Dinas Kebudayaan Tetapkan Gereja Tua Modio Situs Sejarah
MODIO – Peneliti Antropolog Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura, sebanyak 10 orang dari Dinas Kebudayaan Provinsi Papua B
Bagikan
MODIO – Peneliti Antropolog Universitas
Cendrawasih (Uncen) Jayapura, sebanyak 10 orang dari Dinas Kebudayaan Provinsi
Papua Bidang Sejarah dan Purbakala pekan lalu datang di Kampung Modio, Distrik
Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai untuk mendata dan penelitian tempat bersejarah
dan situs yang di Kabupaten Dogiyai. Rombongan diterima Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan Kabupaten Dogiyai. Selama dua hari di Dogiyai, dipimpin Tersisius Degei, S.Sos, hari pertama melakukan pendataan Museum ‘Daupia’ pohon
manik-manik Makewapa, Idakebo –Pugatadi 1 dan 2 Distrik Kamu Utara. Dan hari
kedua ke Kampung Modio untuk melihat arca Auki Tekege dan rumahnya Auki di
‘Tibaepa’, batu yang dijadikan sebagai mimbar pertama Auki Tekege dan Pastor
Stilemans mewartakan datangnya peradaban baru di wilayah Meepago dan Moupago,
dan Tobousa sebagai tempat diadakannya misa pertama di wilayah Pegunungan
Tengah bagian Barat, mengunjungi makam Auki Tekege dan 12 perhentian Jalan Salib
di Lokoti. Setelah mengunjungi beberapa lokasi bersejarah di Modio, Antropolog dari Uncen, Dinas
Kebudayaan Provinsi Papua Bidang Sejarah dan Purbakala didampingi Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Dogiyai diwakili Tersisius Degey didampingi
mantan Kepala Distrik Mapia Tengah, Cesilius Kedeikoto dan Pewarta Modio,
Markus Tekege di depan umat menyatakan
Gereja Tua Ambrosius yang berusia 50 tahun lebih dijadikan sebagai Situs
Bersejarah. Penetapan gerrja tua Modio sebagai Situs bersejarah ini disaksikan
Pastor Paroki, Biru Gira, Pr beberapa hari lalu. Sebelumnya, dua tahun lalu, Uskup Timika, Mqr John Pilip Saklil, Pr menetapkan wilayah
Tihowatiha (Kampung Putapa dan Modio) sebagai tempat bersejarah dan tempat
ziarah. Penetapan ini dilakukan setelah sebelumnya, Uskup Timika menetapkan
Auki Tekege sebagai tokoh gereja. Antropolog dan Dinas Kebudayaan Papua dalam kesempatan itu, bersamaan dengan gereja tua,
menetapkan rumah dan lokasi kediaman Auke Tekege – Tibaepa, batu hidup untuk
batu yang pertama kali dipakai sebagai mimbar dan lokasi misa pertama, Tugoepa
– Tobousa sebagai tempat bersejarah. Oleh karena itu, Dinas Kebudayaan Papua meminta kepada warga Modio dan sekitarnya untuk
melindungi dan menjaga serta melestarikan situs bersejarah tersebut. Karena
dari lokasi-lokasi inilah awal peradaban dan perubahan dimulai untuk wilayah
Meuwo mouwo dide, wilayah Pegunungan Tengah Barat. Karena disinilah awal
perkembangan gereja dan peradaban lainnya. Dinas Kebudayaan Papua juga meminta untuk menjaga, memelihara dan melestarikan Daupia dan Makewa
di Distrik Kamu Utara. Atas nama pemerintah daerah, melalui Dinas Pariwisata
dan Kebudayaan Dogiyai diwakili Tersisius Degei menyampaikan terima kasih atas
perhatian dan penetapan situs bersejarah di Kabupaten Dogiyai oleh Antropolog
dan Dinas Kebudayaan Papua.(donatus degei)
Bagikan artikel ini


