NABIRE – Hasil tangkapan ikan berkurang karena kondisi cuaca di perairan Nabire tidak bersahabat yang ditandai hujan disertai angin.   "Hasil tangkapan ikan melaut selama seminggu hanya 173 kilogram dibanding sebelumnya mencapai 300 kilogram," kata Aan, nelayan di daerah ini, Senin (25/8). Ia mengatakan, berkurangnya hasil tangkapan ikan karena hujan disertai angin. Sehingga nelayan terpaksa menghentikan aktivitas menangkap ikan di tengah laut. "Hujan disertai angin ini sangat membahayakan keselamatan nelayan. Sehingga kami terpaksa menghentikan kegiatan memancing dan menjaring ikan di tengah laut. Jika hujan telah berhenti, kami kembali melanjutkan aktivitas menangkap ikan," ujarnya. Ia mengatakan, pada saat kondisi cuaca di tengah laut tidak bersahabat, mengakibatkan nelayan merugi. Karena hasil tangkapan ikan tidak sebanding dengan biaya melaut yang tinggi mencapai Rp. 3 juta untuk melaut selama seminggu. "Dalam sepekan ini, kondisi cuaca tidak menentu, terkadang cerah dan tiba-tiba saja hujan lebat disertai angin kencang dan gelombang tinggi, pada akhirnya mempengaruhi hasil tangkapan ikan nelayan," ujarnya. Berkurangnya hasil tangkapan ikan nelayan tradisional ini, berdampak langsung terhadap harga ikan di sejumlah pasar yang ada di Nabire yang mengalami kenaikan. "Saat ini sebagian besar nelayan tidak melaut karena takut dihantam gelombang disertai angin kencang dan sebagian juga ada yang melaut sehingga stok ikan terbatas sehingga harga ikan naik," ujar pedagang ikan di Pasar Kali Bobo. Ia menjelaskan, harga ikan Kombong dan Mumar sebelumnya setumbuk harganya Rp. 20.000 sekarang menjadi Rp. 25.000, ikan merah dan ikan lainnya juga ikut naik harga setumpuk sebelumnya Rp. 40.000 dan sekarang mulai dari Rp. 45.000 sampai Rp. 80.000.   "Kenaikan harga ikan yang cukup tinggi ini, karena faktor cuaca buruk dan ombak sehingga nelayan sulit meningkatkan hasil tangkapan ikannya," ujarnya. (ris)