NABIRE — Sebanyak 56 siswa-siswi SMK Kesehatan Anigou Nabire dilepas untuk mengikuti Praktik Kerja Lapangan (Prakerin) selama tiga bulan di sejumlah instansi pemerintah dan fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Nabire dan wilayah ibu kota Provinsi Papua Tengah.

Pelepasan peserta Prakerin tersebut menjadi momentum bagi para siswa untuk menguji sekaligus menerapkan ilmu yang selama ini diperoleh di bangku sekolah ke dalam lingkungan kerja yang sesungguhnya.

Kepala SMK Kesehatan Anigou Nabire, Yosafat Nawipa, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya mengingatkan para siswa agar tidak menganggap kegiatan Prakerin sebagai kegiatan untuk bersenang-senang.

“Selama tiga bulan anak-anak akan belajar langsung di luar sekolah. Ingat dan camkan baik-baik, selama Prakerin bukan untuk jalan-jalan, tetapi belajar langsung pada dunia nyata,” tegas Yosafat saat memberikan arahan kepada para siswa, Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, Prakerin merupakan bagian penting dari proses pendidikan di sekolah kejuruan. Para siswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga harus mampu membangun sikap disiplin, tanggung jawab dan etika ketika berhadapan langsung dengan dunia kerja.

Sebanyak 56 siswa akan ditempatkan di sejumlah lokasi Prakerin, di antaranya Dinas Sosial Provinsi Papua Tengah, Dinas Sosial Kabupaten Nabire, puskesmas serta RSUD Nabire.

Yosafat meminta seluruh siswa menaati aturan dan waktu kerja yang berlaku di masing-masing tempat penempatan.

“Belajarlah untuk mendisiplinkan diri. Masuk sesuai waktu yang sudah ditetapkan di mana kalian melaksanakan Prakerin,” pesannya.

Ia juga memastikan para siswa tidak dilepas begitu saja. Selama mengikuti kegiatan tersebut, mereka akan mendapatkan pendampingan dari guru sesuai jurusan masing-masing.

Bahkan, sebagai kepala sekolah, Yosafat menyatakan akan turun langsung ke sejumlah lokasi untuk melihat perkembangan dan memastikan kegiatan Prakerin berjalan dengan baik.

Selain disiplin, ia menekankan pentingnya menjaga sikap dan nama baik selama berada di lingkungan kerja.

“Selama berada di masing-masing tempat Prakerin, jaga nama baik sekolahmu, jaga nama baik gurumu dan jaga nama baik dirimu sendiri,” katanya.

Bagi siswa SMK Kesehatan, pesan tersebut dinilai penting karena selama berada di fasilitas pelayanan kesehatan mereka akan berhadapan langsung dengan pasien maupun masyarakat yang membutuhkan pelayanan.

Karena itu, Yosafat meminta para siswa menunjukkan sikap sebagai seorang pelayan yang ramah, sopan, bertanggung jawab dan mampu menghargai setiap orang yang mereka layani.

“Jangan lupa banyak bertanya untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. Di tempat Prakerin kita berhadapan dengan pasien atau orang yang membutuhkan bantuan kita,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan siswa agar tidak malu bertanya kepada para senior maupun tenaga profesional di tempat mereka menjalani Prakerin. Setiap pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama tiga bulan tersebut harus dicatat dan dipelajari dengan baik.

Pasalnya, seluruh pengalaman selama Prakerin nantinya tidak berhenti ketika siswa kembali ke sekolah. Berbagai kegiatan dan pengalaman yang diperoleh akan dituangkan dalam laporan sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan Prakerin.

“Apa yang disampaikan oleh senior harus diingat dan dicatat dengan baik, karena setelah Prakerin semua itu akan dibuat dalam sebuah tulisan yang menjadi laporan hasil Prakerin,” jelasnya.

Yosafat berharap tiga bulan pelaksanaan Prakerin dapat menjadi pengalaman berharga bagi seluruh peserta. Ia ingin para siswa pulang ke sekolah bukan hanya membawa laporan, tetapi juga membawa tambahan pengetahuan, keterampilan, kedisiplinan dan pengalaman menghadapi dunia kerja secara nyata.

Sebab, bagi siswa SMK Kesehatan Anigou Nabire, Prakerin bukan sekadar memenuhi kewajiban sekolah. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan jembatan awal untuk mempersiapkan diri menjadi tenaga yang mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan. (des)