Jembatan Sanoba Bawah, Siapa yang Bertanggung Jawab?
NABIRE - Proyek Jembatan Sanoba yang harus diselesaikan dengan dana APBD tahun anggaran 2018 silam, tertunda dengan alasan yang tidak jelas.
NABIRE - Proyek Jembatan Sanoba yang harus diselesaikan dengan dana APBD tahun anggaran 2018 silam, tertunda dengan alasan yang tidak jelas. Hal itu disampaikan oleh Ketua Dewan Adat Nabire John Wayar, ketika ditemui media belum lama ini di Nabire.
Menurut Wayar, seharusnya ada tindakan tegas yang diambil oleh pihak-pihak terkait guna penyelesaian proyek tersebut. Ia juga mendapat keluhan dari masyarakat setempat terkait posisi pembangunan jembatan yang mengorbankan sebagian lahan masyarakat untuk jalan dikarenakan posisi abutmen yang dikerjakan bergeser 2 meter. Akhirnya saat ini masyarakat pun menuntut ganti rugi atas bentuk kelalaian yang dilakukan oleh pihak kontraktor pelaksana pekerjaan jembatan ini.
Ditambahkan John, dikarenakan jembatan tersebut terletak di Nabire dan bukan di tempat lain, maka Wayar mengimbau agar Pemerintah Daerah Kabupaten Nabire, DPRD dan juga pihak adat bisa bersama-sama menjaga dan mengurus sarana dan prasarana yang ada, yang sedang dikerjakan bahkan mungkin yang baru dalam tahap perencanaan. Terutama dalam hal ini erat juga kaitannya dengan objek wisata pantai milik Pemda dan masyarakat lokal di sekitar.
Namun, secara tegas Dewan Adat Nabire meminta agar pihak ketiga dan juga pemberi pekerjaan dalam hal ini Dinas PUPR Provinsi Papua bersama dengan Pemda Nabire bisa duduk bersama pihak adat guna membahas penyelesaiannya secepat mungkin.
“Jangan kita menghambat pembangunan dikarenakan hal-hal yang tidak sehat, salah satunya seperti pembangunan jembatan Sanoba yang mangkrak ini. Kita juga mau kita bisa berkembang sama dengan daerah lain di Papua dan Papua Barat,” tandasnya.
Nabire ini merupakan kabupaten senior, yang banyak melahirkan daerah-daerah baru di sekitarnya. Tapi jika dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten senior lainnya, Nabire ini terlalu kacau, kita ini seperti tinggal di hutan.
Imbuhnya, sekian kali ganti pemimpin bahkan ada yang sampai 2 periode berturut-turut tidak ada perubahan signifikan di Nabire ini. Mau itu jalan, lampu jalan, kebersihan, koneksi internet, listrik semua bergerak lambat. Dari 2010 sampai saat, atau bahkan mau tarik dari 2006 juga Nabire ini yah seperti ini saja.
Sungguh sangat disayangkan lambat tumbuh kembangnya Kabupaten Nabire ini, padahal menurut dia, potensi sumber daya alamnya sangat banyak. Barang apa yang tidak ada di Nabire ini? tambah Wayar, saat ini bahkan di Manokwari saja usaha franchise, seperti bioskop XXI sudah siap untuk masuk di Mal. Sedangkan kita ini bikin jalan, jembatan dan infrastruktur lain untuk setiap hari kita pakai saja tidak bisa selesai.(wan)
Bagikan artikel ini



