Semuel Yamban : Jangan Ada Dusta Demi Sesuap Nasi
NABIRE - Seorang tokoh pemuda yang juga tokoh adat Kabupaten Nabire, Semuel Yamban, angkat suara karena sangat menyesal dan malu menanggapi
NABIRE - Seorang tokoh pemuda yang juga tokoh adat Kabupaten Nabire, Semuel Yamban, angkat suara karena sangat menyesal dan malu menanggapi keluhan dari sejumlah pengusaha, kontraktor, pimpinan BUMN dan beberapa instansi pemerintah tentang adanya pajak-pajak atau pungutan–pungutan liar (japre) juga intimidasi-intimidasi yang dilakukan oknum-oknum tertentu.
Dengan alasan dan nama masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat di wilayah tertentu dan masyarakat adat suku tertentu.
Dengan mengatasnamakan diri sebagai pimpinan dalam lembaga adat wilayah Nabire, ada juga yang mengaku sebagai kepala suku besar di wilayah ini, atau mantan pimpinan di lembaga lainnya.
Padahal beberapa diantaranya adalah pembohongan karena masa baktinya telah berakhir atau sudah habis dalam kelembagaan adat dan telah diganti dengan orang lain.
Tetapi mereka tetap menggunakan kapasitas dengan jabatan palsu untuk kepentingan perutnya sendiri.
Bahkan yang lebih memalukan lagi, ada oknum-oknum yang juga mengintimidasi pimpinan instansi tertentu untuk mendapatkan proyek-proyek pekerjaan di daerah ini.
Padahal mereka bukan kontraktor, dan akhirnya terjadi proyek pinjam bendera, alias proyek baku bagi saja.
Ada juga tindakan oknum-oknum mengintimidasi para pengusaha dan kontraktor di wilayah ini untuk mendapatkan bantuan Sembako Corona entah berapa ratus paket yang tidak tau atas nama masyarakat adat yang mana ? Menurut Sem Yamban, cukuplah jangan meresahkan masyarakat yang sudah banyak menderita dengan COVID-19.
Ditambah BLT yang tidak transparan dan tidak tepat sasaran, juga penutupan pelabuhan laut dan Bandara.
“Janganlah kondisi ini dimanfaatkan oleh kalian-kalian yang berbohong atas nama rakyat dan masyarakat adat untuk kepentingan kantong dan perutmu sendiri.
Semestinya anda sebagai orang yang pernah menjadi sesuatu dalam kapasitas adat diatas tanah ini, bisa memberikan pemahaman dan motifasi yang baik kepada masyarakat.
Juga menjadi jembatan kepada pemerintah daerah untuk semua keluhan masyarakat dan bisa berbuat adil, jujur juga bisa menghargai masyakat terutama masyarakat adat di wilayah ini.
Intinya kalau sudah trada kapasitas dalam lembaga adat atau apapun itu jangan jalan abunawas.
Kami yang lain bisa ambil tindakan dan hukum secara adat juga,” kata Semuel Yamban, dalam keterangan tertulis yang disampaikan ke redaksi.
Sebagai anak-anak adat, Sem Yamban menghimbau kepada Kepala Suku Besar Wate Kabupaten Nabire, Alex Raiki yang juga Ketua Badan Musyawarah Adat Suku Wate (BMA-SW) yang dipercayakan pemerintah untuk mengelola dan melegitimasi kekayaan adat di wilayah ini bersama 6 kepala suku adat Kabupaten Nabire dari timur sampai ke barat, kepada Ketua Dewan Adat Wilayah Nabire, John Wayar, S.IP, Ketua Lembaga Masyarakat Adat, beberapa lembaga adat ini secara resmi diakui pemerintah.
Dirinya mengharapkan untuk segera adakan konsolidasi atau satu kegiatan yang menjangkau dan merangkul masyarakat adat.
Sehingga hal-hal yang terjadi diatas yang telah mempermalukan kita tidak terjadi lagi.
Juga menjadikan kita sebagai pemilik hak adat dan hak ulayat di wilayah ini bisa dihargai.
“Jangan biarkan tong baku tipu sendiri dan mengorbankan pihak lain bahkan mengorbankan sodara kita sendiri,” tuturnya.
Sem menambahkan, untuk semua sodara di Nabire, ingat jaga kesehatan kita sendiri dengan cara jangan lupa pake masker saat keluar rumah dan beraktifitas.
Jaga jarak dan jangan lupa selalu cuci tangan.
Dan untuk pelaku ekonomi jangan memanfaatkan keadaan ini untuk menaikan harga barang.
“Mari kita saling membantu, saya pastikan anda tidak akan mati kelaparan diatas tanah yang kaya akan susu dan madu ini,” ujarnya. (ist)
Bagikan artikel ini



