NABIRE - Direktur RSUD Nabire, dr. Andreas Pekey, SpPD berpesan kepada masyarakat jika RSUD ini adalah rumah sakit masyarakat dan bukan rumah sakitnya petugas. Sejauh ini pelayanan di RSUD sudah dijalankan dengan baik. Hanya saja, masih ada sorotan tentang pelayanan.Kepada media ini, Direktur RSUD Nabire menjelaskan tentang persoalan di RSUD Nabire yang sangat kompleks. Kata dia, kalau saja masyarakat mau tahu atau penjelasannya, bukan saja satu persoalan. Contoh saja sampah dari hasil pelayanan pasien seperti jarum runtik, botol infus dan lain-lain setiap hari produksinya terus berjalan. Belum lagi masyarakat datang satu kampung ke rumah sakit membawa makanan dan segala macam yang menambah produksi sampah semakin banyak.“Ini baru masalah sampah, belum masalah yang lain. Bagi pengunjung saat ke rumah sakit yang suka merokok jangan merokok di tempat pelayanan, juga tidak boleh meludah pinang di rumah sakit. Rumah sakit ini mau diatur untuk pelayanan kesehatan bukan untuk datang kesini cuci baju, dan di sini bukan tempat bermain. Perawat RSUD mereka disini fokus untuk merawat orang sakit,” ujarnya.Lebih lanjut dikatakan, rumah sakit memang harus selalu bersih dan dari pihak RSUD juga membutuhkan kerja sama dengan masyarakat untuk saling pengertian apabila berkunjung ke tempat tersebut. Di RSUD sudah ada kotak pengaduan, sebagai direktur ia selalu setia menjawab pertanyaan masyarakat. Pengaduan, alasan masyarakat perlu mengetahui letak masalahnya tidak asal kritik sembarangan.“Saya mau sampaikan rumah sakit itu satu instansi yang kompleks karena di dalamnya itu menyangkut berbagai macam profesi.  Contoh untuk pelayanan satu pasien itu yang pertama mulai dari pendaftaran, itu sudah ada petugas sendiri berikut dari verikasi jaminan itu juga sudah ada petugas sendiri, dan masuk pelayanan ketemu dokter, dokter itu punya jasa juga, jasa dokter yang harus dibayarkan setiap pasien yang diperiksa, itu sudah ada aturannya, dari situ nanti disuruh periksa laboratorium, di laboratorium juga ada petugasnya, disana juga ada jasanya, untuk pembelian bahan pemeriksaan darah, lanjut bagian ronsen USG di situ ada petugas radiologinya, kemudian ada lagi masalah obat, pasien ke apotek mengambil obat, apotik juga ada jasa pelayanan obat, nah itu sangat kompleks, jadi kalau kita melihat persoalan sepotong-sepotong itu tidak akan habis,” ujarnya.Bicara pembiayaan, lanjutnya, rumah sakit ini sumber angarannya dari APBD maupun BPJS, atau kartu Papua Sehat. Namun saja Kartu Papua Sehat itu tidak dibayarkan lagi, tapi dari pihak RSUD Nabire masih menggratiskan. Jadi bandingkan saja orang Papua yang memeriksa secara berurutan penyakitnya dari awal sampai akhir gratis, tanpa Kartu Papua Sehat, belum seluruhnya orang Papua. Dan mereka berharap hal ini terbayar dari Kartu Papua Sehat, tapi sekarang belum terbayar. “Salah satu caranya pihak RSUD harus melobi ke pemerintah daerah, dan perlu diketahui sudah ada hutang sebelumnya yang perlu kita selesaikan dan hutangnya tidak sedikit untuk menutupi hutang-hutang pasien Papua yang berbulan-bulan lamanya. Kalau seandainya dana Kartu Papua Sehat itu dari dulunya ada mungkin keadaanya tidak seperti begini,” paparnya.Soal obat-obatan, lanjutnya, kita membagi obat-obat yang sudah ada disisi lain juga kita pakai system tender obat segala macam itu banyak persoalan juga. Persoalannya tentang ketersediaannya obat, pertanyaanya kenapa resep bisa keluar ?  Disisi lain BPJS mengatakan obat tidak boleh keluar, disisi lainnya juga selain BPJS pihak-pihak lain sangat kompleks di dalamnya. Direktur RSUD Nabire akan membuka lebih jelas bahwa di dalam resep yang dikeluarkan dari dokter itu tidak semua obat, hanya satu atau dua macam obat saja. Dan terkait yang lain-lain itu sudah ada prosedur operasi, orang awam tidak tahu, orang awam tahunya dari luar, dan sesuatu yang belum dibiasakan mereka rasa agak beda.(ist)