NABIRE - Dari hasil penelusuan wartawan media ini pada sejumlah sekolah, baik itu di tingkat SD, SMP, SMA dan SMK yang ada di daerah ini, ternyata ada beberapa kepala sekolah dan guru yang mengakui sangat dilematis mengambil keputusan dalam proses atau Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di tengah pandemi Covid-19.

Sebab, dari awal pembukaan tahun pelajaran hingga memasuki minggu atau pekan kedua ini, dari metode belajar dari rumah melalui media online dari HP android, program Ibu Pertiwi Memanggil melalui RR Nabire hingga belajar dari rumah melalui pengambilan soal atau offline.

Rata–rata tidak ditemui hasil yang mengembirakan atau belum maksimal dan kini muncul tawaran metode pembelajaran KBM yang baru, yakni sistim tatap muka dengan presentasi 50 persen (%) dan 30% dalam satu ruangan belajar dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Namun tawaran metode 50% dan 30% belum maksimal untuk dijalankan oleh semua sekolah, sebab di tengah pandemi virus corona ini, bukannya guru tenang dan fokus kesiapan KBM, tetapi guru lebih banyak berteriak dan memberikan pengawasan bagi peserta didik.

Sebab hingga saat ini tim gugus Covid-19 Pemerintah Pusat dalam laporannya per hari, jumlah pasien positif Covid-19 bukannya menurun jumlahnya secara nasional, sehingga dari data ini membuat sejumlah sekolah sangat dilematis melaksanakan KBM.

Untuk itu, sesuai rencana Pemerintah daerah Kabupaten Nabire untuk membuka sekolah SMP, SMA dan SMK pada awal bulan Agustus 2020, sesungguhnya perlu ada kajian yang lebih jauh, sebab virus corona yang mematikan itu tidak dilihat dengan mata untuk dihindari.

Karena wabah Covid-19 juga bukan hanya lewat hidung, mulut dan mata, akan tetapi juga lewat salaman atau pegangan sesama teman dan juga lewat tempat duduk, sehingga rencana pembukaan sekolah diawal bulan Agustus ini perlu ada kajian yang lebih matang agar jangan lagi dunia pendidikan menjadi korban Covid-19.(des)