NABIRE – Dalam sejumlah postingan di media sosial (FB, red) sejumlah warga mengkomentari seorang pasien yang dinyatakan positif Covid-19, namun dalam kondisi tanpa gejal dan tanpa keluhan apapun. Dalam postingannya, sejumlah warga merasa heran dengan apa yang dialami oleh pasien itu, UR. Sudah melewati semua tahapan, namun yang bersangkutan masih tetap positif Covid-19.

Terkait dengan pemahaman masyarakat ini, media ini mencoba untuk meminta tanggapan Juru Bicara Tim Covid-18 Nabire, yang juga berprofesi sebagai seorang dokter. Kepada media ini, dr. Frans Sayori mengatakan, secara imunologi ilmu tentang daya tahan tubuh manusia itu ada reaksi dan ada proses.

“Virus kita tidak bisa lihat dari luar, yang membantu dokter untuk memastikan dia sembuh adalah melalui pemeriksaan laboratorium. Kalau pemeriksaan laboratoriumnya menunjukkan masih positif berarti masih ada reaksi virus di dalam tubuh seseorang,” tuturnya.

Lanjutnya, reaksi beda antara orang yang satu dengan yang lain dikarenakan spesifikasi antibody masing-masing orang berbeda. Ditambah lagi dengan tingkat paparan dari sumber penularan terhadap seseorang.

Lebih lanjut dijelaskan dokter Jubir Covid ini, secara ilmu epidemologi oleh pakar epidemologi, kesehatan manusia itu 40 persen ditentukan oleh lingkungan, 30 persen oleh perilaku, 20 persen oleh tenaga medis, 10 persen sisanya itu genetic.

“Bicara pasien kenapa sudah sebulan lebih masih tetap positif, di Jawa ada pasien selam 5 bulan dengan status awalnya positif, sempat negative dan kembali positif. Intinya, virus corona itu setiap saat selalu bermutasi dan tergantung spesifik antibody orang masing-masing. Itu kuncinya,” ujar dr. Sayori.

Kata dia, selama virus corona itu masih bermutasi di dalam tubuh seseorang pasti dia masih tetap positif.

“Kenapa sampai saat ini belum ada vaksin itu penyebabnya karena virus tersebut terus bermutasi berubah rubah dalam setiap saatnya,” kata dia. 

Tegas dr. Sayori, dirinya orang medis dan bekerja penanganan medis, dan tidak ada unsur politik di dalam. (ros)