Cerpen : Abdul Munib
 
Orang itu sudah tak ada lagi di tempat kosnya. Kata tetangganya ia sudah tidak tinggal lagi di situBang Toyib sekitar lima bulan setelah ibu kos mengusirnya lantaran nunggak uang bulanan entah berapa lama.
Orang itu tak jelas nama aslinya. KTP-nya hilang di pangkalan ojek online di bawah pohon. Tapi tetangga dan rekan sekerjanya biasa memanggilnya Bang Toyib. Itu cerita yang beredar di luar. Meski yang sebenarnya bukanlah seperti begitu.
Bang Toyib itu aku. Diriku sendiri pria jomlo tua yang tak laku di pasaran dunia pernikahan atau dunia berkeluarga alias dunia rumah tangga. Mungkin juga bukan begitu tepatnya. Tapi barangkali hanya upayaku saja untuk menjaga akal waras, bahwa pernikahan bukan ajang untuk mencari lawan jenis sebagai pihak kedua yang harus menanggung penderitaanku.
Bagiku rumah tangga bukan ajang penularan penderitaan. Dan aku sebagai pihak pertama yang menyeretnya kepada sesuatu yang sudah lama akrab denganku dan kedua orang tuaku, kemiskinan.
Menderita satu orang jauh lebih baik dari menderita dua orang. Lalu, benakku bekerja kencang, membuat abstraksi imajiner dimana di sana anak-anakku akan lahir banyak dengan tambah menderita lagi punya bapak seperti aku. Berdasarkan fiqih realitas aku mengharamkan pernikahan bagi diriku sendiri karena bukan saja kemelaratan, tapi kemadhorotan-nya sudah pasti. Dari semacam ideologi inilah maka aku punya pengikut yang kian tahun tambah banyak. Mereka follower sekaligus jomlower sejatiku. Indonesia semakin miskin sumberdaya katanya dimakan semua oleh Suanggi Sembilan Naga.
Ketika fenomena ini tertangkap oleh sebuah grup band, lagunya langsung hits. Bang Toyib. Musisinya cukup bijaksana karena ia hanya menyindir di bagian kulitnya saja. Yakni karena kami lama tidak pulang mudik lebaran. Tanpa bertanya sebab akibat mengapa kami tak pulang. Padahal persoalan yang sebenarnya lebih kompleks lagi. Entah sudah berapa tahun tak mudik kami sendiri  tak penghitungnya.
Kalau sudah tiga kali lebaran tidak pulang sudah pasti istri tak akan tahan dan minta cerai. Itu yang terjadi dengan kawanku Tarmo. Kesimpulannya berarti Bang Toyib yang adalah diriku sendiri adalah jomblo bangkotan yang celaka terusir di kota raya. Aku bagian dari ampas mimpi yang terhemopas. Jangankan tiga kali lebaran puluhan kali lebaranpun aku sanggup tak pulang-pulang. Membusuk di kota sebatang kara.
Selain Band Wali, yang tertarik menjadikanku sebuah judul lagu ada juga seniman Yogjakarta asal Bima pernah menyinggungku sebagai pihak yang celaka. Sebagai orang usiran kota raya. Lebaran 1445 hijriah dengan angka tahun cantikpun tetap aku tak mudik. Aku tetap bertahan di kota yang kosong ditinggal mudik oleh penghuninya. Seorang penyair juga pernah menggambarkan situasi ini dalam sebuah puisi seperti esai dengan judul KTP.
###
Aku tidak lagi betah di rumah kos. Bukan saja oleh makin tak terjangkaunya biaya bulanan. Melainkan ada banyak perubahan tetangga-tetangga kos yang perilakunya aneh-aneh. Dalam lingkungan yang semakin individualis tak saling peduli, manusia bukan saja terdegradasi menjadi binatang melainkan mirip hakikat batu. Mungkin lebih tepatnya granit barangkali. Tradisi sumringah dan tebar senyum semakin menipis dan terkikis.
