NABIRE – Hari minggu (5/6/22) merupakan Hari Pentakosta, hari kemenangan keluarga kudus, Keluarga Santo Yosep dan Bunda Maria, hidup di Nasaret ketika itu. Maka itu pada Hari Pentakosta ini Roh Kudus tidak membedakan siapa kamu. Hal ini dikemukakan Pastor Paroki Gereja Antonius Padua Wonorejo dalam misa budaya diikuti umat mulai dari KM100 hingga Kalibobo. 

Minggu itu seluruh kombas berkumpul bersama pewarta. Dengan busana adat masing–masing daerah penilik gereja Suku Moni dan Suku Mee itu. Pastor Paroki Pastor, Benyamin Magai, Pr, memakai topi noken pakai jubah merah di mimbar.

Kotbah Suku Mee dan Suku Moni selalu pakai noken, mengisi segala sesuatu barang. Hal yang sama ada tiga noken Dimi hati baik dan tidak melalui pikiran. Noken yang kelihatan kita mengisi barang yang kita butuhkan. Noken yang tidak kelihatan adalah pikiran yang dikerjakan oleh roh.

Sesuai dengan bacaan kis.2:1-11 seketika firman itu roh kudus turun dalam bentuk lidah api di atas kepala. Ketika itu para rasul yang meniru kehidupan separti Yesus. Kebaikan ditunjukan setiap manusia dalam hidup bersama.

Dimana roh kudus itu tidak membedakan siapa kamu. Hidup yang dituntun oleh roh tidak berpikir untuk kepentingan pribadi. Kebaikan dapat ditularkan dengan perbuatan untuk kepentingan bersama. Pelaku kombas imam rasul umat bisa dirasakan dalam hari raya Pentakosta ini. Sebagai paroki baru kekompakan umat atas bimbingan roh. Kegiatan kekompakan kerjasama diharapkan. Pembangunan Goa Maria, pembangunan pagar keliling dan gereja Paroki Wonorejo menjadi komitmen dan harapan bersama. Umat batas KM100 hinga Kalibobo tidak ada perbedaan dalam Tuhan. Warga diajak untuk saling mengasihi. Hal–hal yang baik tentu diisi dalam noken pikiran perasan dipraktekkan. 

Hari raya Pentakosta dipusatkan pada Minggu (5/6/22) di Gereja Antonius Padua Wonorejo. Warga Km100 dan Topo datang menggunakan truk pulang pergi. Suasana beda dari biasanya, pastor jamuan kudus tubuh kristus dan pemberkatan secara umum bagi anak–anak saat itu. (don)