NABIRE - Uskup Keuskupan Agung Agast, Aloysus Murwito, OFM, usai perayaan misa meriah di Gereja Katolik Sahabat Kita lantai dasar, Minggu (11/10) kemarin dalam wawancara dengan wartawan Papuapos Nabire berkaitan dengan intisari dari homili (kotbah) bapak Uskup mendengar untuk perubahan, dalam arti yang luas diri kita dan lingkungan sekitarnya.

Mendengar untuk sebuah perubahan kalau Tuhan  menghendaki, Imamat sebuah keabadian yang ditularkan iman kaum sekitarnya.

Tuhan tak pernah menanggap diri hebat, namun tugas perutusanya Dia merendahkan dirinya mewujudkan keselamatan.

Dalam kuasa kemurahan Allah, dasar persiapaan Imam dan Diakon melalui usaha intelektualitasnya, disini mendengar langkah usaha yang amat penting cita rasa kita.

Untuk mendengarkan bisikan percikan hati nurani kita.

Tugas imamat telah diberitahukan sejak awal pendidikan imamat.

Artinya hal-hal baik yang diperjuangkan dalam pengembalaanya mengembangkan orang-orang yang setia mendengar untuk sebuah perubahan.

Mendengar tidak mudah melewati begiru saja.

Ada seruan  setiap uskup mendidik untuk menjadi imam, pastor diakon yang telah ditabiskan tadi melaksankan  tugas perutusannya dalam wilayah Keuskupan Timika itu konsep dasar yang disampaikan oleh Mgr  Jhon Pllep Saklie sebagai dasar awal menjadi orang setia pada tugas kenabian, jawab uskup lebih banyak  tenggelam oleh kesibukan dirinya sendiri.

Setia mendengar itu tidak mudah mengeluarkan energi yang banyak peristiwa dalam lingkungan kita.

Jangan lewatkan begitu saja mendengar untuk memperbaiki pancaindra kita tak bisa menjadi bising, apalagi yang dipakai untuk mendengar wujud memperhatikan melayani diri kita sendiri dan tidak untuk disibukkan diri.

Uskup lekas bergeser kursi mendengar komentar dan isi homili tadi. 

Seorang imam memiliki kepekaan kemampuan perutusan mampu mendengr siapa saja diurus  tugasnya dia siap mendengar.

Perhatikan janji  yang diungkapkan untuk merubah ujarnya uskup sambil berpindah masuk ruangan.(don)