Betapa keras sekarang yang namanya hati manusia. Sedangkan sekeras-keras batu saja masih ada yang memancarkan air. Sedangkan air itu layak untuk kehidupan. Ini tidak, perilaku  manusia sekarang sama sekali tidak layak untuk kehidupan. Tampak kelihatannya hanya onggokan tulang berbalut daging dan dipackaging oleh kulit tubuh. Boleh dikata seperti robot, benda-benda mati yang bisa berjalan. Bahkan katanya teknologi sekarang bisa membuat robot cerdas dengan kecerdasan artificial buatan sains. Tentu saja manusia seperti ini lebih buruk dari tamsil perumpamaannya.
Walhasil seluruh potensi bawaan yang satu paket dengan akal yakni mata batin, pendengaran batin dan fuad hati sanubari telah sepenuhnya terdegradasi sampai ke level yang paling bawah. Bukan saja pada level kepinding dan kekarlak. Bahkan pada alam unsuriah yang beku dan memadat gelap. Yang lebih parah dari kehidupan tak layak bahkan boleh dikata tak ada kehidupan.
++
Waktu di kampung saya pernah mengaji bandung kuping di Kiai Tohir. Wejangannya yang paling nyerep di hati dan ingatan saya adalah tentang tafsir seorang ulama memaknai hidangan Al-Maidah. Kata yang juga dijadikan nama untuk sebuah surah setelah An-Nisa.
Katanya yang bisa mengikuti perjamuan di hidangan semesta ini adalah jiwa-jiwa tertentu yang layak atau yang memiliki etika kemanusiaan. Ini, kata Kiai Tohir,  adalah mereka yang telah diberi kenikmatan. Sedangkan dalam induk kitab, katanya lagi, manusia terbagi tiga kelompok : satu mereka yang telah diberi kenikmatan tadi, kedua manusia iblis disebut juga maghdub alaihim, dan yang terakhir yang ikut-ikutan tersesatkan karena tidak pernah menggunakan amanah akal dan paketannya tadi.
Sedangkan posisi kita semua, katanya, adalah seorang pendosa pendoa yang minta diberi hidayah dari Tuhannya. Biasanya kiai Tohir menyanpaikannya dengan bahasa yang frekwensinya di rendahkan lagi supaya orang kampung dapat memahami.
Kiai Tohir adalah sosok Kiai milenial yang dalam hape tabletnya berisi ratusan ribu naskah pdf kitab ulama terdahulu. Ia pernah tunjukan kepadaku, untuk kitab logika filsafat saja ada 191 judul kitab. Ada yang satu judul saja bisa sembilan atau sepuluh kitab tebal seperti Al Asfar Al-Arbaah dan Kitab Asyifa Ibnu Sina. Kata Kiai Tohir  kitab logika ini karpet merah dunia pemikiran untuk menjemput Tamu Agung teori akal kenabian yang membawa risalah untuk kita semua umat Tuhan.
++
Pantas saya mulai tidak betah berada di lingkungan arca-arca manusia batu yang bisa berjalan dan memegang hape. Tempat kost yang lebih individualis dari tempat  penjara. Bukan lagi seperti lingkungan tempat kost yang seperti dulu. Penuh percakaapan sosial. Kini rumah kost rasanya lebih sempit dari tahanan.
Terlintas kamar tahanan yang pernah mengurungku selama seminggu karena difitnah mendobrak pintu sekolahan ketika siawa-siswa di kecamatanku hendak rapat halal bihalal. Aku akhirnya dilepaskan karena menandatangani kesiapan mendukung Orde Baru. Waktu itu menjelang Pemilu 1987. Sekarang baru tahu itu persoalan politik semata. Kamar tahanan itu lebih baik rasanya. Lebih menyenangkan. Karena mengingatkan aku kepada seorang nabi yang dipenjara yaitu Nabi Yusuf. Teman saya Karto paling kagum cerita  nabi paling ganteng yang menolak diajak selingkuh ibu angkatnya yang konon kecantikannya tiada tanding. Karto bilang seandainya itu terjadi pada dirinya hampir pasti akan lain ceritanya.
Pokoknya akhirya aku pergi dari tempat kost yang telah ku tinggali sekitar dua puluh tahun perantauan itu. Kini  aku tinggal di rumah pohon, di pekarangan seluas seperempat hektar milik seorang jenderal bintang dua. Dia tetangga kompleks yang aku kenal dulu sejak pangkat sersan.
Dia mempersilahkanku menempati lahan penuh pohon itu. Hitung-hitung jaga tempat katanya. Dia senang karena aku hanya sendiri. Itulah rumah istanaku di ibu kota yang sudah tua ini.
