MOANEMANI – Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Dogiyai, Obet Magai, S.Th., menegaskan bahwa fondasi utama budaya membaca harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu rumah dan keluarga. Hal tersebut disampaikannya dalam acara pembekalan literasi yang digelar di Aula Koteka Moge, Monemani.

Menurut Obet, menciptakan suasana rumah yang nyaman adalah kunci utama agar anak-anak betah dan tertarik belajar. Ia mendorong para orang tua untuk memperhatikan penataan halaman rumah, tata rias kamar tidur, hingga penyediaan tempat bermain yang ramah anak.

Lingkungan yang tertata dengan baik dipercaya mampu merangsang imajinasi dan kreativitas anak sejak dini. “Literasi itu harus dimulai dari rumah dan keluarga sendiri. Buatlah suasana yang ramah anak agar mereka betah di rumah,” tegas Obet Magai dalam kegiatan yang berlangsung beberapa waktu lalu.

Program penguatan literasi ini menyasar 13 perpustakaan kampung dan 8 perpustakaan sekolah di wilayah Monemani. Dalam pelaksanaannya, Dinas Perpustakaan berfokus pada dua jalur pengelolaan, di antaranya perpustakaan masyarakat (kampung): Difokuskan pada peningkatan ekonomi masyarakat, karang taruna dan pembinaan anak usia dini. Sumber pendanaannya dioptimalkan melalui alokasi Dana Kampung.

Selanjutnya, perpustakaan sekolah. Berfungsi sebagai penunjang kurikulum belajar. Pengelolaannya didukung oleh dana BOS, serta digerakkan langsung oleh kepala sekolah, guru pustakawan, termasuk keterlibatan Kepala Sekolah Alkitab Hababu Woge Nuai Kimupugi Moanemani.

Untuk membangun kebiasaan (habit), Dinas Perpustakaan Dogiyai memperkenalkan sesi rutin ‘Jam Membaca’ setiap pukul 15:30 WIT setiap harinya.

Selain itu, masyarakat juga diajak untuk memanfaatkan pojok baca komunitas dengan menempatkan rak buku sederhana di tempat-tempat strategis, seperti balai kampung, tempat ibadah hingga ruang tunggu puskesmas.

Dalam kesempatan tersebut, Obet Magai juga memberikan apresiasi tinggi kepada para penulis buku asal Kabupaten Dogiyai yang telah berkontribusi nyata, di antaranya Andreas Yobe, Nason Pigai, dan Yakobus Dumopa. Karya-karya mereka diharapkan menjadi inspirasi dan koleksi utama di ruang-ruang baca masyarakat.

Untuk menjaga keberlanjutan program, Obet mengingatkan pentingnya merawat aset pustaka. Hal-hal teknis seperti menghitung jumlah buku secara berkala, memberi sampul penutup serta melindungi koleksi utama dari debu dan air hujan harus menjadi kebiasaan, yang lagi-lagi dimulai dari lingkungan keluarga.

Di akhir acara, Kepala Dinas Perpustakaan menyampaikan terima kasih dan apresiasi mendalam kepada seluruh jajaran panitia yang telah menyukseskan kegiatan ini, terutama kepada Ketua Panitia, Agustinus Tebai, S.Pd., dan Sekretaris Panitia, Bernadus Dogomo, A.Md.Pd. (don)