Pagi itu, Mapia tidak sekadar menyambut seorang gubernur.

Di antara udara pegunungan yang dingin, senyum anak-anak sekolah mengembang. Lantunan lagu terdengar dari tengah masyarakat. Busana adat dikenakan. Tarian yang menggambarkan kepakan burung cenderawasih ditampilkan dengan penuh kebanggaan.

Ketika Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa tiba di Kampung Omakapau, Diyoudimi, Distrik Mapia, Senin (7/9/2026), bunga dikalungkan ke lehernya.

Sebuah sambutan sederhana, tetapi menyimpan pesan yang jauh lebih dalam.

Masyarakat Mapia seperti sedang menitipkan harapan kepada seorang pemimpin: biarlah anak-anak mereka memiliki masa depan yang lebih baik tanpa harus kehilangan tanah tempat mereka dilahirkan.

Harapan itu menemukan bentuknya ketika Meki bersama Bupati Dogiyai Yudas Tebai, rombongan Forkopimda dan jajaran pemerintah daerah meletakkan batu pertama pembangunan Asrama SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia.

Batu itu mungkin hanya satu keping material di atas tanah.

Namun bagi masyarakat Mapia, ia adalah tanda dimulainya sebuah perjalanan panjang.

Sebuah asrama akan berdiri di sana. Kelak, bangunan itu diharapkan menjadi rumah kedua bagi anak-anak dari kampung-kampung sekitar yang datang untuk menuntut ilmu.

Bukan Sekadar Bangunan

Meki tidak ingin pembangunan berhenti pada berdirinya tembok dan atap.

Ia membayangkan anak-anak Mapia tidur dengan layak setelah belajar seharian. Ada tempat tidur. Ada kasur. Ada fasilitas yang membuat mereka merasa bahwa sekolah bukan tempat yang jauh dan asing, tetapi bagian dari kehidupan mereka.

“Jadi saya berkomitmen akan bangun sekolah di sini. Saya akan fasilitasi semuanya lengkap, tempat tidur, kasur, semuanya lengkap,” kata Meki.

Bagi gubernur, pendidikan bukan kemewahan yang hanya boleh dinikmati anak-anak di kota.

Anak-anak yang tumbuh di lereng-lereng pegunungan Papua memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Karena itu, sekolah harus datang mendekati anak-anak. Bukan sebaliknya, anak-anak dipaksa meninggalkan kampung dan tanah kelahirannya hanya karena fasilitas pendidikan belum tersedia.

Dari Mapia, Meki bahkan melemparkan gagasan yang lebih besar.

Sekolah terintegrasi dari jenjang SD, SMP hingga SMA.

Sebuah kawasan pendidikan yang memungkinkan anak-anak menempuh pendidikan lebih panjang tanpa harus pergi terlalu jauh dari rumah dan lingkungan budayanya.

“Ke depan, bagaimana kalau ada sekolah yang terintegrasi SD, SMP, SMA diambil alih oleh Gubernur. Supaya orang-orang di negeri ini juga ada yang Bupati kerja, ada yang Gubernur kerja,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi di baliknya ada sebuah cara pandang: membangun Papua tidak cukup hanya dengan mendirikan gedung pemerintahan. Masa depan Papua harus dibangun dari ruang-ruang kelas.

Ketika Jalan Membuka Harapan

Pendidikan, bagi Meki, tidak pernah berdiri sendiri.

Sekolah membutuhkan jalan. Anak-anak membutuhkan listrik. Masyarakat membutuhkan telekomunikasi. Guru dan orang tua membutuhkan akses untuk terhubung dengan dunia luar.

Karena itu, ia memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Dogiyai yang telah membuka akses jalan menuju Mapia.

Ia memahami, membangun infrastruktur di wilayah pegunungan bukan pekerjaan ringan.

“Menjadi Bupati di gunung ini tidak mudah. Makanya pembangunan jalan sampai ke sini itu luar biasa,” katanya.

Jalan yang perlahan terbuka menjadi lebih dari sekadar jalur kendaraan.

Ia adalah jalan menuju sekolah.

Jalan menuju pasar.

Jalan menuju pelayanan kesehatan.

Dan, pada akhirnya, jalan yang menghubungkan anak-anak Mapia dengan dunia yang lebih luas.

Meki membayangkan sebuah Mapia yang kelak tidak lagi berbicara tentang keterisolasian.

Aspal tersedia. Listrik menyala. Bangunan berdiri. Jaringan telekomunikasi masuk.

“Kalau aspal sudah sampai di sini, listrik juga masuk sampai di sini, kita tidak cari apa lagi. Listrik sudah ada, jalan sudah ada, bangunan sudah ada, telepon sudah ada. Kita bisa video call dan lain-lain,” ujarnya.

Bagi masyarakat kota, fasilitas seperti itu mungkin dianggap biasa.

Tetapi bagi masyarakat pegunungan, ketika listrik, jalan dan jaringan komunikasi hadir bersamaan, itu berarti dunia yang selama ini terasa jauh perlahan menjadi dekat.

