NABIRE - Berdasarkan laporan dari warga masyarakat, pada Kamis (25/04/24) pukul 00.45 WIT bertempat di Kilometer (Km) 39 Kampung Mosairo telah terjadi bencana alam tanah longsor pada lubang tambang di daerah pertambangan milik PT. Kristalin Eka Lestari (KEL). Dimana, dari keterangan masyarakat, bahwa bencana tanah longsor yang mengakibatkan 2 orang Meninggal Dunia (MD) akibat tertimbun longsor.


Diketahui, korban meninggal dunia atas nama BW (30) dan OE (38) merupakan penambang lokal yang selama ini melakukan aktifitas penambangan tradisional di Sungai Musairo dan menjadi daerah kawasan pertambangan milik PT. Kristalin Eka Lestrai (KEL) Nabire.  


Kronologi kejadian menyebutkan, pada 24 April 2024 pukul 22.45 WIT, beberapa masyarakat mulai berdatangan di lubang Km 39  Kampung Mosairo Distrik Makimi Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah untuk melakukan pendulangan emas. Kemudian, pada pukul 23.05 WIT, kejadian bencana alam longsor terjadi, dimana 2 orang tidak berhasil kabur, sehingga tertimbun dan mengakibatkan korban meninggal dunia.


Selanjutnya, pada pukul 23.10 WIT, excavator melakukan penggalian dan berhasil menemukan 2 orang tersebut dan memastikan pada lokasi bahwa tidak ditemukan adanya korban lagi. Pukul 23.25 WIT, kedua korban selanjutnya dibawa menuju Puskesmas Lagari Jaya bertempat di SP 1, Kampung Lagari Jaya, Distrik Makimi, Nabire Papua Tengah, untuk ditangani secara medis.


Menurut informasi, diketahui KM 39, Kampung Mosairo, Makimi, Nabire merupakan lubang tambang di daerah pertambangan milik Kristalin Eka Lestari.
Sementara itu, Humas Kristalin Eka Lestrasi Maria Erari saat dihubungi wartawan, kemarin mengatakan, benar telah terjadi bencana longsor di Km 38 Mosairo yang mengakibatkan 2 korban meninggal dunia. Dan salah satu korban masih mempunyai hubungan keluarga dengan dirinya.


“Sebenarnya kejadian ini kalau dibilang ini sudah ketiga kalinya terjadi di areal tambang PT. Kristalin. Jadi bekas lubang-lubang galian yang setelah digarap oleh perusahaan seharusnya ditutup ulang, dan kami sudah berusaha tutup, tetapi dihalangi oleh masyarakat, bahkan dengan panah dan lain sebagainya. Dan mereka melawan untuk harus kerja dibekas galian tadi. dan pasti akan terjadi longsor, dan itu memang berbahaya,” ungkapnya.


Lanjut Maria, perusahaan tidak pernah menyuruh warga masyarakat untuk melakukan aktifitas penambangan di areal PT. KEL, tetapi, pada kenyataannya, selalu saja warga masyarakat ini tidak mengindahkan larangan untuk tidak boleh menambang di daerah tersebut. Ini kejadian yang ketiga kalinya, bahkan surat pernyataan yang telah ditandatangani oleh warga masyarakat yang melakukan aktifitas penambangan di areal PT. KEL tidak juga diindahkan yang notabenenya sangat berbahaya.


Menurutnya, pihak perusahan dan masyarakat adat selama ini sudah terus berupaya dan berpuluh-puluh kali, serta mengimbau kepada warga masyarakat, agar tidak melakukan aktifitas penambangan di areal tambang, tetapi tidak pernah dilaksanakan atau diindahkan. Ini yang menjadi persoalan, padahal pihak perusahaan selalu dan terus berupaya melakukan pendekatan secara person kepada warga masyarakat.      


“Saya harus klarifikasi supaya jangan ada persoalan yang timbul akibat peristiwa ini, intinya bahwa dua orang korban bukan karyawan dari PT. KEL, tetapi warga masyarakat yang melakukan aktifitas pendulangan secara tradisional dan illegal di areal kami, dan kami tidak pernah mengijinkan siapapun melakukan aktifitas di pendulangan lahan produksi milik PT. KEL, tetapi mereka sendiri melawan dan masuk di areal kami,” tuturnya.


Dari kejadian tersebut, PT. KEL sebagai perusahaan yang mempunyai hati, memberikan bantuan kepada keluarga korban berupa uang duka dan Sembako untuk keluarga korban, sehingga hal ini menjadi perhatian bersama dan diharapkan kedepannya tidak ada lagi korban di areal pertambangan milik PT. KEL yang sifatnya illegal.


“Kami dari pihak KEL mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya, dan turut berduka cita atas musibah terjadinya longsor di Km 39, semoga keluarga yang tinggalkan diberikan kekuatan dan penghiburan dari Tuhan Yesus Kristus,” pungkas Maria Erari.(cad)