Dikenalkan Identitas Budaya Sejak Usia Dini
NABIRE - Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Yayasan Persekolahan Pendidikan Katolik Tilemans Keuskupan Timika Kabupaten Nabire, khususnya TK Santo Antonius Bumi Wonorejo Nabire, Rabu (24/11/21) bertempat di ruang TK didampingi wali orang tua murid para guru telah memperkenalkan budaya identitas anak-anak didik dari sejak usia dini.

NABIRE - Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Yayasan Persekolahan Pendidikan Katolik Tilemans Keuskupan Timika Kabupaten Nabire, khususnya TK Santo Antonius Bumi Wonorejo Nabire, Rabu (24/11/21) bertempat di ruang TK didampingi wali orang tua murid para guru telah memperkenalkan budaya identitas anak-anak didik dari sejak usia dini.
Pantauan media ini di lapangan, anak didik dipakaikan budaya idetitasnya masing-masing. Dengan menghiasi badan anak-anak dengan berbagai macam hiasan. Terlihat suasana indah saat itu, para orang tua wali dan para guru mengapresiasi anak-anak.
Kepala Sekolah Taman-Kanak-kanak TK Santo Antonius Bumi Wonorejo Nabire, Petrus Tekege, SH, MH dalam sambutanya mengatakan, para orang tua wali murid dan guru-guru mendidik anak-anak TK Santo Antonius di sekolah bukan hanya mengajar anak-anak mata pelajaran di sekolah yang disiapkan oleh para guru. Tetapi juga anak dibina melalui banyak kegiatan seperti pada saat ini dilaksanakan suatu kegiatan memperkenalkan budaya sejak usia dini supaya begitu ketika anak-anak mereka besar tidak lupa budaya.
Dikatakan, budaya yang mereka pakai datang tampilkan di depan kita ini juga salah satu mata pelajaran yang diberikan di sekolah. Dan dapat memberanikan diri anak-anak mulai dari sejak usia dini untuk mengasah, mengasuh, dan mendidik mentalnya. Supaya begitu ketika anak-anak besar tidak merasa takut dan malu mereka sekolah selanjutnya.
“Sehingga di rumah anak-anak mereka laksanakan berbagai macam kegiatan, entah bermain, nakal apa saja anak lakukan orang tua tidak boleh marah, gertak, batasi, kasar, pukul dan lain-lain. Tapi tugas orang tua adalah jaga karena mereka mengasah daya ingatan otak melalui berbagai macam pekerjaan yang anak laksanakan,” tuturnya.
Lanjut dia, karakter daya ingatan tangkap anak-anak itu beda-beda di sekolah. Kita orang gunung punya tipe begitu anak nakal, bermain dan lain sebagainya kebiasaan kita main pukul anak. Hal ini tidak boleh dilakukan. Tetapi seharusnya panggil anak dan berikan nasihat dengan nada bahasa baik-baik tidak boleh kasar terhadap anak. Kalau kita kasih tahu anak dengan nada kasar nanti suatu ketika dia besar akan sulit diatur.
Salah seorang wali murid, Modestus Magai menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah yang mana mendidik, membina mental anak melalui budaya ini salah satu kebanggaan bagi para guru di sekolah dan orang tua anak yang diajar.
“Karena kaca mata saya melihat orang Mapia Lama atau Simapitowa menyeluruh pakai budaya identitas jati diri digunakan badan sendiri itu dikatakan malu alias pemali buat mereka,” ujarnya.
Maka diharapkan memon penting yang dilaksanakan dari pihak sekolah terhadap anak-anak diberikan mental, keberanian anak melalui budaya dari sejak usia dini dapat ditingkatkan terus. Supaya anak-anak begitu ketika mereka besar tidak lupa budaya mereka lalu berani dipakai atau digunakan dimana anak itu tinggal. (modes)
Bagikan artikel ini



