NABIRE - Salah seorang ibu yang tak mau dikorankan namanya, menyampaikan hampir saja setiap ada mobil tangki yang masuk ke wilayah mereka ke salah satu pangkalan Minyak Tanah (Mitan) subsidi. Saat mereka pergi untuk mengantri bersama tetangga mereka, mereka pulang hanya bawa gelon kosong, dengan keluhan warga Sanoba ini diminta perhatian dari pihak terkait.Pangkalan minyak tanah di Kabupaten Nabire yang jumlahnya sudah memasuki  titik lingkungan kelurahan dan desa, tapi saja keluhan warga Sanoba atas di wilayah bekas rumah makan Bunaken yang sekarang Rehobot, sepertinya  warga di wilayah itu masih mengeluhkan soal jatah minyak tanah subsidi. Kata dia, minyak tanah sebagai kebutuahan rumah tangga sangat dibutuhkan sekali untuk  masak, namun saja warga Sanoba Atas bernasib naas, pasalnya  setiap minyak masuk mereka pergi untuk mengantri, mereka tidak mendapat  jatah. Keluhan warga Sanoba atas ini bukan saja hari ini, tapi sumbernya sudah pernah adukan kepada media ini. Sumbernya dari dulu sudah disampaikan, tapi kemarin seorang ibu yang mau mewakili warganya yang tidak mendapat minyak tanah subsidi sangat mengharapkan pihak terkait agar menyampaikan kepada pemilik pangkalan supaya jatah yang dibagi harus merata. Menurutnya, pangkalan minyak tanah di Kabupaten Nabire untuk melayani masyarakat Indonesia, salah satunya di Papua, Kabupaten Nabire. Apabila minyak tanah salah digunakan dengan menjual atau mencari keuntungan yang lebih besar dalam  jumlah drum, maka akan dikenakan sanksi dari agen minyak tanah dan pemerintah, bahkan sampai bisa ditutup. Oleh sebab itu, pangkalan minyak tanah yang ada di Kabupaten Nabire diimbau untuk melayani warga sampai menyentuh kalangan bawah. “Itu minyak tanah negara yang dikasih ijin kepada pangkalan dan itu bukan minyak pribadi, itu adalah minyak masyarakat. Pangkalan hanya melayani saja yang mendaptakan ijin lewat pemerintah daerah dan dilayani oleh pelaksana pemerintah agen Mitan yang ada di Kabupaten Nabire,” pungkasnya.(ist)