NABIRE - Salah satu pasien positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Kabupaten Nabire bernama Umar Umrah selanjutnya dipanggil Umar yang sempat viral di Medsos lantaran unggahannya dalam video berdurasi 2 menit itu, dinilai tim gugus tugas Covid-19 Kabupaten Nabire, pasien yang bandel dan terlalu lebay. Artinya, yang bersangkutan banyak melakukan hal-hal diluar kebiasaan orang, apalagi ketika dinyatakan positif terpapar virus corona. Untuk diketahui, ciutan umar terkait video amatir yang dibuatnya dan pintanya untuk diviralkan itu berisikan keluhan dirinya akan tempat isolasi mandiri hingga kondisi terakhir mereka saat ini, yang dinilainya tidak layak.  Bahkan dari ciutan umar tersebut, banyak kalangan memberikan pendapat yang sangat beragam. Terkesan juga berlebihan, seperti terkait tidak disedianya tempat tidur layak lantaran hanya beralasan karton (dus), sementara ada juga yang berpendapat dan mempertanyakan dana Covid-19 yang jumlahnya miliaran rupiah, menurut natisen, namun kondisi mereka sangat memprihatinkan.  Menyangkut hal tersebut, pihak pemerintah melalui tim gugus tugas memberikan klarifikasinya. Satu poin yang didapat yakni, pasien atas nama Umar itu terkesan lebay dan bandel. Artinya kerap melakukan hal-hal diluar mekanisme managemen isolasi mandiri yang ditetapkan pemerintah.  Seperti diantaranya, sering keluar dari tempat isolasi dengan berbagai alasan, termasuk pulang ke rumah dan kontak dengan keluarga secara langsung, yang tentunya hal itu tidak diperbolehkan. Selain itu, sosok Umar juga kerap melanggar peraturan dalam penerapan isolasi mandiri. Pengakuan ini seperti disampaikan Jubir Covid-19 Nabire, dr. Frans Sayori, dalam keterangannya.  Dan paling disesalkan pihak atau tim medis Covid-19 pada saat dilakukan pemeriksaaan seperti rapid test mereka tidak jujur sebelumnya. Seolah-olah tidak percaya akan tugas yang dilaksanakan pihak medis, sehingga jadi pertanyaan sampai saat ini bahkan ketika dilaksanakan rapid tes terhadap keluarga  Dijelaskan dr Sayori, penyebab mengapa pasien Covid tersebut memilih tempat isolasinya sendiri, kemudian kondisi tempat tidurnya seperti demikian, itu karena kebiasaan (doktrin) mereka sendiri yang memang sudah sering mereka lakukan sebagai bagian dari syiar agama. “Mereka ini kelompok yang punya doktrin khusus, mereka enjoy dengan kondisi mereka seperti itu, yaitu makan bersama-sama disatu tempat/wadah, minum satu gelas, tidur dengan kondisi seperti itu, dan itu biasa mereka lakukan sebagai bagian dari solidaritas saat melakukan syiar agama dari daerah ke daerah, dan itu untuk menjaga kebersamaan mereka,” urai dokter Sayori seperti dilansir media online. Lebih lanjut dokter Frans mengatakan, pemerintah sudah berupaya namun untuk merubah kebiasaan mereka tidak bisa serta merta. “Kita coba ubah perilaku hidup bersih sehat mereka dengan menyiapkan makanan per kotak sehingga mereka makan sendiri-sendiri, mengurangi kontak fisik. Posisi tidur mereka dengan tidur seadanya, memang merubahnya agak susah karena kebiasaan mereka, walaupun dari sisi kesehatan tidak baik karena mereka masih dalam pengobatan,” kata dokter. Ditambahkan, masyarakat mungkin belum paham kondisi riil mereka, kebiasaan mereka, sehingga masyarakat salah persepsi. Padahal bapak Bupati dan tim Satgas sudah memikirkan hal itu sebelumnya, tapi perlu proses untuk mengubah perilaku orang. Dokter Sayori mengatakan, beberapa hari kemarin, mereka sudah bisa diyakinkan (diberi pemahaman) untuk tidur diatas kasur, sambil merubah perilaku hidup bersih mereka sehingga dalam perawatan dan pengobatan, obatnya bisa memberi reaksi tubuh untuk pemeriksaan swab, agar hasilnya negatif. Sementara terkait pengobatan mereka, dokter Frans mengatakan sudah dijadwalkan setiap tim untuk memberikan obat selama 14 hari secara bergantian sambil menunggu swab test. Jika kedepannya hasil positif Covid-19 di Nabire bertambah, pemerintah daerah akan menyiapkan satu tempat yang lebih nyaman seperti rumah sakit darurat sesuai pedoman. Sebagai informasi, tempat isolasi bagi para pasien Covid-19 Nabire berlokasi di Sanoba. Jika sebelumnya ada dua tempat isolasi di Sanoba dan Girimulyo, maka pasien yang sebelumnya diisolasi di Girimulyo, dipindahkan ke Sanoba sehingga memudahkan pengawasan, baik terkait kesehatan (medisnya) maupun makanan untuk mereka yang diisolasi tersebut.(wan/ans)