Warga Djajanti Tolak Tim Kes Imunisasi
NABIRE - Warga Perumahan KPR Djajanti khususnya wali orang tua murid SD Negeri Jayanti menolak Tim Kesehatan Imunisasi, Jumat (6/8) pagi.&nb
NABIRE - Warga Perumahan KPR Djajanti khususnya wali orang tua murid SD Negeri Jayanti menolak Tim Kesehatan Imunisasi, Jumat (6/8) pagi. Wali orang tua murid menolak pemberian imunisasi BCG dan Campak kepada anak-anak karena terjadi kesalahan teknis medis terhadap pengadaan obat-obatan dan warga juga tidak tahu asal tim kesehatan tersebut.
Salah seorang wali orang tua murid, Agustinus Kotouki di kediamannya Jumat (6/8) sore mengatakan wali orang tua ragu atas kehadiran tim kesehatan karena mereka tidak menunjukkan surat perintah jalan dinas, apakah dari Puskesmas Bumiwonorejo ataukah dari Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire. Ketika wali orang tua mempertanyakan asal tim kesehatan tersebut, tim tidak menjelaskan tim kesehatan dari mana.
Perawat kesehatan yang melalang buana di Nabire dan Dogiyai ini juga mengungkap kesalahan yang dilakukan tim kesehatan tersebut tidak membawa vaksin di Culbbox agar tidak rusak tetapi mereka bawa di karton dan ditempatkan di tempat terbuka.
Ia menjelaskan, membawa vaksin untuk imunisasi harus di tempat dingin dalam culbox agar vaksin tidak rusak. Kalau dengan karton dan di tempatkan di tempat terbuka dan panas, vaksin bisa rusak.
Didampingi alat simpan vaksin, tim kesehatan juga terkesan mengejar target tertentu tanpa memperhitungkan pelayanan medis yang benar. Sebab, tiga jenis vaksin yang direncanakan hari itu, imunisasi masing-masing ada ketentuan pembatasan usia dan jenis obat tertentu harus ada obat penawar panas. Karena setelah diresmikan pas panas sehingga perlu disertai dengan obat penurut panas.
Menurut Agustinus, sesuai penjelasan awal oleh tim, imunisasi tersebut dalam rangka pegangan cocok, kelompok usia anak diberikan imunisasi berupa BCG, dan campak agar anak-anak punya persiapan antibodi ketika terdapat virus corong.
Ahistoris menilai upaya tersebut baik hanya saja tim kesehatan tidak menjelaskan asal institusi, pengamanan obat vaksin tidak sesuai standar kesehatan sehingga anak-anak bisa saja menerima vaksin rusak sehingga untuk menghindari kemungkinan lain yang muncul belakangan, wali orang tua meminta kembali tanpa imunisasi di SD Negeri Jayanti, Jumat pekan lalu. (ans)
Bagikan artikel ini



