NABIRE - Tiga orang kepala Sekolah yang bertugas di sekolah yang berada di wilayah daerah Tertinggal, Terluar dan Terpencil (3T) meminta agar jatah beras guru Pegawai Negeri Sipil dapat dikembalikan.

Sebab sampai hari ini tidak ada lagi beras yang harganya Rp 10.000 di pasar.  Sehingga para guru yang bertugas di daerah 3T meminta agar beras jatah PNS guru dapat dikembalikan.  Sebab beras tersebut merupakan pondasi rumah tangga.

“Sebagai guru yang bertugas di daerah 3T, tentunya mempunyai dua tungku. Satu tungku ada bersama istri dan anak-anak di kota, sementara satu tungku lagi ada di suami sendiri di tempat tugas. Sehingga jatah beras menjadi jawaban hidup bagi guru di tempat tugas,” kata Charles Saroy, S.Pd, Kepala Sekolah SMP N 1 Wapoga, Michael Rumbrapuk, Kepala Sekolah SD YPK Yahwe Masipawa dan Arlius Sabami, S.Pd, M.Pd kepala Sekolah SMP N 2 Yaur kepada Papuapos Nabire, Kamis (3/2/22) di seputar halaman kantor Dinas Pendidikan Nabire.

Dikatakan Sabami, jika kita ke pasar untuk membeli beras, kini sudah tidak ada lagi beras yang harganya Rp 10.000. Sehingga pihaknya harus mengeluarkan uang yang lebih untuk bisa menjawab kebutuhan hidup bagi istri dan anak-anak di kota dan dirinya di tempat tugas.

Dengan dihilangkannya jatah beras guru PNS pada lingkungan kerja Dinas Pendidikan, katanya, sesungguhnya menjadi beban bagi guru.  Karena harga beras sudah naik dan pada akhirnya selaku guru hanya bisa membuat utang di sana sini demi menjawab kebutuhan hidup.

Lebih tegas dikatakan Charles Saroy, dengan dihilangkannya jatah beras itu bukan solusi yang membantu para guru. Tetapi kembali membuat guru harus putar otak guna menjawab kebutuhan di rumah. Dan pada akhirnya guru bukan betah melaksanakan tugas atau berada di tempat tugas.

Sehingga diharapkan kepada Bupati Nabire Mesak Magai, S.Sos, M.Si dan Wakil Bupati Nabire Ismail Djamaluddin agar dapat mengembalikan jatah beras guru PNS yang bertugas di daerah 3T.  Sebab jatah beras PNS merupakan pondasi rumah tangga.

“Mungkin bagi para PNS yang bertugas di kota tidak merasakan hal ini, tetapi kami guru-guru yang bertugas di daerah 3T sangat merasakan goncangan hidup dua dapur. Sehingga gaji menjadi sasaran dan berikutnya berutang di sana sini,” tutur Saroy Charles. (des)