? "
"Belum waktunya Abah katakan. Tapi akan ada waktunya nanti."
"Jadi soal Ghendwegan, Dhemitan dan Welutan Abah juga tahu ? " tanyaku menyelidik.
Abah menganghuk kecil, suaranya pelan terdwngar.
"Tahu."
"Kenapa hal ini juga Abah tidak pernah menceritakan ini pada kami anak-anak ? " tanyaku heran.
"Rakyat merawat tradisi perang gerilya. Model perang baru yang tidak sama dengan model perang Adipati Unus, Sultan Agung menyerang Jakarta dan perang Trunojoyo."
"Tidak sama bagaimana Bah ? "
"Sebelum Sambernyowo, perang kita selalu perang puputan. Perang habis-habisan. Sejak Pangeran Sambernyowo, Perang Diponegoro, dan Perang Kemerdekaan. Semuanya Gerilya. Ada diselingi perang pena oleh Tjipto Adi Soerjo Pemimpin Redaksi Medan Prijaji. Dan sekarang mata dunia sedang menyaksikan Perang yang belum pernah ada sebelumnya."
"Perang yang belum ada sebelumnya. Maksud Abah bagaimana ? "
"Yang sedang berlangsung di Iran dan Ukraina. Ini perang totalitas menggunakan seluruh cara. Tak cukup senjata modern. Atau Ipleksosbudhankam. Melainkan kedalaman jiwa rakyat. Keteguhan prajurit beriman. Pengembangan senjata rudal dan drone. Mengunci jalur ekonomi. Kecerdikan strategi. Kalau mau bangsa kita kuat simak pola perang ini dan segera seluruh kekuatan kita menyusun pola perang baru ini di negara kita. Agar negara manapun segan menenyantuh Indonesia."
" Kalau perang melawan korupsi Bah ? "
"Ini masuk dalam perang pembentukan karakter bangsa. Ini perang kalian kedepan."
*
Malam telah larut ketika pembicaraan kami selesai. Esok sudah harus menuju pelabuhan Tanjung Priuk menunggu Kapal Putih yang ke Merauke. Masih perlu perjalanan panjang. Tiba-tiba Astrajam Bangan dan Iramsa muncul dalam pakaian rapi. Mereka melapor kepada Abah, ditugaskan komandannya ikut dalam ekspedisi. Menuju kota bawah tanah rahasia di dalam perut Pegunungan Tengah Papua.
Bagikan artikel ini



