NABIRE - Keberadaan SMA Setia Yaro dibuka atau beroperasi semenjak tahun 2006 yang bernaung dibawa payung hukum Yayasan Setia dan kala itu Agustinus Abadatu, S.Pd menjabat kepala sekolah pertama dan SMA Setia Yaro telah resmi beroperasi aktifitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan menumpang langsung di gedung SMP Negeri 1 Yaro. Dan pada tahun pelajaran 2008/2009 telah menamatkan angkatan pertama dengan jumlah murid sebanyak 14 orang, setelah angkatan pertama sudah ditamatkan, maka pihak Yayasan Setia membeli tanah seluas 1 Ha atau 100X100 M dan pada saat itu pemerintah menurunkan bantuan pembangunan gedung RKB. Sehingga data yang dihimpun media ini, pihak Yayasan Setia hanya memiliki asset berupa tanah, sementara seluruh bangunan yang ada resmi dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Nabire kala itu dan juga ada bantuan pembangunan RKB oleh Pemerintah Provinsi Papua dan juga Pemerintah Pusat. Dalam perjalanan waktu semenjak SMA Setia Yaro dibuka pada tahun 2006 hingga saat ini belum ada perhatian dari pihak yayasan, sehingga seluruh biaya ditanggung oleh pihak sekolah melalui Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan juga dana pembangunan serta dana SPP yang dibayarkan oleh murid. Setelah Agustinus Ambadatu pada tahun 2016 lalu dimutasikan, sehingga Pemerintah Kabupaten Nabire melalui Dinas Pendidikan dapat mengangkat kepala sekolah baru, yakni Almarhum Yulius Lolongan dan kini Kepala SMA Setia Yaro dijabat lagi oleh Marthen Mabuy, S.Pd. Dari data di lapangan hingga saat ini SMA Setia Yaro hanya memiliki 2 orang guru yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) sementara dibantu oleh 12 guru honor, sehingga pembayaran gaji para guru honor ini tergantung cepat atau lambatnya pencairan dana BOS, sedangkan dana BOS itu diterima berdasarkan jumlah murid. Dengan kondisi yang ada pada saat ini, sejumlah pihak yang ditemui media ini menyarankan agar SMA Setia Yaro dapat diubah statusnya menjadi SMA negeri sehingga ada perhatian yang serius dari pemerintah, baik itu gedung maupun tambahan tenaga guru yang berstatus PNS.(des)