Termotivasi Kembangkan Bahan Dasar Lokal
INI, salah satu dari segelintir orang yang termotivasi untuk berbuat sesuatu setelah melihat hasil karya cipta orang lain dari bahan yang mu
Bagikan
INI, salah satu dari segelintir orang yang termotivasi untuk berbuat sesuatu setelah melihat hasil karya cipta orang lain dari bahan yang mudah diperoleh di daerahnya sendiri. Motivasi itupun muncul karena melihat karya cipta orang berupa lukisan, ukiran dan bahan cinderamata lainnya dari bahan-bahan yang sederhana, bahkan paling sederhana dan sering dibuang-buang tetapi bila dikelila bisa mendatangkan penghasilan yang menjanjikan.“Saya lihat, orang lain bisa berbuat sesuatu menjadi indah dan sumber uang. Padahal bahan-bahan itu sering kita injak-injak. Saya lihat bambu yang kita biasa injak-injak di kampung, orang lain menjadikan barang-barang itu menjadi lukisan, ukiran yang bagus dan dibeli orang,” urai niat awal termotivasinya, Marthina Deba mengoleksi dan menjualkan kerajinan lokal berupa anyaman, tas khas Papua, miniatur budaya lokal sebagai cinderamata dari Nabire.Jebolan Diploma tiga Pariwisata dari Manado ini mengisahkan, selama kuliah, pikiran untuk mau berbuat sesuatu dari bahan-bahan lokal yang mudah dijangkau ini terus menantang selama menimba ilmu di Manado. Niat untuk memulai dari bahan lokal ini tak putus-putusnya, sekalipun dari Menado hijrah ke jawa untuk menyelesaikan program sarjana Pariwisata di Bandung. Selama di tanah Sunda, perempuan kelahiran Kimupugi, Moanemani, Kabupaten Dogiyai ini tidak lupa bahkan lebih menambahkan modal pengetahuan untuk mengembangkan sesuatu di Nabire setelah menimba ilmu dan pengetahuan di rantauan orang.Untuk mewujudkan tekadnya itu, sebelum pulang ke daerahnya, Nabire, merencanakan akan membuka usaha di Bandara Nabire berupa tempat jual anyaman dan ketrampilan khas Papua. Rencananya terwujud.Martina mengawali ushanya dengan menyediakan sebuah lemari kaca dan satu kursi di samping pintu masuk Bandara Nabire dengan menyajikan beberapa anayaman kerajinan khas Papua, ukiran di atas kulit kayu dan beberapa cinderamata lokal.Selama beberapa tahun, dengan modal semangat berbuat sesuatu untuk negeri ini, sarjana pariwisata ini menjajal beberapa anyaman dan hasil kerajinan lokal lainnya di samping Bandara Nabire.Setelah membuka usaha seni budaya lokal di Bandara, kini, sejak beberapa bulan lalu, Martina, anak seorang petani di Kampung Kimupugi, Moanemani ini menyewa satu kamar di perempatan jalan Sisingamangaraja, tepatnya di depan GKI Sion, mata jalam Kodim 1705 Paniai. Di tempat ini, betul-betul mendiri karena harus menyewa los untuk mempromosikan sebi budaya lokal melalui Artshop Budaya.Di tempat baru, Martina selain menjual anyaman lokal seperti noken dan tas dari kulit, juga menjual beberapa hasil kerajinan lokal yang bisa dibawa pulang sebagai cinderamata. Tidak suka dengan hiasan dan cinderamata, ada pula baju promosi budaya Papua.Beberapa waktu, Martina mengungkapkan ada tawaran dari salah satu Bank di Nabire untuk mau membantu modal dengan syarat menjadikan artshop tersebut sebagai hasil binaan bank yang bersangkutan. Namun, ia menolak karena tidak mau kalau binaan bank karena ini usaha murni sendiri karena kemauan sendiri yang bertumbuh ketika merantau dan melihat hasil karya orang dari bahan baku yang sederhana dan mudah diperoleh.“Saya taruh patung ini untuk menyampaikan Selamat Datang kepada pengunjung. Kalau tidak ada orang di depan ini, patung ini sebagai tanda untuk menyampaikan selamat datang,” jelasnya sambil memperlihatkan patung “Mbitoro” mini di depan artshopnya. (frans tekege)
Bagikan artikel ini