++
Di istana rumah pohon masih sempat kulihat capung hinggap di remumputan. Burung ciblek dan pleci masih kelihatan hinggap di pohon gersen tua. Masih kelihatan sesekali sikatan  dan sri gunting. Pernah ku lihat sekilas masih ada juga kacer, kehicap, tali pocong, murai batu, tekukur, tengkek,  manyar, branjangan dan trucukan. Burung-burung itu sebagian memang kutemui sarangnya di pohon sembung. Sebagian hanya mekintas saja di pandangan. Dan sebagian lagi yang datang dari masa kalu bercampur dalan perasaan jiwaku. Pekarangan penuh pohon itu mengingatkan masa kanak-kanak di kampung yang masih alami sebelum datang pupuk dan festisida dari kota. Konsep ekonomi pembangunan Orde Baru tidak peduli lingkungan. Dan burung-burung itu pun pergi atau punah aku tak pernah tahu.
Hanya aku kadang ingat pengajian bandung kuping Kiai Tohir di Kampung. Katanya Kitab Suci Alquran menyebutkan  burung-burung itu juga umat Tuhan seperti kita. Aku kadang pikir kemiripan atau sepertinya dimana. Pernah dulu kutanyakan pada emak, dia hanya jawab bahwa burung bertanggung-jawab menghidupi anak-anaknya dan melatihnya mandiri. Kata emak, aku juga harus begitu.
Burung-burung pergi  dari kota karena hutan diganti beton. Tak ada makanan di beton-beton itu. Pikiranku kadang tembus sampai sini. Pada orang usiran kota raya. Pada diriku ini. Lalu umat-umat manusia penguasa kota itu jenis burung apa ? Jangan-jangan mereka itu dari jenis burung kedasih. Burung pemalas yang menginfiltrasi burung-burung kecil untuk diambil seluruh sumber dayanya. Sarang burung lain diintervensi, diintimidasi dan selanjutnya dipersekusi.
Pernah aku juga dengar tentang burung garuda. Dikisahkan Pak Guru SD dulu bahwa ia adalah burung yang membebaskan ibunya dari penjara musuh. Garuda berkorban untuk itu. Yang aku belum tahu apakah garuda juga burung yang bisa dikelabuhi kedasih atau tidak. Masalahnya kalau butung ciblek, pleci atau terucukan masih bisa dikelabuhi kedasih. Aku masih termenung apa begini ini yang disebut sistem kedaulatan rakyat. Yang aku rasakan dimana-mana kemelaratan rakyat.
Di pekarangan penuh pohon itu aku bernafas  menyimak semuanya dalam sesendirian pada sebuah kota besar jantungnya sebuah kekuasaan. Tanah pekarangan itu walau hanya sedikit-sedikit ku tanami berbagai jenis umbi-umbian : ganyong suweg, iles-iles, gadung, singkong, talas, umbi garut, kentang,  ubi jalar, uwi, gembili, gembolo dan beberapa baris padi huma gogo. Itu semua hanya untuk kegiatan sampingan mengobati kerinduan pada kampung halaman, selepas kerja ojek online. Katanya ibu kota ini sudah ada gantinya di seberang Kalimantan.
###
Tapi sudah sebulan lamanya aku tak di tempat itu lagi setelah ditemukan sesosok mayat anak STM yang dibuang disitu. Waktu itu menjelang penetapan pemilihan presiden dimana demo mengurung kota ibu itu. Dari Surabaya merembet ke paling timur dan kembali ke pusat. Seperti biasa negeri ini penuh dengan cipta kondisi. Cipta kondisi itu memelihara api dalam sekam yang dikemas dalam sebuah skema di semak-semak supaya rakyat tidak tahu ada nafsu besar menghendaki kekuasaan untuk dijarah.
Ketika aku melintasi jalan memakai motor ojek online pekarangan penuh pohon itu jadi tempat menancapkan bendera partai. Ada banyak sekali. Dulunya banyak, diperas jadi tiga, sekarang di banyakkan lagi. Ini juga seperti cipta kondisi lagi.
Warna-warni bendera partai menenggelamkanku kedalam dunia benak yang majemuk, sementara hakikat relitas adalah Esa yang dijembatani wasilah pendar cahaya.***