NABIRE - Enam dari delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah berada di kawasan pegunungan, yang hingga kini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi proses pembangunan di provinsi baru tersebut. Kondisi geografis yang sulit membuat roda pembangunan dan perekonomian masih sangat bergantung pada dua daerah penyangga utama.

Hingga saat ini, hanya Kabupaten Nabire dan Kabupaten Timika yang menjadi barometer utama pembangunan di Papua Tengah. Sementara itu, enam kabupaten lainnya masih harus berjuang keras mengatasi keterbatasan aksesibilitas.

Kendala utama yang dihadapi enam kabupaten tersebut, termasuk Kabupaten Puncak, relatif sama yakni masalah transportasi. Akses menuju daerah seperti Puncak (Ilaga) bahkan hanya bisa dijangkau melalui jalur udara.

Meski konektivitas transportasi darat dan udara terus diupayakan, kendala biaya dan operasional di lapangan kerap menjadi hambatan. Kenaikan tarif transportasi udara maupun darat pada akhirnya berdampak langsung pada lonjakan harga barang pokok dan material bangunan.

Tingginya biaya logistik memicu lonjakan harga yang sangat fantastis di kawasan pegunungan. Sebagai gambaran, harga satu sak semen di Kabupaten Puncak saat ini telah menyentuh angka Rp2.800.000, menjadi harga semen termahal di Indonesia dan diperkirakan masih berpotensi naik.

Selain masalah logistik, gangguan stabilitas keamanan yang sering terjadi juga memperberat tantangan pembangunan. Baru-baru ini, masyarakat melaporkan adanya konflik di salah satu distrik di Ilaga Utara, Kabupaten Puncak.

Meskipun status keamanan kawasan tersebut belum ditetapkan secara resmi, pihak pemerintah daerah melalui jajaran staf terkait terus melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat demi menjaga kondusivitas wilayah.

Dari sisi anggaran, kemampuan fiskal daerah juga terbatas karena anggaran yang diterima setiap tahunnya hanya berkisar antara Rp1,3 triliun hingga Rp1,5 triliun, atau belum mencapai Rp2 triliun.

Pemerintah daerah sebenarnya telah membangun infrastruktur jalan penghubung, seperti rute dari Nabire menuju Puncak Jaya, serta rute Paniai–Ilaga hingga Puncak Jaya. Namun, pekerjaan peningkatan jalan, pengaspalan, serta jaminan keamanan di sepanjang jalur tersebut masih menghadapi kendala serius.

Di samping fokus pada infrastruktur dasar, pembangunan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan seperti SD dan SMP terus dilakukan di wilayah perkotaan. Pihak pemerintah daerah pun mengharapkan dukungan ketat dari sisi pengawasan dan pemeriksaan anggaran agar pembangunan berjalan tepat sasaran.

Guna menyiapkan sumber daya manusia yang berdaya saing, pemerintah daerah menggulirkan program prioritas di sektor pendidikan dan kesehatan. Melalui program Puncak Cerdas (2025–2026), bupati di delapan kabupaten menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga pendidikan, di antaranya Yayasan Pinter Semar Semarang dan Yayasan Magadu Kasih Jayapura, untuk membiayai studi ribuan siswa hingga ke luar negeri seperti Rusia, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, dan Inggris.

"Total mahasiswa yang dibiayai oleh bupati periode 2025–2030 dalam dua tahun terakhir ini sudah mencapai 1.669 siswa dan mahasiswa. Sementara di sektor kesehatan, Rumah Sakit Umum di ibu kota Kabupaten Ilaga kini telah beroperasi penuh melayani masyarakat selama dua tahun terakhir," kata Bupati Puncak, Elvis Tabuni, saat menyampaikan paparan dalam Rapat Koordinasi Bupati se-Papua Tengah di Ballroom, Kamis, 5 November 2026. (amd)