Dongkrak Ekonomi UMKM, Kadin Papua Tengah Dukung Penuh Papua Reggae Festival 2026
Dukungan tersebut disampaikan langsung Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Papua Tengah, Alexzander Gobai.
Pencarian
3129 artikel cocok dengan pencarian Anda.
Dukungan tersebut disampaikan langsung Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Papua Tengah, Alexzander Gobai.
Dalam sambutannya, Gubernur Meki Fritz Nawipa menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, musisi, seniman dan pihak yang telah berkontribusi menyukseskan penyelenggaraan Papua Reggae Festival ke-11.
Peringatan HUT ke-70 GBGP di Tanah Papua mengangkat tema: ‘Bangkit dalam Pengharapan, Menabur dalam Kasih untuk Menjadi Terang’, yang berlandaskan pada Firman Tuhan dalam Kitab Yesaya 60:1.
Menurut Gobay, terdapat empat hak dasar anak yang harus menjadi perhatian bersama, yakni hak kelangsungan hidup, hak perlindungan, hak tumbuh kembang dan hak partisipasi.
Nabire pun mencatat dirinya sebagai ruang pertemuan besar musisi reggae Papua. Dari panggung festival, musik yang selama ini tumbuh dari komunitas dan jalanan itu menjelma menjadi kekuatan budaya yang menyatukan seniman dari berbagai wilayah.
Pembukaan PRF XI dihadiri Ketua Papua Reggae Festival bersama jajaran panitia, tokoh adat, tokoh budaya, tokoh masyarakat, pegiat seni, musisi dan seniman. Sejumlah kelompok band reggae dari berbagai wilayah Tanah Papua turut ambil bagian, termasuk dari Lembah Baliem, Papua Pegunungan, Papua Selatan dan Kabupaten Nabire sebagai tuan rumah.
“Ini merupakan HUT akbar yang pertama kali. Baru pertama kali di usia ke-70 tahun ini kita laksanakan secara akbar di Kota Nabire, Provinsi Papua Tengah,” ujar Bernard saat diwawancarai Papuapos Nabire, Kamis (15/10/2026).
Kepala DLHKP Provinsi Papua Tengah, Yan Richard Pugu, S.Hut., M.Si., menyampaikan saat ini penanganan sampah di Kabupaten Nabire telah melibatkan peran aktif dari pihak swasta.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanahan (DLHKP) Provinsi Papua Tengah, Yan Richard Pugu, S.Hut., M.Si., menyampaikan penanganan Karhutla membutuhkan keterlibatan lintas sektor secara menyeluruh.
Menurut Yulius, konflik bersenjata dan kontak tembak yang terjadi dari tahun ke tahun telah menimbulkan kekhawatiran mendalam di tengah masyarakat.