Dari Jurnalis Banting Setir Menjadi Penjual Bakwan Malang
NABIRE - Jarum jam ditangan menenjukan pukul 18.00 WIT, digulung senja. Wartawan Papuapos Nabire tak sengaja melintasi depan Gedung Olaraga
NABIRE - Jarum jam ditangan menenjukan pukul 18.00 WIT, digulung senja. Wartawan Papuapos Nabire tak sengaja melintasi depan Gedung Olaraga (GOR) yang terletak di Kota Lama, Kelurahan Morgo, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire Papua.
Di samping kantor pos tua itu seorang pria tengah sibuk menyajikan makanan bagi pengunjung. Lelaki itu saya sangat kenal bahkan seperuh hidup ini pahit dan manis mengurai bersama. Dia adalah Iwan Aryanto salah satu dewan redaksi di koran harian Papuapos Nabire.
Lima bulan lamanya Iwan sapaan akrabnya tak lagi meliput-liput berita sebagai jurnalis. Jari jemarinya tidak lagi menyajikan berita namun kini justru menyulapnya untuk menyajikan hidangan sesuai permintaan pengunjung.
Ungkapan ‘tak ada yang tak mungkin’, usaha keras dan membantu meringankan beban istri tak akan menghianati’ tampaknya memang benar adanya.
Di sela-sela kesibukannya Iwan menyempatkan diri untuk berbincang sejenak bersama Papuapos Nabire tentang alasan membanting setir menjadi penjual bakwan malang.
Istrinya mendapatkan sokongan modal usaha sehingga Ia membuka warung makan. Lantas Iwan memutuskan untuk banting setir membantu istrinya.
“Bagimana saya harus berpikir. Ya beralih profesi dulu sobat, bantu maitua jaga warung nanti barulah liput berita lagi,” sahut Iwan sembari persilahkan saya duduk di warungnya, Sabtu (22/05/21).
Cerita pun berlanjut, sembari menatap ku ia berkata “sobat mau makan apa?”. Maksih sobat atas tawarannya tapi kalau boleh kopi saja. Mumpung saya cari sobat kerena saya rindu.
Istrinya (Ipar saya) segera menyediakan dua gelas kopi di tas meja memantik harus duduk lebih lama di warung Bakwan Malang (makanan khas Malang).
“Disini ada bakso (pentolan), tahu, siomay, kulit pangsit dan renyah berendam dalam kuah kaldu gurih,” sebut Iwan rinci.
Kendati warungnya baru berumur jagung Iwan mengaku hampir setiap hari tak sepi dari pengunjung sehingga perlahan namun pasti usahanya sedang merangkak naik.
“Baru beberapa bulan ini sob, tapi pengunjung (peminat) pentolan cukup lumayan. Ya, mudah-mudahan kedepan akan berkembang lebih baik,” kata Iwan.
“Sudah ipar makan dulu nanti barulah lanjut cerita,” ujar istrinya persilahkan makan. Memang masakan makan yang lesat dan enak untuk dihidangkan menarik minat warga sehingga pungunjung pun tampak ramai berdatangan untuk makan.
“Sobat makanan enak juga ini!’” iya sob itu makanan khas kampung saya (malang). Lalu modal sendirika atau bagimana ? “tidak sobat mudarabah (sistim kerja sama) ,”tutur Iwan sembari menjelelaskan panjang lebar.
Sobat ini, sudah memasuki lima bulan ia melupakan profesinya sebagai jurnalis yang mengalir puluhan tahun lamanya. Nyatanya memang lelaki bertangan lagem ini, untuk kembali ke dunia lamanya, belum terbayang masih fokus membantu istrinya merintis usaha warung bakwan (pentolan) Malang itu.
“Saya berusaha sobat untuk tidak meliput dan akhirnya lambat laun bisa untuk tidak meliput lagi. kasian maitua dia, saya ingin bantu maitu sob,” akunya polos.
Keputusan itu, kata Iwan mensiasati modal yang terbatas karena mereka tak perlu membutuhkan karyawan selain dua orang kerabat yang kini membantu mereka.
Hampir satu jam bercerita bersama Iwan, sembil melapas penat. Selanjutnya Papuapos Nabire pamit kepada Iwan dan istrinya untuk pulang.
“Baik sobat, kalau siang rasa cape, haus atau lapar kesini saja. Saya disini saja sob,”pinta Iwan saling bersalaman. (eby)
Bagikan artikel ini



