NABIRE – Angka kematian warga di wilayah pelayanan Paroki Modio, Distrik Mapia Tengah cukup tinggi. Penyebabnya, kurangnya pelayanan petugas medis dan kurangnya kesadaran masyarakat. Pastor Paroki Modio, Romo Biru Kira dari Modio, Senin (13/4) mengungkapkan jumlah warga termasuk umat Katolik setempat cukup tinggi. Hampir setiap minggu ada warga yang meninggal. Romo menilai tingginya angka kematian tersebut, salah satunya karena kurang kesadaran masyarakat untuk mencari pengobatan medis. Ada kecenderungan warga untuk tidak segera mencari pengobatan, bersikap pasrah dan mulai sibuk ketika memasuki tahap serius, tidak berobat sejak awal. Selain itu, Pastor Paroki Modio ini mengungkapkan, sejak Puskesmas Modio terbakar hingga kini, selama dua tahun, hampir jarang melihat petugas medis bertugas di Modio untuk memberikan pelayanan pengobatan kepada masyarakat. Bahkan, tenaga medis saja jarang berada di tempat tugas. Menurut sumber yang layak dipercaya dari Modio mengungkapkan, sejak Puskesmas Modio terbakar, pelayanan medis di Puskemas kurang optimal. Hal ini terjadi karena tidak ada upaya dari Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai untuk membangun kembali gedung yang dibakar warga akibat kecewa dengan pelayanan medis di Modio. Akibatnya, saat ada pelayanan, rumah dinas yang disiapkan untuk petugas medis dijadikan sebagai tempat pelayanan oleh petugas, termasuk ketika ditempatkan Satgas Kaki Abu dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Disinyalir, petugas medis di Puskesmas Modio tidak betah di tempat karena, Dinas Kesehatan Kabupaten kurang respek terhadap kekurangan dan kebutuhan di lapangan. Selama dua tahun lebih, Puskesmas Modio tanpa gedung dan lucunya, selama itupula Dinas Kesehatan melakukan pergantian kepala Puskesmas sebanyak dua kali tanpa menertibkan pelayanan medis di lapangan. Tak hanya itu, Romo Biru Kira mengatakan angka kematian warga di wilayahnya tinggi, sumber yang layak dipercaya lainnya mengungkapkan tidak adanya petugas medis Puskesmas Pembatu Diyeugi, Pustu Atou dan Pustu Putapa juga menjadi salah satu faktor. Masyarakat di Diyeugi, Putapa dan Atou mau berobat kemana, tidak ada petugas medis selama ini. Akibat kesalnya kondisi tersebut, warga Atou membakar Pustu karena mereka merasa tidak ada gunanya gedung Pustu tanpa tenaga medis yang tidak bertugas di tempat. Mau berobat ke Puskemas Modio, jarak dari Diyeugi, Putapa dan Atou jauh, belum lagi di Puskesmas Modio sendiri, petugasnya juga jarang berada di tempat tugas. Walau demikian kondisi di lapangan, Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai terkesan kurang serius menangani kesehatan di lapangan. Padahal, dibakarnya Pustu Atou dan Puskesmas Modio oleh warga merupakan pukulan telak bagi Dinas Kesehatan Dogiyai agar lebih serius dengan penempatan tenaga medis dan pengadaan obat di Puskesmas dan Pustu.(ans)