Disnakertrans Rilis Data Lengkap Lokasi Transmigrasi 1972-1998
NABIRE - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Nabire baru-baru ini merilis data lengkap mengenai lokasi penempatan transmigran di wilayah Nabire selama kurun waktu 1972 hingga 1998

NABIRE - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Nabire baru-baru ini merilis data lengkap mengenai lokasi penempatan transmigran di wilayah Nabire selama kurun waktu 1972 hingga 1998. Data ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi penelitian, pengembangan wilayah serta pemetaan potensi desa-desa transmigrasi.
Berdasarkan data yang diperoleh, 6.458 kepala keluarga transmigran ditempatkan di enam lokasi yang tersebar di berbagai distrik di Kabupaten Nabire. Lokasi-lokasi tersebut antara lain Distrik Nabire, Distrik Nabire Barat, Distrik Wanggar, Distrik Makimi, Distrik Uwapa, Distrik Yaro dan Distrik Yaur.
Jumlah penempatan 21 lokasi transmigrasi di wilayah Nabire selama kurun waktu 1972 hingga 1998, yakni, Girimulyo, Bumi Wonorejo, SP 1 Kalibumi, SP 2 Kalisemen, SP 3 Wadio, SP A Wiraska, SP B Wanggar Sari, SP C Bumi Mulya, Lagari 1 Biha, Lagari 2 Lagari Jaya, Lagari 3 Maidei, Lagari 4 Manunggal Jaya, Topo 1 Marga Jaya, Topo 2 Argo Mulyo, Topo 3 Topo Jaya, Topo 4 Gamei Jaya, Karadiri 1 Karadiri, Karadiri 2 Wanggar Makmur, Yaro 1 Yaro Makmur, Yaro 2 Jaya Mukti dan Wami.
Kepala Disnakertrans Kabupaten Nabire, Marselianus Rae, S.Pd, menjelaskan, data ini disusun berdasarkan catatan historis dan hasil survei lapangan. "Data ini sangat penting untuk mengetahui perkembangan desa-desa transmigrasi sejak awal penempatan. Dengan mengetahui lokasi dan jumlah transmigran, kita dapat menganalisis dampak sosial, ekonomi dan budaya yang ditimbulkan," ujar Marselianus saat diwawancari Papuapos Nabire di ruang kerjanya, Senin (18/11/2024).
Lanjut Marselianus, data ini juga akan digunakan sebagai dasar dalam menyusun program-program pembangunan desa transmigrasi ke depannya. "Kami akan fokus pada peningkatan kualitas hidup masyarakat transmigrasi, pengembangan ekonomi lokal, serta pelestarian lingkungan," tegasnya.
Tambahnya, pada awalnya, program transmigrasi di Nabire lebih fokus pada pengembangan sektor pertanian. "Para transmigran diberikan lahan untuk bercocok tanam berbagai jenis komoditas, seperti padi, sayur-mayur dan buah-buahan," menurutnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, fokus program transmigrasi semakin beragam. Selain sektor pertanian, juga dikembangkan sektor perikanan, peternakan dan usaha kecil menengah. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan para transmigran dan diversifikasi ekonomi daerah.
"Kami berharap data historis ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua," tutup Kepala Disnakertrans. Dengan memahami sejarah transmigrasi di Nabire, kiranya dapat merumuskan kebijakan yang lebih tepat untuk mengembangkan wilayah ini ke depan.(sam)
Bagikan artikel ini



