NABIRE - Hembusan angin politik jelang Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati (Pilkada) Serentak Tahun 2020, terlebih khusus di wilayah Kabupaten Nabire sudah semakin terasa.

Terutama bagi para calon kandidat yang berniat mencalonkan diri, maupun Partai Politik (Parpol) yang saat ini sedang memasang strategi, alat pelacak politik, dan memetakan para tokoh potensial untuk diusung.  

Partai Politik saling menjajaki dan menghitung segala kemungkinan.

Khusus untuk Kabupaten Nabire, perjalanan Pilkada dari tahun 2016 hingga saat ini, secara perlahan sudah menggambarkan bahwa kekuatan ketokohan telah menggeser dominasi Parpol dalam mempengaruhi pilihan.

Ini sekaligus mengasumsikan bahwa perolehan suara Parpol-Parpol pada Pemilu 2019 yang lalu, baik secara nasional maupun lokal, tidak selalu berkorelasi dengan kekuatan atau elektabilitas kandidat-kandidat yang ada. 

Secara logika setiap Parpol tentu berkomitmen untuk memenangkan Pilkada di daerah-daerah,khususnya di Kabupaten Nabire.

Ironisnya, dalam prakteknya, koalisi yang terbentuk untuk mengusung suatu pasangan calon (Paslon) biasanya hanya bisa dilihat dari prosentase atau jumlah kursi di DPRD untuk mendaftarkan Paslonnya.

Tetapi, setelah itu pada saat kampanye untuk menggalang dukungan di kalangan pemilih, terlihat mesin partai kerap tidak bekerja maksimal, sehingga Paslon harus berjibaku sendiri. 

Proses penentuan rekomendasi dari Ketua Umum Parpol, tentunya Parpol mempunyai pengaruh besar dalam penentuan siapa “Jagonya” yang akan diusung oleh partainya.

Gelombang pasang pemilih muda melalui perangkat digital, baik secara kuantitas demografis maupun intensitasnya di media sosial.

Ini tidak hanya sebatas pada momentum elektoral, melainkan pula dalam pertarungan isu politik sehari-hari.

Dalam konteks Pilkada, strategi dan pendekatan kampanye digital semakin menemukan signifikansinya.

Namun, ibarat pisau bermata dua, hal ini bisa berimplikasi pada efek positif maupun negatif.

Secara positif, tawaran visi-misi-program dapat menyebar secara cepat, efisien dan efektif.

Pernak-pernik seputar kandidat juga kerap mewarnai proses kampanye, seperti aktivitas sehari-hari, spontanitas yang mengharukan maupun kocak, hingga meme dan sebagainya.

Dalam hal ini, ungkapan-ungkapan seperti “the personal is political atau all politics is personal” atau dengan bahasa indonesianya adalah  “pribadi adalah politik atau semua politik adalah pribadi” sangat relevan untuk memahami tren politik kekinian.

Isu politik terkait bursa para Calon Bupati (Cabup) dan Calon Wakil Bupati (Cawabup) Kabupaten Nabire Tahun 2020 mulai santer terdengar dan sudah jadi rahasia umum warga masayarakat Nabire, walaupun tak satupun orang yang bisa memastikan dan menjamin dengan pasti bahwa Si A maupun Si B pasti menjadi Calon Bupati dan Wakil Bupati, dalam arti bahwa wacana para calon masih sebatas bakal calon dan belum masuk dalam tahapan penetapan calon. 

Hal ini terlihat, hingga saat ini para calon kandidat masih berjibaku dan menjajakan diri dengan para pemangku jabatan partai politik baik yang ada di daerah maupun yang ada di Pusat.

Rekomendasi Dewan Perwakilan Pusat (DPP) Partai Politik (Parpol) menjadi senjata utama dalam perpolitikan Pilkada Kabupaten Nabire. 

Para tokoh dan calon yang digadang-gadangi akan maju dan bertarung pada Pilkada Kabupaten Nabire 9 Desember 2020 antara lain, Drs. F. X. Mote, M.Si yang akan berpasangan dengan H. Moh. Iskandar, SP dari Partai PDIP yang juga menyatakan sudah mendapat rekomendasi dari Partai Nasdem.

