NABIRE – Program Keluarga Berencana (KB) yang dilaksanakan pemerintah untuk menyiapkan generasi berkualitas, generasi emas yang siap bersaing. Keluarga Berencana (KB) tidak dimaksudkan untuk membatasi kelahiran jumah anak bagi setiap keluarga,

Sebagian dari kita masih berpandangan, program KB untuk membatasi penambahan anak (membatasi kelahiran) di dalam keluarga. Bahkan sebagian besar orang asli Papua masih berpandangan bahwa untuk sementara ini, tidak perlu ada program KB karena jumlah OAP masih kurang sementara tanah masih luas.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Nabire, Agustinus Pigome mengingatkan, program KB yang sedang dilaksanakan pemerintah, tidak bermaksud untuk membatasi jumlah kelahiran anak di dalam keluarga. Tetapi, program keluarga berencana ini bermaksud untuk menyiapkan anak (genersi) yang sehat, pintar dan berkualitas sehingga nantinya akan muncul satu generasi yang berkualitas sehingga akan bersaingan di dalam persaingan global.

Pigome usai kegiatan pelayanan kepada akseptor KB untuk pemasangan dan cabut kontrasepsi Implant di Distrik Makimi yang dipusatkan di Posyandu Melati, Kampung Lagari Jaya, akhir pekan lalu menilai, pandangan masyarakat terhadap program KB sebagai pembatasan jumlah kelahiran anak di dalam rumah tangga ini sudah mulai berkurang da nada pemahaman penting ikutserta di dalam program KB. Masyarakat juga sudah mulai sadar akan pentingnya program KB, hanya sebagian yang belum memahami tujuan program KB dengan baik.

Oleh sebab itu, Pigome kembali mempertegas program KB untuk menciptakan generasi yang sehat, pintar dan berkualitas. Dengan kita mempersiapkan anak-anak yang sehat, pintar dan berkualitas program KB yang tengah dijalankan pemerintah untuk mempersiapkan generasi menuju generasi emas yang sedang dicita-citakan pemerintah.

Plt Kepala DPPKB ini menambahkan, kita menurunkan banyak anak di dalam keluarga tetapi apabila kondisi kesehatan anak-anak kurang memadai sehingga kualitas dan kepintaran anak juga ikut mempengaruhi sehingga agak susah untuk mendapatkan generasi yang berkualitas, Demikian juga halnya ketika banyak anak, akan merepot di dalam rumah tangga untuk mengurus kebutuhan sandang pangan, kesehatam dan pendidikan anak. Karena, anak “basusun”, yang repot orang tuanya. “Kasihan, banyak anak tetapi kesehatannya kurang baik, merepotkan orang tua untuk menyekolahkan anak. Tetapi dengan mengikuti program KB, jarak kelahiran bisa diatur sehingga, ada waktu untuk pertumbuhan anak-anak karena ada batas waktu, anak sehat dan orang tua juga sehat, tidak merepotkan orang tua mengurus pendidikan anak-anak, orang tua bias memperhatikan kesehatan dan pendidikan anak dengan baik, tidak terlalu merepotkan orang tua sehingga bisa mengurus anak-anak dengan baik untuk menyiapkan generasi yang sehat, pintar dan berkualitas sehingga kita ikut mempersiapkan generasi mendatang, generasi emas yang mampu menghadapi tantangan global. (ans)