NABIRE – Dua anak di dalam Kota Nabire, diketahui dalam status reaktif dari hasil pemeriksaan rapid test yang dilaksanakan tim medis dari Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Nabire. Kedua anak tersebut dicurigai terpapar dari ayahnya yang sudah dinyatakan positif corona berdasarkan pemeriksaan swab Balai Penelitian Kesehatan Kementerian Kesehatan di Jayapura. Dengan diketahui dua anak dalam status reaktif terhadap pemeriksaan virus corona tingkat awal, kini di Nabire, virus corona terpapar di empat anak. Dua anak yang ditemukan terpapar virus corona sebelumnya, kini sudah positif corona yang sementara menjalani isolasi mandiri. Juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Nabire, dr. Frans Sayori saat jumpa pers di Ruang Rapat Bupati Nabire, Senin (4/5/2020) mengungkapkan, hingga Senin (4/5) disamping 16 orang yang dinyatakan positif berdasarkan pemeriksaan dari Balai Kesehatan Jayapura, kini ada penambahan baru sebanyak 48 orang dalam pemantauan (ODP) di Kabupaten Nabire. Dari 48 ODP yang ada, dua diantaranya anak-anak. Juru bicara, Frans Sayori saat dimintai keterangan secara terpisah menjelaskan, dua anak tersebut, anaknya salah satu orang positif corona (Um) yang sedang menjalani karantina mandiri di Sanoba. Dua anak terpapar karena, ayahnya tidak disiplin menjalankan karantina mandiri dan suka keluar mengunjungi keluarganya sehingga anak-anaknya terpapar. Sebelumnya, saat jumpa pers yang dipimpim Sekretaris Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Nabire, Daniel Maipon didampingi Ketua Harian Tim Gugus Tugas Covid-19, Victor Fun, dr. Sayori menjelaskan, pasien corona positif atas nama Um, kurang disiplin dan banyak keluhan. Padahal, kata Sayori, sebelum menjalani isolasi mandiri, mereka sudah menandatangani surat pernyataan akan menjalani isolasi mandiri biaya sendiri dan mandiri. Dengan surat pernyataan ini, kalau sudah positif, tidak melakukan kontak dengan siapa-siapa, keluar kamar saja tidak. Tetapi, Um yang sudah positif, tidak serius dengan surat yang pernah ditandatangani sendiri. Sekretaris Daerah (Sekda) yang juga Sekretaris Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Nabire, Daniel Mapion dalam jumpa pers mengatakan, 13 orang positif corona menjalani isolasi mandiri di Sanoba, di pesantern milik aliran yang menggelar Tabliq Akbar Nasional di Gowa, Sulawesi Selatan sesuai dengan kesepakatan bersama antara pemerintah daerah dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sebab, 13 orang yang positif ini merupakan kelompok yang datang dengan perahu jolor, 17 April yang turun di Kalibobo, mereka pulang mengikuti Tabliq Akbar yang terakhir, secara nasional Klaster Gowa ini sebagai penyebar corona di Indonesia.  Maipon menegaskan, isolasi mandiri berarti, isolasi dengan biaya sendiri, mandiri, keluarga lain hanya melengkapi kebutuhan. Tetapi, demi kemanusiaan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nabire membantu mereka (13 orang positif corona) memberikan makanan tiga kali sehari ditambah dengan fasilitas tidur. Seharusnya, isolasi mandiri berarti menangggung sendiri. Sementara itu, Jubir Tim Gugus Tugas Covid-19, dr. Frans Sayori menjelaskan, mereka (positif corona) menjalani isolasi mandiri karena masih sakit ringan, orang tanpa gejala (OTG). Selama menjalani isolasi mandiri, pelayanan medis tetap dilayani oleh tim medis Covid-19 dan Puskesmas.  Sayori mengatakan, sementara ini, kondisi positif corona masih sakit ringan, orang tanpa gejala, belum ada yang sakit berat. Kalau ada yang sakit berat, akan dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani isolasi wajib. Orang positif corona dikategorikan dalam 3 kategori, yakni positif corona ringan (tanpa gejala), sedang dan berat. Pasien dengan positif corona sakit sedang dan berat, dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani karantina wajib dengan mendapat pelayanan dari pemerintah dan tim medis sesuai dengan petunjuk tata laksana penanganan pasien corona positif.  Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Nabire ini menegaskan, penanganan dan pelayanan perawatan wabah Covid di daerah ini mengacu pada petunjuk penanganan virus corona yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk seluruh Indonesia, tidak ada tambahan gerakan dari daerah.(ans/wan)