Kalya dan Kalsa
Cerpen : Abdul Munib

Cerpen : Abdul Munib
Lam Sijan memendam rasa. Ia mencari calon isterinya di pelabuhan Surabaya. Pamitnya mau ke toilet. Tapi sudah lima jam dia menunggu batang hidung Astuti tak juga nampak. Ia menyusul ke area yang ada tanda toilet tapi diantara orang-orang tak ada wajah pacarnya itu.
Ia masih berbaik sangka. Barangkali calonnya tersesat di pelabuhan Tanjung Perak yang wilayahnya memang luas. Lam membayangkan Tuti juga sedang mencari dirinya, berputar-putar di wilayah pelabuhan. Ditelpon berkali-kali hape Astuti mati. Atau nomor Lam diblokir.
Malam mulai menurunkan embun. Orang-oramg di pelabuhan mulai berkurang. Para penumpang sudah mengosongkan pelabuhan. Menyisakan petugas keamanan dan warung kaki lima diluar gerbang pelabuhan. Lam Sijan meringkuk di kursi panjang dengan melipat lututnya dibungkus kain sarung. Tidur gaya pistol.
Lam tidur sampai subuh kedinginan di ruang luar kedatangan. Badannya tersandar di kursi deret. Seorang petugas membangunkan Lam dan bertanya.
"Bapak tujuan kemana ?"
Lam masih belum menjawab. Pandangan sorot matanya kosong. Lambat laun dari bibirnya pelan keluar kata-kata.
" Astuti, asli tukang tipu."
"Astuti itu siapa ?"
"Tuti itu maitua. Kami pacaran. Sudah lima tahun. Kami pulang ke Jawa untuk minta restu orang tua. Kami sudah sepakat mau menikah. Mengarungi bahtera keluarga bersama-sama."
"Terus pacarnya kemana ?"
"Itulah masalah saya. Dia pamit ke toilet. Setelah itu tak kembali. Dia menghilang. Mungkin toilet telan dia."
"Terus apa yang akan kamu lakukan."
"Saya sedang kontak saudara. Supaya belikan saya tiket pulang. Astuti membawa semua uang."
"Pulangnya kemana ?"
"Jayapura."
"Jayapura itu bukannya Papua ?"
"Ya."
*
Kebingungan petugas itu perihal Lam Sijan sendiri. Kenapa pacaran begitu lama tidak meneliti baik Astuti itu orang seperti apa ? Minimal cek desa Astuti di Jawa itu namanya desa apa. Kecamatan apa ? Kabupaten apa ? Supaya bisa dilacak di Google Maps. Dia bisa menjujuk ke sana. Bisa menanyakan langsung rumah Astuti. Bisa kroscek Astuti benar pulang ke orang tuanya atau seperti yang dia katakan tadi : Astuti ditelan toilet. Dan bisa mendengar sendiri pernyataanya. Kalau memang menolak menikah, kan bisa bicara baik-baik. Bukan pamit ke toilet tapi tidak muncul lagi. Bikin Lam Sijan penuh tanda tanya. Dan berkesimpulan, Astuti itu asli tukang tipu.
Petugas di Pelabuhan yang menolong Lam dikenal nama panggilan Brewok. Memang ada gurat cambang di pinggir pipinya. Brewok memberikan tumpangan pada Lam sambil menunggu Kapal Putih yang mau ke Jayapura. Kota besar yang pada umumnya terdiri dari masyarakat miskin kepedulian, masih menyisakan kemanusiaan di hati orang kecil seperti Brewok yang menampung Lam.
Saat Lam pergi ke musola terdekat untuk ikut jamaah solat Magrib, istri Brewok tanya.
"Pak itu orang kenapa ?"
"Ditipu calon istrinya. Mereka mau ka kampung. Tapi calon istrinya hilang meninggalkan dia. Saya kasihan. Biar kita tampung sampai menunggu kapal Dorolonda minggu depan."
"Tega sekali ya perempuan itu."
Ketika Lam mau naik kapal Dorolonda Brewok memberi uang Rupiah 70 ribu.
"Tidak banyak. Untuk beli Aqua di kapal."
"Tidak usah Mas. Kaka saya sudah TF, cukup buat di kapal."
"Terima saja. Ini tanda kasih kami. Tidak boleh ditolak. Saya dan isteri sudah berembug dan sepakat. Nanti isteri saya sedih kalau ditolak."
Akhirnya Lam menerima tujuh lembar uang puluhan itu. Kertasnya lecek. Tandanya uang itu betasal dari kios kecil yang dikelola istri Brewok.
*
Lain halnya perjalanan Astuti. Dia ternyata tidak pulang ke kampungnya. Jadi kalau toh seperti yang dipikirkan Brewok tentang alamat Desa keluarga Astuti ada ditangan Lam, tetap saja menjujuknya ke sana tidak akan ketemu juga. Kalau hal itu terjadi Lam bisa malu sama orang kampungnya Astuti. Seperti permohonan Lam kepada Brewok agar kejadian ditinggal calon isteri di Pelabuhan tidak diceritakan ke orang lain. Karena hal ini malu buat Lam.
