Sosialisasi BIAS, YP2KP UNICEF Gandeng Dinkes dan Disdik
NABIRE - Gencar mensosialisasikan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), pihak Yayasan Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan Papua (YP2KP) didu
NABIRE - Gencar mensosialisasikan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), pihak Yayasan Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan Papua (YP2KP) didukung UNICEF gandeng Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire.
Dalam bentuk kegiatan sosialisasi dan menyatukan presepsi itu, tak lupa pihak terkait ini mengundang sejumlah awak media untuk memberikan masukan guna menyukseskan program tersebut.
Pantuan awak media ini, kegiatan yang berlangsung di salah satu rumah makan di Nabire itu juga dalam rangka menganalisa masalah program BIAS agar dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Untuk diketahui, walau masih ada penolakan dari beberapa pihak apalagi di masa pandemi Covid-19, program BIAS yang juga merupakan bentuk dukungan UNICEF dan Pemerintah Jepang untuk memastikan anak bisa kembali bersekolah dengan aman.
Kepala Dinas Pendidikan Nabire diwakili Koordinator Pengawas PAUD, TK, SD, SMP, Sugeng Prasojo menyatakan, pelaksanaan BIAS di tahun ini lebih sulit dibanding tahun-tahun sebelumnya saat belum terjadi pandemi Covid-19 dan program vaksinasi. "Sekolah enggan bahkan takut mengikuti imunisasi,” katanya.
Diterangkannya, sosialisasi dan pelaksanaan imunisasi untuk anak SD kelas 1,2, dan 5 yang biasanya dilaksanakan di sekolah-sekolah kini dialihkan di Puskesmas.
Sementara itu, Ketua Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire dr. Frans Sayori memaparkan perbedaan antara imunisasi dan vaksinasi. Imunisasi menurutnya pemberian zat tertentu guna menumbuhkan sistem kekebalan tubuh/antibodi dengan proses panjang untuk melawan suatu virus atau bakteri baik lewat suntik ataupun oral.
Sedangkan vaksinasi adalah memasukkan bakteri /virus yang sudah dilemahkan untuk membentuk kekebalan tubuh guna melawan virus atau penyakit tertentu.
“Sehubung dengan gencarnya pemerintah melaksanakan vaksinasi, sedangkan vaksinasi Covid-19 sendiri di sini masih menuai pro dan kontra tidak sedikit pula masyarakat yang terang-terangan menolak. Jadi saat kita melakukan program BIAS yang sedang berjalan menjadi lebih berat termasuk pemberian imunisasi rutin. Warga mengidentikan imunisasi dengan vaksin,” tutur Sayori.
Diantaranya melakukan publikasi secara intens melalui media massa baik offline maupun online dan radio (RRI), pembuatan brosur yang lebih mengena dan terarah seperti memanfaatkan kearifan lokal, pemanfaatan media sosial seperti WA, Facebook, dan TikTok.
Penggarapan iklan di media pun lebih simpel dan menghibur serta bahasa yang lebih mudah dipahami seperti bahasa daerah. Era digital yang menitikberatkan visual (video) lebih diprioritaskan.
Seorang wartawan senior Ridwan Aryanto (Papuapos Nabire) mengatakan disamping sosialisasi persuasif, sosialisasi klasik pun masih bisa dilakukan.
“Sosialisasi baku seperti pembuatan spanduk, baliho, pamflet, dan memanfaatkan media sosial semacam TikTok, sosialisasi keliling dengan menggunakan toa saya pikir masih efektif paling tidak bisa membantu sosialisasi reguler semacam cetak dan digital, dengan menyasar ke daerah–daerah pinggiran,” ucap Iwan sapaan akrabnya.
Dalam kegiatan BIAS tersebut sesuai informasi yang diterima media ini, mendapat dukungan dari Dinkes Provinsi Papua, Pemerintah Jepang dan UNICEF melalui mitra kerjanya Yayasan Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan Papua.(wan)
Bagikan artikel ini



