NABIRE - Keinginan untuk memajukan dunia pendidikan di daerah Tertinggal, Terpencil dan Terluar (3T) juga menjadi keinginan para guru-guru yang bertugas disana.

Namun keinginan para guru yang bertugas di daerah 3T ini belum terwujud, karena janji pemerintah untuk melakukan pemutasian guru besar–besar agar ada pemerataan guru di semua sekolah hingga saat ini belum terwujud.

Sementara itu, para Kepala Sekolah (Kepsek) dan para guru ingin agar pemeritah melaui dinas pendidikan memikirkan adanya dana pendampingan, sebab dana Bantuan Oprasional Sekolah (BOS) tidak cukup untuk menjawab kebutuhan sekolah.

Demikian dikatakan Kepala SMP Negeri 2 Yaur Distrik Yaur, Arlius Samabami, S.Pd kepada Papuapos Nabire, Senin (29/6) di seputar halaman Dinas Pendidikan Nabire seraya menambahkan, jangan dipikir dana BOS sudah bisa menjawab semua kebutuhan sekolah.

Harus diingat, dana BOS itu dapat diterima berdasarkan jumlah murid atau peserta didik, sehingga untuk bayar gaji para guru honor saja sudah habis sehingga kebutuhan sekolah yang lain terpaksa harus ditunda, sementara kegiatan KBM terus jalan sesuai kalender pendidikan.

Sehingga bagi kami sekolah yang kini berada di daerah 3T juga ingin maju dan tidak ketinggalan soal kemampuan anak di bidang akademik, tetapi selalu menjadi korban akibat tidak ada pemerataan guru dan juga tidak ada dana pendampingan.

Maka untuk saat ini, kami meminta adanya ketegasan dari Kepala Dinas Pendidikan Nabire soal pemutasian guru yang merata ke semua sekolah dan juga kami usulkan adanya kebijakan dana pendampingan bagi semua sekolah yang berada di daerah 3T.

Sebab, rata–rata kami para guru yang bertugas di daerah 3T, gajinya dapat dihabiskan untuk biaya perjalanan ke tempat tugas dan juga biaya hidup, sehingga keluarga yang menjadi korban.(des)