Data Keluarga Sejahtera Multifungsi
NABIRE – Data tentang keluarga sejahtera tidak sebatas untuk penerimaan bantuan pangan berupa beras dan telur, tetapi juga untuk pener
Bagikan
NABIRE – Data tentang keluarga sejahtera tidak sebatas untuk penerimaan bantuan pangan berupa beras dan telur, tetapi juga untuk penerimaan bantuan sosial lainnya seperti bidang kesehatan, bahan bakar minyak dan pendidikan. Oleh sebab itu, data keluarga sejahetara ini multifungsi. Namun, selama ini pula pemerintah daerah kurang peduli dengan validasi data keluarga sejahtera di daerah ini.Supervisor Bantuan Pangan Kabupaten Nabire, Zakeus Petege di ruang kerjanya, Kamis (3/10) mengatakan selama ini, sebagian warga beranggapan data keluarga sejahtera (keluarga kurang mampu) dibutuhkan hanya untuk kepentingan mendapat bantuan sosial berupa bantuan pangan (beras) dan mulai bulan ini Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) berupa beras dan telur.Padahal, kata Petege, berdasarkan data keluarga sejahtera, pemerintah menghitung juga bantuan untuk kesehatan lewat BPJS KIS (Kartu Indonesia Sehat) sehingga setiap keluarga sejahtera yang berobat dibantu lewat BPJS KIS. Petege menambahkan, dengan data keluarga sejahtera, pemerintah melalui Kementerian Sosial juga menyediakan data tentang penerima bantuan pendidikan mulai Sekolah Dasar (SD). Anak-anak dari keluarga tak mampu bisa mendapat bantuan pendidikan dari pemerintah.Walau demikian, kata Petege, selama ini pemerintah, eksekutif dan legislatif tidak menghiraukan hal ini, untuk memvadalidasi data keluarga sejahtera di daerah ini. Karena, keluhan tidak adanya dana validasi data keluarga sejahtera yang dilontarkan Dinas Sosial Kabupaten Nabire tidak digubris. Karena, Kemensos memakai data penduduk yang dikeluarkan BPS tahun 2010 lalu.Petege menilai perlunya validasi data keluarga sejahtera karena, sebagian data bisa berubah, apalagi sudah lebih dari 5 tahun bahkan mencapai 10 tahun. Ia mencontoh, siswa penerima bantuan pendidikan berupa beasiswa, beberapa waktu lalu malah anak-anak pejabat dapat beasiswa dan bisa jadi sebagian besar anak dari keluarga tidak mampu malah tidak mendapat beasiswa. Ini karena memakai data keluarga 10 tahun lalu, selama ini belum pernah ada validasi data keluarga.(ans)
Bagikan artikel ini