Rupanya Astuti punya kenalan laki-laki di Media Sosial. Dari muka kenalan Astuti itu sepertinya orang India, Pakistan atau Banglades. Dari hidung dan jambangnya menunjukan itu. Astuti mendua hati. Selain dengan Lam, ia berhubungan juga dengan Asraf diam-diam.
Jadi waktu kemarin pamit Lam mau ke toilet, sebenarnya Astuti dengan langkah seribu bergegas menuju taksi di gerbang pelabuhan. Astuti langsung tancap gas menuju Stasiun Pasar Turi, tempat yang sudah dijanjikan bersama Asraf. Dengan Kereta Api Darma Wangsa mereka dua munuju Jakarta. Turun di Stasiun Pasar Senen. Astuti berwajah sumringah bersama pacar hayalan yang selama ini hanya gambar di video call. Sekarang ada di alam nyata. Sepanjang perjalanan melintasi rel kereta pundak Astuti selalu sandar di bahu Asraf. Orang sekitar menyangka mereka pasangan yang sangat romantis. Mereka menuju apartement Asraf di Kalibata. Mereka tinggal tower Lotus.
Ternyata Asraf yang berwajah ganteng itu seorang sindikat. Astuti kena hukum karma. Saat diajak Asraf makan malam di kuliner Tanah Abang, empat orang preman kekar menyekapnya dengan obat bius. Asraf yang diharapkan menolongnya malah dia menghilang, yang tadinya pamit ke Astuti mau ke toilet. Rupanya Asraf bekerja sama dengan rekan-rekannya dalam menyusun kejahatan.
Astuti dibawa ke pinggir kota. Disekap di dalam mobil berkaca gelap. Dan diturunkan di dekat pematang sawah arah ke Karawang Bekasi. Mukanya hancur mendapat pukulan bertubi-tubi. Penjahat dengan kekerasan meminta nomor PIN ATM yang ada di Astuti. Setiap perempuan itu menolak menyebutkan PIN satu pukulan keras kena di bibirnya. Pukulan lain kena di pipi, hidung dan bagian muka lainnya. Sehingga Astuti tergeletak di pinggir jalan desa dengan muka tak berbentuk. Duit dan ATM-nya ludes semua tidak ada sisa. Dia semaput tak sadarkan diri dibawa orang kampung ke Puskesmas terdekat.
*
Lam Sijan kaget. Di layar hapenya muncul wajah Astuti yang babak belur. Bibirnya jontor. Matanya lebam. Mukanya tampak tak keruan.
" Kakak Lam. Di toilet pelabuhan saya dibekap obat bius sama perampok. Mereka menyiksa saya kalau tidak serahkan harta semunya. Saya dikurung dikamar gelap selama sebulan. Dipukuli tiap hari karena saya alasan lupa nomor PIN ATM. Sekarang Kaka Lam dimana. Kita ke kampung. Ke orang tua saya. Menikah menempuh hidup baru. Mengarungi bahter keluarga."
Lam terdiam melihat foto dan WA dari Astuti. Lam langsung menelepon Astuti memakai hapenya.
"Sekarang kamu dimana?"
"Di Bekasi. Penjahat mengurung saya dalam mobil. Dari satu kota ke kota lain. Orang kampung menyelamatkan saya."
"Tunggu disitu Kaka datang jemput kamu."
*
Rumah tangga keduanya memang lancar. Lumayan baik-baik saja. Punya anak dua cewek dan cowok. Sepasang. Namanya Kalsa dan Kalya. Hasil bayi tabung. Hasil upaya di salah satu rumah sakit reproduksi di bilangan Menteng. Kalsa mirip bapaknya. Kalya mirip ibunya.
Kenapa harus menjalani skema bayi tabung ? Itu lantaran Lam telah melakukan kesalahan fatal pada waktu remaja. Ia ikut-ikutan teman membesarkan alat kejantannya dengan metode tradisional daun bungkus. Sehingga bentuknya membesar tidak proporsional seperti teripang pendek atau mirip jambu mente. Dan tak puas dengan itu Lam tertipu pembesaran memakai bahan silikon oleh orang berpenampilan ustaz di iklan media sosial.
Sehingga ujung dari senjata kelelakiannya temggelam seperti kepala kura-kura yang masuk kedalam tempurungnya.
Astuti masih meneruskan kebiasaan buruknya berpacaran melalui media sosial. Uang belanja dari hasil Lam bekerja sering dipakai kirim pulsa ke lelaki yang jadi kekasih gelapnya di dunia maya.
*
Rumah tangga penuh kepura-puraan itu mirip negara yang para pejabatnya tukang olah semua. Seperti di negara Konoha. Kalya dan Kalsa ada dimana-mana. Nasibnya anak bangsa menjadi serba tanda tanya. ***
Bagikan artikel ini



