NABIRE – Persoalan sampah di Kota Nabire hingga kini masih menjadi “isu sentral” di sejumlah kalangan warga.

Masih juga didapati adanya sampah yang berserakan di sejumlah titik.

Hingga kini masih saja ada yang membuang sampah bukan pada tempatnya, walaupun sudah ada pemberitahuan larangan dengan sumpah serapah.

Saran dan masukan dari warga untuk mengatasi persoalan sampah di Kota Nabire, cukup beragam.

Berikut saran dan masukan dari warga Nabire dalam hal mengatasi persoalan sampah, yang dihimpun media ini dari laman Facebook Papuapos Nabire.

Warga di FB dengan identitas Warna Wartanabire, memberikan saran, sebagai masyarakat, kita juga ikut bersama-sama menjaga kebersihan.

Logikanya, kita ingin rumah dan halaman kita bersih.

Padahal kita buang sampah di tempat yang tidak tepat, lalu apakah kita ada punya perasaan warga sekitar tempat sampah itu dibuang, sedangkan mereka sendiri juga butuh lingkungan yang bersih, indah, rapi dan sehat.

Jadi jangan kita ingin enak/aman sendiri, padahal mengorbankan orang lain.

Untuk pemerintah dan DPRD, diharapkan untuk cepat mencari solusi penanggulangannya. Karena sampah setiap detik, jam atau hari sudah selalu ada.

Sehingga kita wujuskan NABIRE (Nyaman Bersih Rapi dan Elok).

Warga dengan nama identitas EL Nobisriski Numberi, menyarankan, pemerintah daerah dan dinas kebersehan bersama masyarakat kita, bersama-sama menjaga kebersihan.

Dengan cara, pertama, Pemda harus mengeluarkan aturan yang benar-benar tegas terkait sampah.

Kedua, dinas kebersihan dan Pemda harus menyediakan TPS terakhir untuk eksekusi sampah.

Ketiga, jangan seminggu sekali sampah diangkat, namun setiap harinya sampah harus diangkat.

Keempat, setiap RT harus punya tempat pembuangan sampah agar setiap hari dijemput dan diangkat oleh petugas.

Warga dengan identitas Tebai Ferdinand, menuturkan, kota yang didiami oleh berbagai suku bangsa alias kota metropolitan.

Tidak kuat dengan larangan semacam ini sekalipun itu Perda atau Perbup.

Pemerintah daerahlah yang bertindak.

Fungsikan dinas kebersihan dan tata kota.

“Coba ke luar Papua itu jangan mata besar-besar kepada penjual-penjual paha putih akan tetapi buka mata lebar-lebar dan melihat apa yg mereka buat di sana.

Seperti Kota Makassar apa tindakkan Pemda disana menangani sampah,” ujarnya.

Warga dengan nama Cermin Papua Immanuel Badii, berpendapat, masalah sampah adalah masalah pribadi dan kesehatan.

Sadari diri dan hindari perilaku membuang sampah di sembarangan tempat dan usahakan agar hidup tertib dan disiplin untuk mengubah wajah Kota Nabire yang bersih, rapi dan elok.

Untuk maksud itu usahakan di setiap RT/RW sediakan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) dan difollow up oleh dinas terkait untuk pengangkutannya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Agar budaya pembuangan sampah tetap terkendali, berikan insentif seperlunya kepada setiap RT/RW pada setiap triwulan atau perbulan terlepas dari iuran RT/RW.

Untuk teknis sanksi kepada masyarakat di wilayah RT/RW sepenuhnya diatur oleh RT/RW yang bersangkutan.

Selanjutnya lurah/kepala desanya bertanggungjawab atas pengawasan kebersihan di tingkat RT/RWnya.

Moos Munda Tiku Pasang berpendapat, ini bukan soal doa yang salah atau benar. Tetapi bentuk reaksi masyarakat yang merasa tidak memiliki pemimpin.

Pemimpin yang katanya wakil Allah di bumi tidak menunjukkan bentuk keterwakilannya sebagai utusan.

Hadianto Chandra menyarankan, menjaga kebersihan itu penting.

Yang kadang masyarakat pertanyakan dimana tempat buang sampah yang sebenarnya.

