Digelar Pembekalan dan Pembinaan Persiapkan Khotbah dan Homili
NABIRE – Minggu (20/6/21), di ruang pertemuan Paroki St. Yosep Nabar, digelar pembekalan dan pembinaan para pewarta dan prodiakon cara
NABIRE – Minggu (20/6/21), di ruang pertemuan Paroki St. Yosep Nabar, digelar pembekalan dan pembinaan para pewarta dan prodiakon cara mempersiapkan khotbah dan homil yang baik dan benar. Pembekalan para pewarta dan prodiakon disampaikan Pastor Paroki St. Yosep Nabar, Pastor Injonito Gerry Da Krus Sch. P.
Dikatakan, khotbah adalah suatu pidato yang berhubungan dengan keagamaan. Cara liturgis khotbah merupakan suatu pewartaan atau pemberitaan mengenai iman. Temanya bisa menyangkut apa saja, dari soal isi kitab suci, ajaran gereja, ajaran moral dan sebagainya.
Sementara itu, homoli artinya percakapan yang enak, akrab, saling memahami, segi liturgis homili, penjelasan atas bacaan kitab suci yang dibacakan dalam suatu liturgy atau ibadat. Selalu bertolak dari kitab suci, sebab sifatnya mengupas dan menjelaskan kitab suci sesuai dengan konteks hidup jemaat saat itu.
Katanya, mempersiapkan homili mendengarkan sabda Allah harus ada pembagian tugas yang jelas dan tepat antara lektor dan pemimpin pelayan ekaristi atau ibadat sabda.
Merenungkan sabda Allah intinya menangkap pesan atau warta yang disampaikan oleh bacaan kitab suci. Mengelolah sabda adalah merumuskan dan mengembangkan pokok-pokok pewartaan yang merupakan hasil permenungan sabda Allah. Mewartakan sabda Allah, homili yang baik bukan hanya berisi suatu uraian pokok renungan yang bermutu dan mendalam, tetapi perlu disampaikan dengan cara penyajian atau pewartaan yang baik dan mendukung. Melaksanakan sabda Allah adalah mewujudkan apa yang sudah kita sampaikan dalam homili melalui tindakan nyata dan konkret bersama seluruh umat beriman.
Lebih lanjut dikatakan, khotbah sebagai bentuk iman, merupakan salah satu jalan untuk tetap dan terus membuat karya Allah di dunia ini menjadi semakin terasa. Tiga hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pengkhotbah, pertama, khotbah bukan sekedar orasi rohani. Kedua, khotbah melekat pada diri pengkhotbah itu sendiri. Ketiga, dalam khotbah pengkhotbah mensharingkan pengalaman imannya kepada umat.
Lanjutnya, hubungan antara pengkhotbah dan khotbahnya bagaimana sebuah relasi terwujud dalam khotbah itu, pada saat persiapan khotbah, menyampaikan khotbah dan pentingnya khotbah bagi diri pribadi pengkhotbah. Perwujudan relasi pengkhotbah dan khotbahnya relevan sebuah khotbah, kreatif, humor, cerita, inspiratif, bahasa yang mudah dimengerti oleh umat, ketulusan, keindahan dan kelurusan.
Sasaran dan tujuan khotbah merasakan dan mengalami Allah yang selalu hadir, memahami arti sabda Allah bagi kehidupan, mengarah pada pertobatan. Sumber-sumber khotbah kitab suci, ajaran resmi gereja, kehidupan umat, diri sendiri. Serta kepustakaan lain memakai sumber lain seperti buku-buku, media sosial, dan majalah tentang kitab suci.
“Sebagai pendekatan dalam khotbah adalah jurnalistik, tafsiran, eksposisi, tektual, topik, pembahasan masalah. Pewartaan untuk jemaat mengenal jemaat kita atau audensi siap saja yang hadir, konteks hidup sehari-hari, ajakan, atas nama gereja. Metode-metode dalam khotbah adalah naskah, hafalan, tanpa persiapan, serta merta. Kerangka khotbah adalah pembukaan, isi, penutup,” jelasnya. (modes)
Bagikan artikel ini



