NABIRE – Beberapa tahun silam, sebagian dataran Palu ramai dengan bisnis gaharu dan kKulit masoi. Bisnis dua hasil hutan tersebut resah bersama sulitnya menemukan gaharu dan masih di hutan belantara.

Bisnis gaharu yang menggiurkan karena mampu menghasilkan jutaan rupiah. Di tengah hiruk pikuknya gaharu, diantaranya ada yang menanam gaharu dengan harapan menjadi jutawan dikemudian hari. Bandung dan Kalimantan ikutan menciptakan bibit gaharu bersama obat suntik gaharu ditanaman budidaya gaharu.

Alhasil tak terdengar pembudidaya gaharu menjadi jutawan. Bahkan tak terdengar kabar gaharu taman berhasil.

Dengan belum ada hasil budidaya gaharu sekali pun disuntik dengan obat gaharu, rimbawan Marthinus Taa mantan staf Kanwil Departemen Kehutanan Wilayah I Irian Jaya dan staf Dinas Kehutanan Kabupaten Nabire mengalihkan pencarian kulit kayu dengan budidaya masoi.

Menurut Marthinus Taa saat ditemui di kediamannya, Sabtu (19/6/21), mengatakan, masoi merupakan tanaman keras endemis di Papua karena hanya ada dibeberapa kawasan, tidak seluruh Papua. Karena itu perlu dipertanyakan sehingga bisa dipanen beberapa tahun kemudian.

Oleh sebab itu, alumnus Fakultas Pertanian (Faperta) Uncen Manokwari ini membudayakan masoi dengan teknik seling (biji).

Menurutnya membudidayakan masoi lebih baik dibanding gaharu. Karena masih setiap pohon masoi menghasilkan uang dibanding gaharu yang belum tentu menjadi gaharu sekali pun sudah disuntik dengan bibit gaharu. Tetapi masoi, setiap pohon menghasilkan kulit akan menjadi kulit masoi untuk dijual.

Sekali pun demikian, kata Marthinus Taa, sementara ini belum ada yang membudidaya masoi. Padahal sementara ini 1 Kg kulit masoi bisa sampai Rp. 100.000. Kalau sudah dapat 5 Kg saja dari sepohon bisa menghasilkan Rp. 500.000.

Thinus Taa menilai, sekalipun belum memasyarakat untuk budidaya tetapi ada warga Nabire sudah mulai membudidayanya. Hal ini berkat ada permintaan bibit masoi dalam bentuk koker.

Ia mengaku sementara ini sedang menekuni pembibitan masoi lewat seling, bijinya dari lahannya. Bagi peminat disediakan 1 Kg bibit berisi 500 biji dengan harga terjangkau sehingga bisa dibudidayakan dalam 1 gentar untuk 400 biji dengan ukuran 6 meter.

Ayah empat anak ini mengatakan, hasil budidaya masoi bisa panen antara empat lima tahun ketimbang mengharap gaharu yang menggiurkan tanpa kepastian.

Menurutnya, budidaya masoi dan menyediakan bibit unggul beberapa tanaman keras seperti apokat, rambutan, durian dan dukuh sebagai upaya mengamalkan pengetahuan yang diperoleh di bangku pendidikan. Sehingga penemuan ilmu kepada masyarakat ini dapat dinikmati manfaatnya bagi masyarakat. Apalagi menghadapi erosi persaingan bebas yang penuh kompetitif.(ans)