Seharus disiapkan tempat sampah per wilayah kecamatan atau kelurahan.

Supaya masyarakat tidak membuang sampah sembarang.

Masyarakat buang sampah sembarang karena mereka tidak tahu mau buang dimana.

Soal sampah, Heri Poerwanto mengeluhkan jika di samping rumahnya di Jalan Dr. Sutomo belakang Toko Senyum 5000, itu parah.

  “Kita terima aroma saja.

Dinas kebersihan kok tidak angkat ya,” tanyanya.

Eduard Lodewyk Pesiwarissa menyarankan, kalau buat larangan harus ada solusi tempat pembuangan sampah yang baik.

Saran Maurus Wakey, Pemda Nabire siapkan dana tetap pertahun anggaran, dilelang kepada pihak ketiga (kontraktor) untuk pembersihan, pengumpulan, dan pengangkutan dari TPS ke TPA setiap hari kerja.

Yakin Nabire bersih kembali.

Saran Felix Ashadi Widyawan, taruh truk sampah di situ, kasi lampu yang sangat terang, suruh masyarakat buang sampah jam 21.00 sampai dengan 05.00 jam 05.30 truk angkut.

Jika setiap hari begitu, pasti bersih.

Sembayrobby menyarankan, jika bole siapkan tempat sampah yang jelas agar masyarakat tidak dipersalahkan lagi dalam hal buang sampah.

Saran Kariasa Nengah, adopsi sistem yang diterapkan Kota Jayapura saja, pasti beres.

Jetman Ismunansif berpendapat, mungkin ada baiknya berikan saja pada pihak swasta untuk menangani sampah.

Kelihatannya dinas kebersihan kewalahan.

Menurut David Setiawan, Perda yang ada belum bisa diterapkan secara maksimal.

Selain kesadaran masyarakat masih rendah, Pemda juga tidak mampu menanganinya dengan baik.

  “Saran saya serahkan saja ke pihak ketiga yang profesional sambil melibatkan masyarakat di tingkat RT dan RW untuk berperan serta,” tuturnya.

Kata David Setiawan, inti masalah buruknya penanganan sampah di Nabire karena sejumlah hal.

Kata dia, pertama, bupati dinilai tidak punya perhatian serius terhadap masalah sampah di Nabire.

Ini terbukti tidak adanya dukungan dana dan sarana prasarana penunjang yang memadai kepada instansi tenkis/dinas kebersihan.

Kedua, tidak adanya konsep yang jelas tentang proses perencanaan, konsep pengelolaan sampah mulai dari TPS-TPS sampai dengan ke TPA.

Seperti tidak tepatnya penempatan TPS-TPS dan sistem pengangkutannya.

  Ketiga, perekrutan tenaga-tenaga honor kebersihan di lapangan tidak professional, asal tunjuk, selain honornya tidak wajar dan selalu lambat pembayarannya.

Juga terkesan semua ditentukan oleh bupati, tidak diserahkan penuh ke dinas terkait.

Sementara, Perda yang dibuat tidak dijalankan dengan baik.

“Dasar inilah sehingga saya sarankan diserahkan saja ke pihak ketiga yang profesional dengan sistem pelelangan yang transparan, syarat, mekanisme, penganggaran serta pengawasan yang jelas,” ujarnya.

Yoel Rawan menuturkan, selama manusia masih hidup sampah pasti ada.

Bagaimana penanganan yang benar itu yang diharapkan semua masyarakat Nabire.

“Maaf bukan saling tuding dan mempersalahkan karena masing-masing klaim kalau dirinya benar,” tuturnya.

Lanjutnya, jalan keluarnya bagaimana, tidaklah cukup dengan hanya mendengar aspirasi lewat Medsos seperti ini.

Tapi harus ada tindakan nyata yaitu menyiapkan anggaran dan studi banding ke kota-kota yang sudah berhasil menangani sampah lalu pulang langsung action bukan pulang tidur.

“Agar tidak terulang kesalahan-kesalahan yang fatal macam kemarin TPS dibuat di dekat permukiman atau samping rumah orang.

Siapa yang mau terima sampah busuk, pastilah orang marah cium bau tengik,” tuturnya. (ros)