Natal Kita Butuh Ketenangan
NATAL seperti halnya dengan hari besar keagamaan lainnya, butuh ketenangan, karena Natal sebagai pembawa suka cita dan kedamaian.Natal juga
NATAL seperti halnya dengan hari besar keagamaan lainnya, butuh ketenangan, karena Natal sebagai pembawa suka cita dan kedamaian.
Natal juga tidak identik dengan pesta kembang api dan bunyi-bunyian.
Tetapi Natal diwarnai dengan kemeriahan aneka lampu hias di dalam rumah dan tempat ibadah.
Oleh sebab itu, menjelang Natal bukan kesempatan untuk menjual aneka bunyi-bunyian, mercun dan petasan.
Natal juga bukan kesempatana untuk menjajakan aneka mainan bunyi-bunyian.
Namun, belum memasuki masa persiapan Natal, anak-anak sudah mulai dengan bunyi petasan, mainan yang mengundang kegaduhan di lingkungan.
Sekalipun, pelan tetapi pasti petasan akan mempengaruhi kesehatan terutama hati dan paru akibat asap dan bauh petasan, sekarang tidak terasa malah menghibur anak-anak tetai akibatnya akan terasan setelah 10-15 tahun ke depan.
Bunyi mercun dan petasan, meriam dan bola api lebih pas dibunyikan dan dimainkan ketika menjelang akhir tahun dan sambut tahun baru.
Karena saat itu, momennya untuk melepas kegirangan kita masing-masing.
Memang, jeda antara Natal dan tahun baru tidak lama.
Tetapi, sebagai umat beriman dan taqwa, tahu akan toleransi terhadap sesama pemeluk agama lain.
Natal sesungguhnya bukan identik dengan petasan dan mercun.
Oleh karena, sebagai warga yang baik, penjual dan pedagang yang menginginkan adanya tolerasi akan mengerti setiap hari raya keagamaan bukan pesta bunyi-bunyian tetapi pesta penuh dengan nuansa kedamaian tanpa bunyi-bunyian yang gaduh di tengah kehidupan bertetangga.
Warna Natal yang damai, suka cita tanpa bunyi-bunyian akan tercipta seperti hari-hari besar keagamaan ain seperti Idul Fitri, Waisak dan pesta keagamaan lainnya akan tercipta dalam suasana yang tenang, aman dan damai ketika masing-masing menahan diri, menghargai sesama agama lain dan sadar akan makna sebuah pesta keagamaan di antara kita.
Tanpa ditegur dan dilarang pun kedamaian itu akan tercipta jikalau semuanya sadar dan menghargai sesama di sekitar lingkungan tinggal.
Tetapi ketika kesadaran dan kebersamaan dilalaikan karena egosime kita masing-masing, hikmat dari hari raya keagamaan hanya akan dihayati oleh sebagian manusia, tanpa membedakan agama dan kepercayaan. (ans)
Bagikan artikel ini



