58 Mama Penjual Noken Minta Tempat Julana Layak
NABIRE - Sebanyak 58 mama–mama asli Papua yang kesehariannya menjual noken dan asesoris di depan Pertokoan dan depan Taman Gizi Nabire meminta agar Pemerintah Kabupaten Nabire membangun tempat jualan yang layak bagi mereka.

NABIRE - Sebanyak 58 mama–mama asli Papua yang kesehariannya menjual noken dan asesoris di depan Pertokoan dan depan Taman Gizi Nabire meminta agar Pemerintah Kabupaten Nabire membangun tempat jualan yang layak bagi mereka.
Dan 58 mama-mama Papua ini juga menyatakan diri bahwa mereka tidak akan pindah untuk berjualan hasil karya mereka di pasar Mama-mama Papua yang kini sedang dalam tahap pembangunan. Sebab menurut mereka sangat jauh dari pandangan pembeli noken.
Menurut mama–mama penjual noken, rata–rata orang yang membeli noken mereka itu adalah orang–orang yang hendak berangkat keluar Nabire. Sehingga sangat pantas dan jelas mereka harus berjualan di depan jalan utama.
Mama–mama penjualan dan pengrajin noken ini meminta agar Pemkab Nabire membangun rumah atau gedung yang layak pada lokasi yang kini sedang digunakan sebagai tempat jualan.
“Kami minta Pemda cuma tambah bangun gedung layak sebagai tempat jualan kami di lokasi yang sama. Dengan ukuran 3 meter dari tempat yang ada saat ini. Karena kami tidak akan dipindahkan untuk berjualan di Pasar Mama-Mama Papua yang baru dibangun,” kata Ketua Pengrajin Noken, Hana Herlina Kotouki kepada Papuapso Nabire, Kamis (2/2/23).
Ditambahkan, dirinya tidak asal bicara tetapi juga sudah buat proposal kepada Pemkab Nabire melalui Dinas Perdagangan Kabupaten Nabire beberapa hari lalu.
“Dan kami ingatkan pemerintah daerah bahwa kami tidak bisa dipaksakan ke pasar baru mama-mama Papua. Lebih baik pasar itu digunakan oleh mama-mama Papua lain untuk menjual sayur, petatas, keladi, pinang dan lainnya. Sebab itu kebutuhan hari-hari dalam rumah tangga,” ujarnya.
Kata dia, penjualan anyaman noken bukan baru dilaksanakan. Tetapi ini sudah memasuki usia 9 tahun lebih.
“Pada awalnya kami menutup dengan tenda, kedua dengan payung besar pemberian pemerintah. Tetapi juga hancur dan saat ini kami pakai atap daun seng dengan kayu apa adanya,” ujarnya.
Ke depannya, pihaknya minta Pemkab Nabire membangun gedung atau tempat jualan permanen yang layak di tempat yang sama.
“Kami mama-mama yang berjualan selama 9 tahun lebih ini, telah merasakan hasil dari jualan kami. Dari hasil itu bisa untuk biayai menyekolakan anak, menjawab kebutuhan sehari-hari dan biaya berobat jika kami atau keluarga sakit,” ujarnya.
Sebagai mama–mama yang hanya berjualan noken, kata dia, mempunyai moto hidup “Walaupun di bawah terik matahari, terkadang di siram hujan dan menghirup debu serta berjualan di tempat apa adanya, tetapi kami punya semangat berjualan”.
Dan sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, mama-mama Papua ini punya dasar hidup yang terdapat di dalam Kitab Mazmur : 150 ayat 6 ”Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan Haleluya” dan juga berpedoman pada Alkitab Pertama Tesalonika Pasal 5 ayat 18 ”Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Tuhan di dalam Yesus Kristus Tuhan kita,”.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Nabire, Yermias Anouw, S.Pd yang ditemui Papuapos Nabire mengatakan, dirinya sudah ditemui oleh 58 mama–mama Papua. Mereka juga memyerahkan proposal dan pada intinya mereka minta dibangun tempat jualan yang layak.
Permintaan pembangunan tempat jualan yang layak itu di tempat yang sama, sehingga selaku bawahan dari Bupati telah menjelaskan bahwa proposal yang disampaikan ini akan ditindaklanjuti lagi ke Bupati Nabire.
Dirinya meminta agar mama-mama Papua yang tergabung dalam kelompok noken untuk tetap bersabar. Karena selaku kepala dinas akan meminta pendapat dan persetujuan dari Bupati, karena semua menyangkut anggaran. (des)
Bagikan artikel ini



