NABIRE - Keluarga korban kasus penganiayaan Yus Yunus (YY), buntut dari kasus kecelakaan yang terjadi di Pintu Angin Dogiyai, Minggu siang (23/02/2020), kini menyisakan penyesalan bagi pihak keluarga, lantaran menjadi korban amukan massa yang dapat dikatakan salah sasaran setelah kejadian tersebut.Yus Yunus yang berprofesi sebagai sopir truk lintas kabupaten berasal dari Dusun Taramanu, Desa Sumberjo Kecamatan Wonomulyo, Sulawesi Barat (Sulbar) itu tewas diamuk massa, lantaran dituding menabrak salah satu pengendara motor DM (37) hingga tewas di tempat.Dilansir dari media online, Kakak YY, bernama Hasriani (29) menyampaikan, pihak keluarga sudah mengiklaskan kepergian korban (adiknya, red), dan ia sangat menyesalkan kejadian tersebut dan kronologi di lapangan yang tidak sesuai fakta sebenarnya.“Masalah ini jenazah (YY) yang kami (pihak keluarga) sayangkan itu, karena penyampaiannya tidak sesuai dengan fakta yang terjadi dan yang kami ketahui,” kata Hasriani, seperti dilansir dari laman media online Pattae.com.Diceritakan Hasriani, sesuai video kejadian yang dilihat serta keterangan dari saksi, korban DM diketahui meninggal karena menabrak babi, sementara adiknya tiba di lokasi dari arah berlawanan, dan banting stir ke kiri. Setelah itu adiknya menelpon istrinya mengabarkan bahwa ada kecelakaan.Lanjut Hasriani, saat bertemu istri korban, ia juga memeriksa Handpone milik adiknya yang berisi foto-foto saat terjadi kecelakaan.“Ketemu dengan istri adik ini,  coba periksa Hp-nya adik (YY) foto apa yang ada. Ternyata, foto yang ada, foto babi itu dan korban yang kecelakaan. Otomatis, itu menandakan bahwa ini adik ini sedang tidak menabrak sama sekali. Itu kejadiaannya,” lanjut Hasriani.Selain menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya, Hasriani juga menyayangkan tindakan oknum kepolisian yang berada di lokasi terjadinya penganiayaan. Di video tersebut, oknum polisi seolah tidak memberikan perlindungan, malah membiarkan kejadian tersebut berlangsung.Pihak keluarga juga berharap masih ada keadilan di negara ini. Selain itu, ia juga berharap kepada pihak Kapolda Papua dan Kapolri untuk menindak anggotanya berupa teguran agar kasus seperti yang menimpa adiknya tidak terjadi lagi di kemudian hari.“Kepada pimpinan tinggi dalam hal ini Kapolda Papua dan Kapolri agar memberi teguran untuk kasus ini agar tidak terjadi kembali nantinya, terlebih lagi hadir di TKP tapi tidak mau mengambil tindakan apapun,” harap Rahmawati (22) istri korban penganiayaan seperti dilansir media online pattae.com kemarin.(wan/ist)