Ebamukai Berasal dari Budaya dan Kebiasaan Suku Mee
NABIRE - Ebamukai meskipun berasal dari budaya dan kebiasaan orang Suku Mee, juga bisa digunakan oleh khayalak umum. Budaya Ebamukai ini buk
Bagikan
NABIRE - Ebamukai meskipun berasal dari budaya dan kebiasaan orang Suku Mee, juga bisa digunakan oleh khayalak umum. Budaya Ebamukai ini bukan suatu hal yang terlarang, halangan bagi siapapun tapi mengunakan istilah tersebut itu satu identitas untuk dapat menyelesaikan suatu permasalahan dalam rangka meningkatkan kebersamaan dengan penyumbangan seiklasnya sesuai kemampuan.Demikian dijelaskan Ketua Dewan Kuasi Paroki Gereja Katolik Santo Antonius Bumiwonorejo Nabire, Senin (9/9) pagi di ruang kerjanya sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Santo Antonius Bumiwonorejo Nabire. Dijelaskan Petrus Tekege, SH,.MH, disetiap momen atau peristiwa tertentu dimana saja dalam kehidupan orang Mee khususnya dan pada umumnya orang gunung, istilah ebamukai itu digunakan dalam beberapa hal yang pertama arti kata ebamukai. Eba artinya tikar atau pengalas.Sedangkan, Mukai berarti mengalaskan, mendasarkan, mempondasikan, diatas pondasi atau tikar yang dialas itu diharapkan siapa saja boleh memberikan sumbangan sukarela berupa uang maupun barang sesuai dengan kebutuhan pada saat itu. Menurut Tekege, bilamana kebutuhan itu,dalam pembangunan gereja,pembangunan rumah dan lain sebagainya dapat digunakan momen, seperti ebamukai itu perlu diselesaikan bersama sehingga setiap orang harus menyumbang berapa sesuai dengan kemampuannya yang bersangkutan itu sendiri.Istilah ebamukai ini meskipun berasal dari budaya dan kebiasaan orang suku mee, lanjut dia, pertama di Gereja Santo Antonius yang terlaksana pada tanggal 6 September 2019, ini juga telah kami istilah ebamukai untuk kebutuhannya pembangunan gereja setelah aula yang dilaksanakan oleh Osea Petege.Selanjutnya, didalam ebamukai ini telah dilaksanakan tiga cara yang pertama kotak-kotak sumbangan yang diadakan di beberapa titik. Kedua melalui noken yang digantungkan atau diletakan diatas panggung, sehingga setiap orang yang datang dapat menyerahkan atau menyumbang, terutama dalam bentuk tunai.Yang dimasukan didalam noken yang telah disediakan kemudian, yang ketiga dialaskan sebuah tikar yang diatas tanah itu. “Disitu bisa dikumpulkan siapa saja boleh datang hanya berjumlah terbatas atau tertentu yang bersangkutan menyerahkannya diatas tikar ini sesuai kemampuannya tanpa paksa.(modes)
Bagikan artikel ini



