NABIRE – Pada rapat koordinasi (Rakor) yang membahas langkah-langkah penanganan Covid-19, Direktur RSUD Nabire, dr. Andreas Pekey, SpPD, mengatakan, sempat terjadi peningkatan kasus di Nabire. Terutama pada pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan di RSUD untuk Covid-19. Saat ini dari jumlah yang diperiksa, yang positif bisa mencapai 50 sampai 60 persen. Artinya, dari 26 orang yang diperiksa itu 13 kasus yang positif. 

“RSUD Nabire memiliki kapasitas tempat tidur untuk menampung pasien sebanyak 250 tempat tidur. Kita bisa bayangkan apabila dalam setiap hari ada penambahan kasus 10 saja, dikalikan 10 hari sudah 100 kasus. Kalau setengah dari tempat tidur RSUD ini terpakai oleh pasien Covid-19 maka kita akan susah terutama untuk pasien-pasien yang lain,” ujarnya. 

Dikatakannya, saat hari ini sedang terjadi penambahan kasus, kita belum tahu ini varian apa. Yang jelas, katanya, kasusnya bertambah dan juga menyumbang terhadap kasus kematian. 

“Tadi jam 11 ada satu kasus yang meninggal kebetulan pasiennya ada riwayat darah tinggi dan stoke dan terkonfirmasi Covid-19,” tambahnya. 

Lanjut dia, dari penambahan kasus dengan kapasitas tempat tidur yang ada di RSUD Nabire, jika tidak dipikirkan alternatif penambahan tempat tidur misalnya, maka kedepan akan susah. 

“Di RSUD setiap hari kita menggunakan APD, barang medis habis pakai, kita menggunakan oksigen, kita memberikan makanan juga kita memberikan obat-obatan. Kita bisa bayangkan dengan peningkatan kasus Covid-19 ini maka biaya kebutuhan itu akan bertambah. Apalagi kita tahu bersama bahwa RSUD membiaya pasien-pasien KPS sebanyak 50 persen dimana tahun 2020 yang katanya sudah ada Pergub namun belum ada pencairan dari provinsi,” ujarnya.

Dikatakan dr. Andreas Pekey, SpPD, RSUD dalam kondisi yang berat. Artinya kalau RSUD menanggung pasien Covid-19. Kata di, sebenarnya untuk biaya pasien Covid-19 ini ada namanya klaim Covid-19. Kementerian Kesehatan akan membayarkan ke rumah sakit berdasarkan rumah sakit merawat pasien Covid-19. Namun sejak bulan Oktober 2020 sampai hari ini Kementerian Kesehatan belum membayarkan klaim Covid-19. 

“Jadi hamper 10 bulan ini kami melayani apa adanya. Tidak ada klaim Covid-19, tidak ada pemasukan KPS dan kami pakai apa adanya dari penerimaan BPJS atau pasien-pasien KIS,” ujar dia. 

Sehingga kalau kita tidak mengambil tindakan, rumah sakit akan full, pasien lain akan korban, kita pun akan kewalahan kedepan. Dirinya bersyukur stok oksigen masih ada, karena jika oksigen habis kita akan diperbadapkan dengan persoalan yang terjadi di RS Sarjito Yogyakarta.

“Untuk mencegah hal-hal seperti ini kedepan, Rakor ini adalah forum yang tepat. Kita tidak bisa lagi santai-santai, kita harus mengambil tindakan segera. Artinya rumah sakit mungkin tidak bisa berdiri sendiri kedepan, untuk perawatan pasien bisa berkolaborasi dengan klinik-klinik ataupun Puskesmas-Puskesmas dan sebagainya,” kata dia. (ros)