Kedua, Yufinia Mote, S.Si.T yang akan berpasangan dengan H. Muhammad Darwis yang akan maju melalui jalur partai politik dan disinyalir sudah mengantongi rekomendasi dari Partai PKB dan Perindo.

Ketiga, Mesak Magai, S.Sos.,M.Si yang akan berpasangan dengan Ismail Jamaludin yang juga mengatakan sudah mengantongi rekomendassi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Yang keempat, Natalis Degei yang akan berpasangan dengan Tabroni M. Cahya yang juga menyatakan sudah mendapat rekomendasi dari Partai Demokrat.     

Dengan melihat isu politik yang berkembang di tengah masyarakat terkait dengan Pilkada Nabire, khususnya untuk para calon kandidat yang akan maju melalui jalur partai politik sudah mulai hitungan-hitungan.

Para simpatisan dan pendukung pun sudah mulai menyusun strategi awal untuk bisa mendukung “Jagonya” untuk maju dan menang dan Pilkada Nabire 9 Desember 2020 mendatang. 

Untuk maju dalam Pilkada Nabire Para Calon Kandidat harus mengantongi setidaknya lima kursi di partai politik agar lolos menjadi Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupatten Nabire.

Hitung-hitunganpun mulai bisa terlihat dan terbaca oleh masyarakat, walaupun belum bisa di patenkan oleh Calon Kandidat. 

Inilah jumlah Perolehan Kursi Partai Politik yang duduk sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Nabire Tahun 2020, Partai kebangkitan Bangsa (PKB) memiliki 4 Kursi, Partai Golongan Karya (Golkar) memiliki 3 Kursi, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memiliki 3 Kursi, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memiliki 2 Kursi,Partai Demokrat memiliki 2 Kursi, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) memiliki 2 Kursi, Partai Amanat Nasional (PAN) memiliki 2 Kursi, Partai Persatuan Indonesia (Perindo) memiliki 1 Kursi, Partai Nasional Demokrat (Nasdem) memiliki 1 Kursi, Partai Berkarya memiliki 2 Kursi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memiliki 1 Kursi, Partai Garuda memiliki 1 Kursi dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memiliki 1 Kursi.  

Dengan adanya literasi tersebut, maka calon Kandidat tentunya sudah mulai menentukan sikap dan di tantang untuk mampu merebut hati partai untuk bisa menjadi senjata pamungkas guna bersaing dalam pesta demokrasi Pilkada Kabupaten Nabire.

Bukan hanya itu, para simpatisan dan pendukungpun turut ambil bagian dalam menyuarakan para “Jagonya” dalam merebut hati partai politik demi mengantongi rekomendasi dari DPP Partai.

Walaupun, dalam tindakannya, para kandidatlah yang berjibaku dalam pertarungan perebutan rekomendasi Partai Politik.    

“Ini Belum Final”, mungkin kata-kata ini sedikit memberikan motivasi kepada para Calon Kandidat untuk mampu meraih rekomendasi partai politik.

Bakal Cabup dan Cawabup Pilkada Kabupaten Nabire masih punya waktu untuk merebut hati Partai, bahkan Jumlah Bakal Calon Pasangan Cabup dan Cawabup Pilkada Kabupaten Nabire yang maju melalui jalur Partai Politik masih “bisa berubah”, mungkin bisa lebih, mungkin bisa kurang dengan nama pasangan yang berubah, atau mungkin juga bisa tetap dengan nama pasangan yang tetap atau nama pasangan berubah.

Mari kita bersama-sama cermati dan mulai untuk memberikan pembelajaran politik yang baik kepada warga masyarakat Kabupaten Nabire, selamat berjuang untuk para Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Nabire Tahun 2020 untuk meraih rekomendasi Partai, mari sukseskan Pilkada Damai di Kabupaten Nabire.

(Richard Simanjuntak) Penulis adalah Wartawan Papuapos Nabire dan Pemerhati Politik.