Blok Wabu Bukan Lagi Urusan PT. FI
NABIRE - Kehadiran Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia (PTFI) di Kabupaten Nabire yang merupakan ibukota Provinsi Papua Tengah, bisa jadi mengundang banyak pertanyaan di kalangan masyarakat. Ada apa dengan Papua Tengah ? Apakah ada sesuatu yang diincar oleh perusahan tambang terbesar di dunia di wilayah Provinsi Papua Tengah selain Timika ? Mengingat persoalan Blok Wabu yang hingga kini masih menjadi pertanyaan besar di kalangan masyarakat.

NABIRE - Kehadiran Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia (PTFI) di Kabupaten Nabire yang merupakan ibukota Provinsi Papua Tengah, bisa jadi mengundang banyak pertanyaan di kalangan masyarakat. Ada apa dengan Papua Tengah ? Apakah ada sesuatu yang diincar oleh perusahan tambang terbesar di dunia di wilayah Provinsi Papua Tengah selain Timika ? Mengingat persoalan Blok Wabu yang hingga kini masih menjadi pertanyaan besar di kalangan masyarakat.
Terkait dengan hal tersebut, Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia, Tony Wenas menjawab dengan tegas saat diwawancarai para awak media di sela-sela Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tingkat Provinsi Papua Tengah yang bertempat di Pantai Nabire Senin (5/06). Kata dia, masalah Blok Wabu sudah diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah, dan bukan urusan PT. Freeport Indonesia.
“Oh nggak pak, Blok Wabu itu sudah kita lepaskan, itu bukan urusan kita lagi. Kita sudah lepaskan dan kita serahkan kepada pemerintah. Yang kita lakukan saat ini adalah untuk kepentingan lingkungan hidup,” tegas Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas, saat diwawancarai awak media pada puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup 2023 Tingkat Provinsi Papua Tengah yang berlangsung di Pantai Nabire, Senin (5/06) Pukul 09.30 WIT.
Dirinya juga mengatakan, untuk saat ini PT. Freeport Indonesia berfokus kepada lingkungan hidup dengan memerangi sampah plastik di wilayah Provinsi Papua Tengah khususnya dan umumnya Indonesia. Sehingga, kita tidak lagi membeli minuman dalam kemasan botol plastik. Kemudian, perlindungan terhadap satwa endemik Papua, yang terus digalakkan dan dilestarikan melalui penangkaran sementara yang di miliki oleh PT. Freeport Indonesia, dan selanjutnya akan dilepaskan kembali ke alam liar.
“Coba kita lihat yang di depan kita ini, pantainya indah sekali (Pantai Nabire red). Sayang sekali kalau ada sampah-sampah plastik berserakan di sekitar wilayah pantai, dan sebenarnya bukan hal yang sulit untuk kita memerangi sampah plastik. Ini hal yang mudah di lakukan dan kita harus komitmen,” pungkasnya. (cad)
Bagikan artikel ini



