Dampak Pandemi Corona, Mutu Siswa Turun Dan Nyaris Putus Sekolah
NABIRE – Akibat (dampak) pandemi virus Corona yang menghantam penduduk dunia, termasuk Indonesia – Papua sejak pertengahan Maret tahun lalu, kualitas belajar anak-anak usia sekolah (mutu siswa) menurun dan nyaris putus sekolah. Dampak dari itu tidak belajar tatap muka di sekolah telah menimbulkan tantangan bagi orang tua, guru, dan siswa itu sendiri dan terjadinya ekspolitasi anak meliputi fisik, emosional dan seksualitas.

NABIRE – Akibat (dampak) pandemi virus Corona yang menghantam penduduk dunia, termasuk Indonesia – Papua sejak pertengahan Maret tahun lalu, kualitas belajar anak-anak usia sekolah (mutu siswa) menurun dan nyaris putus sekolah. Dampak dari itu tidak belajar tatap muka di sekolah telah menimbulkan tantangan bagi orang tua, guru, dan siswa itu sendiri dan terjadinya ekspolitasi anak meliputi fisik, emosional dan seksualitas.
Pembelajaran melalui online juga menjadi tantangan tersendiri di Papua, hanya 25 persen di wilayah Maluku dan Papua mendapat pelayanan internet yang baik, selebihnya kurang. Akibatnya terjadi ketimpangan pendidikan di Papua termasuk Nabire.
Oleh sebab itu, Yayasan Noken Papua bekerjasama dengan UNICEF tengah mendorong pemerintah dan sekolah melalui Program Siap Kembali Belajar (PIJAR). Lewat program ini, Yayasan Noken Papua bermitra dengan pemerintah daerah dan bekerjasama dengan Unicef mengajak untuk membuka kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan tatap muka, dengan memperketat Protokol Kesehatan (Prokes) di masing-masing sekolah.
Yayasan Noken Papua bekerjasama dengan Unicef launching (meresmikan) Program Siap Belajar Kembali (Pijar) kegiatannya di Aula Kantor Bupati Nabire, Senin (13/12) pagi. Program PIJAR di Nabire dibuka, Bupati Nabire, Mesak Magay disaksikan Wakil Ketua II DPRD Nabire, H Mohamad Iskandar, Wakapolres Nabire, perwakilan Dandim Nabire, staf Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire.
Bupati Nabire, Mesak Magay apreasiasi program dari Yayasan Noken Papua bekerjasama dengan UNICEF yang akan membantu pelayanan pendidikan di daerah ini.
Ketua Yayasan Noken Papua di Nabire, Krisna Tohariadi saat Peresmian Program Pijar di Kabupaten Nabire dengan tema Pemerintah Kabupaten Nabire Mendukung Nabire Menjadi Kabupaten Layak Anak Melalui Program Siap Kembali Belajar (Pijar) di Aula Bupati Nabire, Senin (13/12) mengungkap akibat Pandemi Corona selama setahun telah mengakibatkan penurunan kualitas dari anak-anak usia sekolah, bahkan hampir putus sekolah. Karena, tidak semua orang tua dan siswa memanfaatkan belajar online melalui internet, apalagi ketersediaan jaringan internet kurang memadai. Akibatnya, ikut mempengaruhi semangat anak-anak usia sekolah untuk belajar.
Oleh sebab itu, Yayasan Noken Papua bekerja sama dengan kedutaan Jepang Unicef bermitra dengan pemerintah daerah mendorong untuk kegiatan belajar mengajar di sekolah lewat tatap muka dengan memperketat protokol kesehatan (Prokes) di sekolah.
Untuk mendukung siap kembali belajar di sekolah, Yayasan Noken Papua bekerjasama dengan Unicef telah memulai kegiatannya sejak beberapa bulan lalu di Nabire dengan memberikan bantuan literasi (buku bacaan) dan memperhatikan sanitasi dan penyediaan air kepada 40 sekolah dasar.
Sementara itu, Santri Bringin yang membidangi pendidikan di Unicef Indonesia mengungkap akibat tiadanya pembelajaran lewat tatap muka, sekitar 30-35 persen sekolah di Papua dan beberapa daerah di Idonesia Bagian Timur hampir tertutup. Tidak ada pelajaran baca, tulis dan hitung. Mengapa. Karena, pembelajaran lewat online.
Santri juga mengungkap, hasil survei di Kabupaten Nabire hanya sekitar 25-26 persen yang bisa akses dan belajar online. Situasi ini berdampak pada anak-anak yang terpaksa putus dan tinggalkan sekolah. Menghadapi kembali ke sekolah, Santri menilai perlunya membentuk mental untuk mengajak kembali belajar di sekolah.
Pengalaman yang diungkap Kepala SD Inpres Karang Tumaritis, saat belajar online, anak hanya datang untuk menerima tugas dan kembali menyerahkan tugas. Hasil kerja tugas yang diserahkan anak-anak dikerjakan oleh orang tua sehingga anak-anak mendapat nilai bagus-bagus. Kini, sejak dibukanya belajar tatap muka, sejak September lalu, ada anak-anak yang masih mengeluh dan protes. Ada siswa mengeluh sekolah lagi dan menghendaki lebih baik kembali seperti lalu-lalu supaya bisa libur pajang.
Dalam diskusi disarankan untuk merangsang anak belajar tatap muka di kelas, perlu keterlibatan dan peran serta orang tua, mendorong anak belajar dan masuk sekolah dengan menerapkan Prokes, mulai membiasakan anak sejak awal di rumah. (ans)
Bagikan artikel ini



