Desakan Pemekaran Kabupaten Mapiha Berdasar Beberapa Alasan Mendasar
NABIRE – Desakan untuk memekarkan wilayah Mapiha sebagai satu Kabupaten Daerah Otonom Baru (Dom) beberapa alasan mendasar yang dialami
NABIRE – Desakan untuk memekarkan wilayah Mapiha sebagai satu Kabupaten Daerah Otonom Baru (Dom) beberapa alasan mendasar yang dialami masyarakat dari lima distrik wilayah Mapia-Piyaiye selama ini.
Alasan tersebut ditanggapi serius Bupati Dogiyai, Yakubus Dumupa dengan membentuk Tim Sukses Persiapan Pemekaran Kabupaten Daerah Otonom Baru Kabupaten Mapiha.
Ketua Tim Sukses Persiapan Pemekaran Kabupaten Daerah Otonom Baru Kabupaten Mapiha, Oskar Makai kepada wartawan di Nabire, Kamis (3/9) mengatakan, alasan pembentukan Kabupaten Mapiha karena persiapan sumber daya manusia sudah cukup dari jenjang pendidikan menengah hingga magister, sebagian sedang mengabdi di Kabupaten Dogiyai, Nabire dan beberapa kabupaten lain di Papua, masih banyak sarjana yang masih nganggur sehingga lewat pemekaran kabupaten baru akan mampu menampung SDM lokal.
Oskar didampingi Sekrataris Tim Sukses, Mathias Butu, Wakil Sekretris, Agustinus Tebay dan Bendahara, Yohanes Iyai menambahkan, disamping sumber daya manusia, wilayah Mapiha juga memiliki potensi sumber daya alam yang cukup melimpah, seperti sumber daya hutan, dan potensi tambang (emas dan batu bara).
Oleh karena itu, jika dimekarkan, tidak akan membawa bahan bangun berupa kayu, pasir dan batu dari daerah lain, potensi alam Mapiha cukup menjawab kebutuhan bahan bangunan, kecuali bahan produksi dari luar.
Ketua Tim Sukses Pemekaran Kabupaten Mapiha, mengatakan selama 20 tahun, orang Mapiha menderita baik itu saat bersama Kabupaten Nabire dan pasca pemekaran Kabupaten Dogiyai.
Sumber daya manusia dari Mapiha tidak pernah mendapat posisi jabatan di level atas.
Di Nabire misalnya, tidak ada orang dari Mapiha yang dipercayakan menduduki kepala dinas.
Di Kabupaten Dogiyai juga tidak banyak.
Orang Mapiha menderita selama ini.
Oskar mengakui, Thomas Tigi (alm) dari Mapia sebagai putera pertama Kabupaten Dogiyai, namun kesulitan yang dihadapi, sulit mendapatkan tanah untuk pengembangan kota dan pembangunan kantor pemerintah.
Alasan lain, kata Oskar yang diakui tiga anggota Tim Sukses lainnya, wajar dan orang Mapiha minta pemekaran, karena perbedaan logat dan kehidupan sehari-hari antara orang dari Lembah Kamu dengan dataran wilayah Mapiha, salah satu perbedaannya Orang Kamu butuh sekop untuk garap lahan sementara di Mapiha butuh kapak untuk bertani (berkebun).
Oskar menyebut, pemekaran beberapa kabupaten di wilayah Meepago, atas dasar perbedaan budaya lokal seperti misalnya, Nabire memekarkan Kabupaten Dogiyai, Paniai memekarkan Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Intan Jaya.
Atas dasar alasan perbedaan tersebut, Oskar menilai alasanya sangat logis jika wilayah Mapiha dimekarkan sebagai kabupaten daerah otonom baru.
Ketua Tim Sukses, Oskar dalam konfrensi pers kepada wartawan mengungkap, Hubertus Kegou (alm) telah berjuang untuk memekarkan kabupaten daerah otonom baru, Kabupaten Wayland sebagai kabupaten pemekaran dari Kabupaten Nabire.
Namun perjuangan Hubertus Kegou belum final karena tidak didukung oleh pemerintah daerah.
Oleh karena itu, perjuangan persiapan Pemekaran Kabupaten Mapiha ini akan berjuang bersama-sama dengan pemerintah Kabupaten Dogiyai.
Kini, kata Oskar, Tim Sukses Persiapan Pemekaran Kabupaten Daerah Otonom Baru sedang perjuangkan pemekaran Kabupaten Mapiha.
Sementara ini baru tahap sosialisasi kepada masyarakat bawah dengan tokoh-tokoh masyarakat di setiap distrik.
Oleh sebab itu, Oskar bertekad akan memperjuangkan pembentukan daerah otonom baru, Kabupaten Mapiha selama masa kepemimpinan Yakubus Dumupa-Oskar Makai lewat Kabupaten Dogiyai.
“Saya akan berjuang terus selama menjabat sebagai Wakil Bupati Dogiyai,” tandasnya.
Ketika ditanya soal calon ibukota, Oskar yang diamini anggota Tim Sukses Persiapan Pemekaran Kabupaten Mapiha lainnya mengatakan, tim sukses tidak menentukan calon ibu kota, tetapi akan ditentukan melalui study kelayakan yang akan dilakukan oleh Perguruan Tinggi.
Karena, prinsipnya, masyarakat dari lima distrik siap menyerahkan lahan untuk penempatan dan pembangunan ibukota kabupaten.
Perjuangan Tim Sukses Pemekaran Kabupaten Mapiha ini agak berbeda dengan perjuangan tim pemekaran kabupaten/provinsi lain selama ini.
Karena, tim ini memulai dengan sosialisasi dan meminta persetujuan dari masyarakat.
Dan akan bergerak ke pemerintah setelah disetujui oleh Bupati dan DPRD Kabupaten Dogiyai. (ans)
Bagikan artikel ini



