Andrias: Lanjuti Penandatangan MoU Bangkitkan Budaya Kopi Arabika
DOGIYAI - Dalam laporan panitia yang disampaikan Andrias Gobai, S.Sos.,MA menekankan pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari penandatang
Bagikan
DOGIYAI - Dalam laporan panitia yang disampaikan Andrias Gobai, S.Sos.,MA menekankan pelatihan
ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan MoU / nota kesepahaman antara
Pemerintah Kabupaten Dogiyai dan Sustanaible Coffee Platfromn of Indonesia
(Scoupi) pada tanggal 24 Agustus 2017 lalu. Sebelum pelatihan ini terselenggara, SCOUPI juga telah memperjuangkan beberapa agenda kegiatan
berskala nasional yang melibatkan langsung perwakilan dari Dogiyai, diantaranya
Kabupaten Dogiyai telah memiliki Master
Trainer atau pelatih utama nasional kurikulum Kopi Arabika. Pada kesempatan pembukaan acara pelatihan petani kader, Perwakilan Scoupi yang dihadiri Ibu
Cahayadalam. Di tempat yang sama, dalam sambutannya ikut menekankan bahwa
Scoupi dan Pemerintah Kabupaten Dogiyai bersama mitra lainnya berkomitmen dan
berkolaborasi bersama untuk mewujudkan implementasi dari kesepakatan kerjasama
agar beberapa waktu kedepan dapat melihat hasilnya. Acara pembukaan pelatihan pembinaan kemampuan teknologi industri pengolahan kopi (Pelatihan
petani kader budidaya dan penanganan pasca panen Kopi Arabika) Kabupaten
Dogiyai dibuka oleh Sekretaris Daerah Dogiyai Natalis Degei, S.Sos. Dalam sambutannya Sekda Dogiyai menceritakan, satu dekade petani kopi Kamuu – Mapia meninggalkan
lahan kebunnya. Para petani tidak lagi menanam dan merawat tanaman kopi. Hal ini karena kopi tidak cukup memberikan masukan atau pendapatan ekonomi untuk keluarganya.
ini salah satu sebab petani kopi lebih memilih kerja sebagai petani kacang
tanah, berternak, ataupun buruh bangunan dari pada menjadi petani kopi. Kopi Kamu - Mapia yang berjaya selama beberapa dekade mengalami kemerosotan, perkebunan kopi yang
sempat terkenal dibawah bimbingan dan usaha para misionaris mengalami masa
redup. Para petani kita juga mulai meninggalkan kebunnya. Petani yang setia
merawat kebunnya menyusut, diantaranya mereka lebih memilih buruh, tanam
kacang, dan atau usaha lain untuk menghidupi perekonomian keluarganya. Selain itu, salah satu faktor menurunnya perkebunan kopi di Dogiyai adalah tidak adanya dukungan
dari para pelaku ekonomi dan pemerintah setempat dalam pengembangan perkebunan
dan pasaran hasil produksi kopi. Pemerintah daerah sebelumnya juga belum
memberikan dukungan dalam akses pemasaran, maka para petani inipun menurun
produktivitasnya dan meninggalkan kebun-kebun kopinya. Hal ini yang menjadi catatan dan koreksi penting bagi pemerintah kabupaten Dogiyai saat ini,
terutama Bappeda, Dinas Pertanian dan Perkebunan, Badan Pemberdayaan Masyarakat
Kampung, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM dalam penanganan
kopi dari hilir hingga hulur. Natalis mengharapkan kerjasama Pemerintah Kabupaten Dogiyai dan SCOUPI harus
betul-betul menemukan platfrom yang tepat sehingga dapat memberikan semangat
baru agar kejayaan Kopi Moanemani (Dogiyai) dapat terwujud kembali. Imbuh Degei, mengajak para peserta pelatihan dan para petani kopi agar dapat memfokuskan pada
perawatan kopi yang masih ada dan menanam kembali dalam jumlah yang besar
karena pasar sudah ada dengan menawarkan harga yang dapat menguntungkan.(ris)
Bagikan artikel ini



