Tak Ada Perlakuan Khusus Pasien ODHA Saat Hadapi Covid-19
NABIRE – Kepala Puskesmas Bumiwonorejo, dokter Pingki Pancawandana, mengatakan bahwa dalam kondisi Pandemi Covid–19 saat ini, t
NABIRE – Kepala Puskesmas Bumiwonorejo, dokter Pingki Pancawandana, mengatakan bahwa dalam kondisi Pandemi Covid–19 saat ini, tidak ada perubahan perlakuan petugas kepada pasien ODHA di Puskesmas yang dipimpinnya.
“Tidak ada perlakukan khusus bagi mereka,” ujar dokter Pingki di Nabire, Selasa (24/3/2020).
Menurutnya, yang ditekankan kepada pasien ODHA adalah jangan sampai lupa untuk mengkonsumsi obatnya (ARV), yang sudah diberikan seumur hidup itu. Sebab dengan meminum obat ARVnya, pasien sudah memiliki kondisi imunisasi kekebalan tubuh yang bagus untuk menangkal kuman lainnya.
“Jadi status imunitasnya sama dengan orang yang bukan ODHA,” tuturnya.
Kata dokter Pingki, kekebalan tubuh memang berbeda dengan adanya HIV, tetapi dengan meminum ARV makan kekebalan tubuh bisa sama dengan orang yang bukan HIV. Hanya saja dengan keadaan yang membuatnya menjadi rentan bukan masalah ARV saja. Tapi kalau gaya hidupnya masih tidak sehat, maka keadaaan itu bukan karena ARVnya tetapi gaya hidup yang memancing untuk dia lemah lagi.
“Maka dengan gaya hidup yang sehat dan menuruti semua aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk menjaga jarak saja dengan karantina di rumah, tidak merokok dan makan makanan yang tinggi gula dan garamnya. Begitu juga pasien ODAH, asal jangan sampai lupa minum ARV,” kata dia.
Kalau corona, ada juga dikatakan bahwa kalau orang imunitas yang baik, terkadang hanya sebagai carrier (pembawa) dan bukan yang sakit. Yang sakit itu bila mereka yang dengan kesehatan imunitas yang rendah akibat ketahanan tubuh yang rendah pula dan apa penyakit yang tidak terkendali itu juga bagian yang membuat mereka sakit disbanding yang imunitasnya bagus.
“Jadi mereka yang kekuatan tunuhnya bagus mungkin saja hanya sebagai pembawa,” kata dokter Pingki.
Terkait apakah covid – 19 plus HIV kata, dokter Pingki karena memang di Nabire belum ada kasus. Tapi untuk memastikannya perlu mendapatkan infomasi tersebut dari juru bicara utama. Namun sampai hari ini, kemungkinan belum ada kasus yang pasiennya juga memiliki riwayat HIV.
Dia khawatir, jangan sampai ada pasien ODHA yang berusaha menimbun obat karena takut untuk datang ke kota atau Puskesmas. Terutama sebagian besar yang tidak berada di Nabire, berusaha untuk mengambil lebih banyak. Tetapi AVR tidak bila diberikan lebih karena pemantauan perkembangan kesehatannya harus terpantau. Maka dia berharap kepada pasien ODAH agar terus mengontrol ke layanan terdekat.
“Jadi kami berharap mereka (ODHA) tetap melakukan pengecekan diri di layanan terdekat di tempat tinggalnya. Misalnya di Dogiyai, atau Paniai. Sebab maksimalnya pemberian dalam tiga bulan sebesar jatah yang sudah disediahkan,” ujarnya. (pas)
Bagikan artikel ini