Pembangunan Butuh Masyarakat

Namun Meki menyadari satu hal: pemerintah tidak bisa bekerja sendirian.

Pembangunan membutuhkan masyarakat sebagai penjaga.

Karena itu, ia meminta masyarakat Mapia ikut mengawal pembangunan yang sedang dimulai.

Ia mengingatkan agar pembangunan tidak terhambat oleh pemalangan maupun permintaan uang yang pada akhirnya justru merugikan masyarakat sendiri.

“Masyarakat harus kawal. Kita akan mulai bangun dalam waktu yang dekat. Masyarakat dukung, tidak boleh palang, tidak boleh minta-minta uang. Ini untuk pembangunan masyarakat sendiri,” tegasnya.

Pesan itu menjadi penting karena pembangunan yang baik bukan hanya soal berapa banyak anggaran yang dikeluarkan pemerintah.

Pembangunan juga menyangkut rasa memiliki.

Ketika masyarakat merasa sekolah itu milik mereka, jalan itu milik mereka, pasar itu milik mereka, maka menjaga fasilitas tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab bersama.

Menjaga Anak, Menjaga Masa Depan

Di Mapia, Meki juga memberi perhatian pada kehidupan sosial masyarakat.

Ia mengapresiasi komitmen masyarakat yang berupaya menjaga lingkungan sosial, termasuk membatasi peredaran minuman keras.

Baginya, membangun generasi muda tidak cukup dengan membangun sekolah.

Anak-anak juga harus dijauhkan dari kebiasaan yang dapat merusak masa depan mereka.

Sebab gedung sekolah yang bagus akan kehilangan makna apabila generasi mudanya tumbuh dalam lingkungan sosial yang tidak sehat.

Pendidikan dan karakter, bagi Meki, harus berjalan beriringan.

Di situlah masa depan Papua dipertaruhkan.

Suara Rakyat Dibalas Pembangunan

Ada satu bagian lain dari pernyataan Meki yang terasa personal.

Ia mengingat dukungan masyarakat Mapia dalam pemilihan kepala daerah.

Menurutnya, kepercayaan itu tidak seharusnya dibalas dengan sekadar janji politik.

“Mapia kasih saya tiga puluh ribu suara, seratus persen di seluruh lini. Gabungan dari Dogiyai enam puluh tujuh ribu suara. Suara ini saya tidak kasih uang, tapi saya kasih pembangunan,” tegasnya.

Suara rakyat, dalam pandangan Meki, harus kembali kepada rakyat dalam bentuk pembangunan.

Bukan sekadar angka dalam hasil pemilihan.

Karena itu, selain pendidikan, ia berbicara tentang ekonomi masyarakat.

Pemerintah Provinsi Papua Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Dogiyai juga menyiapkan pembangunan pasar di Moanemani.

Tujuannya sederhana: memberi ruang yang lebih layak bagi mama-mama Papua untuk berjualan.

“Kita bangun jalan, saya sudah bicara dengan Pak Bupati. Kita bangun sekolah, kita bangun pasar besok di Moanemani supaya masyarakat, mama-mama, bisa jualan dengan baik daripada di jalan,” katanya.

Di sini, pembangunan kembali menemukan wajahnya.

Bukan hanya jalan dan gedung.

Tetapi juga seorang mama yang bisa berjualan dengan aman. Anak yang bisa belajar dengan nyaman. Guru yang memiliki tempat mengajar. Keluarga yang bisa mendapatkan penghasilan.

Batu Pertama dan Masa Depan

Hari itu, batu pertama telah diletakkan.

Tetapi pekerjaan sesungguhnya baru dimulai.

Sebab yang hendak dibangun di Mapia bukan hanya sebuah asrama.

Yang hendak dibangun adalah kesempatan.

Kesempatan bagi anak-anak pegunungan untuk belajar tanpa harus tercerabut terlalu jauh dari kampungnya.

Kesempatan bagi keluarga untuk melihat anak-anak mereka tumbuh menjadi guru, dokter, pegawai, pengusaha, pemimpin adat, bahkan suatu hari menjadi bupati atau gubernur di tanah mereka sendiri.

Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, anak-anak yang berdiri menyambut Meki dengan senyum dan nyanyian pada pagi itu akan kembali ke Mapia sebagai orang-orang yang membawa pengetahuan dan pengalaman dari dunia yang lebih luas.

Saat itulah batu pertama tersebut menemukan makna sebenarnya.

Ia bukan hanya penanda dimulainya sebuah bangunan.

Ia menjadi penanda bahwa dari sebuah sudut pegunungan Papua, sebuah harapan sedang ditanam.

Meki kemudian mengajak seluruh masyarakat menjaga persatuan dan bekerja bersama membangun daerah.

“Kita anak negeri sudah jadi pemimpin di negeri ini. Mari kita bangun negeri ini baik-baik,” tutupnya.

Di tanah Mapia, harapan itu kini memiliki tempat untuk tumbuh.

Dan harapan itu bernama anak-anak negeri. ***