NABIRE - Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Nabire, Rabu sore kemarin turun ke lapangan guna menangani pertikaian antarsuku yang terjadi sejak Senin, 5 Juni 2023 kemarin. Kejadian ini dikabarkan 2 orang warga meninggal dunia. 

Hingga Rabu petang kemarin, aparat keamanan dipimpin Kapolres Nabire AKBP I Ketut Suarnaya, S.IK, SH, didampingi Dandim 1705 Nabire Letkol Inf. Doni Firmansyah, M.han bersama Bupati Nabire dan Bupati Paniai melakukan mediasi guna penyelesaian masalah tersebut. 

Walaupun belum ada keterangan resmi dari pihak berwajib, namun sore kemarin Kapolres Nabire ketika dihubungi awak media ini menerangkan pihaknya bersama pemerintah daerah kini dalam proses mediasi konflik yang dipicu masalah sengketa lahan atau tanah di sekitar lokasi kejadian di Kampung Urumusu Distrik Uwapa, Kabupaten Nabire Provinsi Papua Tengah.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ignatius Benny Ady Prabowo dalam keterangannya mengatakan, kerusuhan ini terjadi setelah adanya pencabutan tapal batas lokasi tanah adat di Kampung Urumusu, Distrik Uwapa, Nabire pada Senin (5/6) sekitar pukul 12.00 WIT.

Awalnya, lanjut Kabid Humas, plang tapal batas tanah adat diklaim secara sepihak oleh Suku Dani yang menyerobot tanah milik Suku Mee dan masyarakat di Distrik Topo. Kedua suku pun saling serang sebelum persoalan itu dimediasi.

"Namun kenyataannya terjadi saling serang antara Suku Mee dan Suku Dani," paparnya Selasa malam kemarin. 

Benny mengungkap, kedua suku saling serang menggunakan senjata tajam. Akibatnya 2 warga dilaporkan tewas usai mengalami luka bacok senjata tajam dan anak panah.

Kapolres Nabire AKBP I Ketut Suarnaya menambahkan, kasus tersebut saat ini tengah ditangani. Pihaknya sudah menurunkan personel di lokasi demi menghindari kericuhan susulan.

"Kami Polres Nabire melakukan upaya mediasi antara Suku Mee dengan Suku Dani untuk mencari solusi penyelesaian masalah tapal batas ini," ucap Kapolres Nabire.(wan)