NABIRE – Kini informasi soal maksud dan tujuan keberangkatan belasan anak-anak ke luar Papua, sudah jelas. Belasan anak-anak Papua ini diberangkatkan ke Surabaya, Jawa Timur, dengan tujuan ke sebuah yayasan Katolik yang memiliki panti asuhan untuk dididik dan dibina oleh para suster biarawati Katolik dan Pembina lainnya.

Sebelumnya sempat tersiar kabar, lantaran karena belum ada informasi yang jelas soal keberangkatan anak-anak kecil itu, sempat mendapat perhatian dari Bupati Nabire, Mesak Magai, S.Sos, M.Si. Bupati Nabire sempat mencari tahu siapa yang membawa anak-anak itu berangkat dan untuk tujuan apa. Belakangan, Bupati Mesak pun mengaku sudah mendapatkan informasi soal tujuan keberangkatan anak-anak Papua itu ke Surabaya. 

Saat Papuapos Nabire mengkonfirmasi Romo Agus Yohanes Agus Setiyono, SJ, membenarkan hal itu. Sebagai bahan klarifikasi pemberitaan, Romo Agus sempat mengirimkan link terkait kronologis keberangkatan anak-anak Papua itu.

Dalam link berita yang dikirim itu, Pastor Hubertus Magai, Pr, menyampaikan klarifikasinya. Dalam judul berita dalam link yang dikirim bertuliskan “Sebelas Bocah asal Papua Bukan Saya Bawa ke Pesantren Tapi Asrama Katolik”

Pastor Hubertus ‘Awe Kohaby’ Magai, Pr, imam Katolik yang bertugas di wilayah Keuskupan Jayapura, mengaku pihaknya yang mengantar sebelas bocah orang asli Papua ke Surabaya, Jawa Timur. Anak-anak diantar Pastor Magai, imam Projo dan putra asli Papua, ke sebuah yayasan Katolik yang memiliki panti asuhan untuk dididik dan dibina oleh para suster biarawati Katolik dan pembina yang lain. Anak-anak itu, ujarnya, bukan diantar ke pesantren.

Dikatakan Pastor Hubertus Magai Pr, anak-anak itu diantar atas kesepakatan dengan orangtua kandungnya. Mereka adalah anak-anak yatim piatu yang perlu dibina dan dididik. Usia mereka juga bukan 2-4 tahun sebagaimana ditulis dalam berita itu, tetapi usia mereka antara 4-7 tahun.

Menurut Pastor Hubertus Magai, orangtua anak-anak yatim piatu ini berasal dari Paroki Santa Maria Menerima Kabar Gembira Bomomani dan Paroki Santo Antonius Wonorejo Nabire, Keuskupan Timika. Selain itu, anak-anak ini berasal dari pasangan suami-isteri kurang mampu yang memiliki 10 hingga 11 anak sehingga ada anak yang perlu dididik dan dibina agar kelak memiliki pendidikan yang layak. Pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan Bupati Nabire, Mesak Magai, S.Sos, M.Si menyusul berita yang dilansir media ini, kemarin. (PPN)